Mojokerto – Jalanan yang biasanya dilalui kendaraan, pagi itu berubah menjadi hamparan sajadah. Di Dusun Bicak, Lebaran tak hanya dirayakan di dalam masjid, tetapi meluas hingga ke setiap sudut, seolah bumi ikut menjadi tempat bersujud bagi ratusan jamaah yang datang dengan satu tujuan: merayakan kemenangan.
Pelaksanaan Salat Idul Fitri 1447 Hijriah di Masjid Al-Mubarok, Dusun Bicak, Desa Bicak, Kecamatan Trowulan, Sabtu (21/03/2026), dipadati sekitar 700 jamaah. Sejak subuh, warga sudah berdatangan hingga kapasitas masjid tak lagi mampu menampung seluruh jamaah. Akibatnya, sebagian warga menggelar sajadah hingga ke jalan dan depan rumah sekitar, menjadikan kawasan tersebut penuh sesak oleh lautan manusia.
Sholat Id dimulai pukul 05.45 WIB dengan Ustadz Marsus (55) sebagai imam. Di bawah langit cerah dan sinar matahari pagi yang mulai terasa hangat, ibadah berlangsung tertib dan khusyuk tanpa kendala berarti. Pemandangan barisan jamaah yang rapi, mulai dari laki-laki, perempuan, hingga anak-anak, memperlihatkan kuatnya semangat kebersamaan masyarakat setempat.
“Alhamdulillah, pelaksanaan sholat Idulfitri tahun ini berjalan lancar dengan jumlah jamaah yang meningkat, ini menunjukkan semangat kebersamaan dan keimanan masyarakat semakin kuat,” ujar Ustadz Marsus.
Khutbah Idul Fitri yang disampaikan Kusmayadi (45) mengangkat tema “Kematian Pasti Akan Datang”. Dalam pesannya, ia mengingatkan jamaah akan pentingnya memperbanyak amal dan bertaubat, terutama setelah menjalani ibadah Ramadan. Suara khutbah yang menggema melalui pengeras suara terdengar hingga barisan paling belakang, menambah kekhidmatan suasana pagi itu.
Di balik kelancaran pelaksanaan ibadah, terdapat peran besar para takmir masjid dan warga yang bekerja sejak malam takbiran. Mereka bergotong royong membersihkan area, menyiapkan pembatas shaf, hingga menutup sebagian jalan untuk menampung jamaah. Karpet dibentangkan, perlengkapan sound system dipasang, dan warga pun turut membawa sajadah masing-masing sebagai bentuk kesiapan.
Bagi masyarakat, momen ini bukan sekadar ibadah rutin, melainkan pertemuan penuh makna setelah satu bulan menjalani puasa. Kebersamaan yang tercipta terasa lebih kuat, seolah menghapus jarak dan menyatukan hati dalam suasana yang hangat.
“Saya merasa sangat bersyukur bisa kembali melaksanakan sholat ied bersama warga, semoga setelah Ramadan ini kita semua bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan tetap istiqomah dalam beribadah,” tutur Andreyan (29), salah satu jamaah.
Usai salat dan doa bersama, suasana berubah menjadi penuh kehangatan. Jamaah saling bersalaman, senyum dan haru tampak menghiasi wajah-wajah yang sebelumnya khusyuk dalam ibadah. Anak-anak berlarian kecil, sementara orang dewasa saling memaafkan, mempererat kembali tali silaturahmi.
Di Dusun Bicak, Lebaran bukan sekadar perayaan, melainkan bukti nyata kebersamaan. Ketika masjid tak lagi cukup menampung, jalanan pun rela menjadi saksi sujud, menyatukan ratusan hati dalam satu doa yang sama.
