Jember – Air yang semula mengalir tenang berubah menjadi ancaman. Luapan sungai merendam permukiman, memaksa ribuan warga bertahan di tengah genangan setinggi dada orang dewasa. Pemerintah Kabupaten Jember pun menetapkan status tanggap darurat hingga [26 Februari 2026] sebagai respons atas meluasnya banjir di sejumlah wilayah.
Bupati Jember, Gus Fawait, memaparkan perkembangan terkini penanganan bencana tersebut dalam program Jurnal Nusantara di Kompas TV, Senin (16/2/2026), melalui sambungan daring. Berdasarkan data resmi Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Jember, banjir berdampak pada 7.445 kepala keluarga di 23 desa yang tersebar di 10 kecamatan. Ratusan warga sempat mengungsi ke lokasi yang lebih aman, sementara satu korban jiwa dilaporkan meninggal dunia akibat tersengat listrik saat membersihkan rumahnya dari genangan air.
Wilayah yang terdampak cukup parah antara lain Desa Nogosari dan Rambipuji di Kecamatan Rambipuji, serta Desa Glundengan di Kecamatan Wuluhan. Ketinggian air dilaporkan mencapai 1 hingga 1,5 meter setelah dua sungai utama meluap.
Banjir dipicu meluapnya Sungai Bedadung dan Sungai Dinoyo yang berhulu di kawasan Pegunungan Argopuro. Intensitas hujan tinggi dalam beberapa hari terakhir membuat debit air meningkat drastis hingga meluber ke kawasan permukiman di sepanjang daerah aliran sungai. Kondisi ini diperparah dengan daya tampung sungai yang dinilai tidak lagi optimal menahan volume air kiriman dari hulu.
“Keselamatan warga menjadi prioritas utama. Kami bergerak cepat bersama seluruh unsur terkait untuk memastikan penanganan berjalan optimal,” ujar Gus Fawait.
Sejak penetapan status tanggap darurat yang berlaku mulai Rabu (12/2/2026), pemerintah daerah mengerahkan tim gabungan untuk melakukan evakuasi, mendirikan posko darurat, serta mendistribusikan bantuan logistik bagi warga terdampak. Koordinasi lintas instansi juga diperkuat guna memastikan kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, dan layanan kesehatan terpenuhi.
Selain penanganan darurat, Pemkab Jember mulai menyusun langkah pemulihan pascabencana. Perbaikan tanggul yang jebol, normalisasi aliran sungai, hingga pembenahan sistem drainase menjadi prioritas agar kejadian serupa tidak terulang. Pemerintah juga mengkaji penguatan sistem mitigasi berbasis data dan peringatan dini untuk meminimalkan risiko ke depan.
Kondisi di sebagian besar wilayah terdampak kini dilaporkan berangsur membaik. Air mulai surut dan warga yang sebelumnya mengungsi telah kembali ke rumah masing-masing untuk membersihkan lumpur dan memperbaiki kerusakan ringan. Meski demikian, kewaspadaan tetap ditingkatkan mengingat potensi hujan lebat masih mengintai.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika mengingatkan kemungkinan cuaca ekstrem berupa hujan deras dan angin kencang dalam sepekan ke depan. Pemerintah daerah pun mengimbau masyarakat, terutama yang tinggal di bantaran sungai, agar siaga terhadap potensi banjir susulan.
Peristiwa banjir Jember 2026 ini menjadi peringatan penting bahwa penguatan infrastruktur dan sistem mitigasi bencana tak bisa ditunda. Pemerintah daerah menegaskan komitmennya untuk tidak hanya menangani dampak jangka pendek, tetapi juga membangun ketahanan wilayah demi keselamatan dan kesejahteraan masyarakat.
