Malalo – Suasana mencekam menyelimuti Nagari Malalo, Kecamatan Batipuh Selatan, Kabupaten Tanah Datar, sejak Senin malam (24/11/2025). Hujan deras memicu longsor yang menghancurkan jembatan utama dan memutus total akses warga ke pusat aktivitas. Warga terjebak dalam kondisi tanpa air bersih, logistik terbatas, dan rasa takut akan bencana susulan.
Di rumah-rumah yang berada di lereng bukit, malam terasa panjang dan menegangkan. Beberapa warga berjaga dengan senter seadanya, waspada terhadap potensi longsor berikutnya. Anak-anak menangis, para lansia dicekam kecemasan, dan sebagian keluarga bahkan memilih tidak tidur demi kesiapsiagaan.
“Kami benar-benar terjebak. Tidak bisa ke pasar, tidak bisa ambil air. Suara tanah terus bergerak dan anak-anak terus menangis ketakutan,” ungkap Siti Aminah, seorang ibu rumah tangga.
Senada dengan itu, Hendra, petani setempat, mengaku cemas kehilangan hasil panennya jika hujan deras kembali mengguyur malam ini. “Kebun kami belum sempat dipanen. Kalau longsor lagi, habis semuanya,” katanya lirih.
Mendengar laporan tersebut, anggota DPR RI dari Sumatera Barat, M. Shadiq Pasadigoe, langsung angkat bicara. Ia menekankan pentingnya tindakan cepat dari seluruh pemangku kepentingan.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Malalo menghadapi malam penuh ketegangan. Setiap jam tanpa aksi darurat hanya menambah risiko. Kita tidak bisa tinggal diam,” kata Shadiq dalam pernyataannya.
Ia menyerukan agar pemerintah kabupaten, provinsi, hingga kementerian terkait segera bergerak. Menurutnya, bencana ini bukan sekadar soal logistik dan infrastruktur, tetapi menyangkut keselamatan jiwa ratusan warga.
“Akses putus ini soal hidup dan mati. Anak-anak, lansia, dan keluarga terjebak tanpa bantuan. Jangan tunggu korban baru bertambah,” tegasnya.
Shadiq juga mengajak masyarakat untuk bersama mengawal informasi, memberi dukungan, dan mendorong penanganan darurat sesegera mungkin. Ia memastikan dirinya akan mengupayakan dukungan dari pusat untuk perbaikan infrastruktur dan penanganan titik rawan longsor.
“Keselamatan warga adalah prioritas. Malalo tidak boleh dibiarkan dalam gelap dan bahaya. Ini panggilan kemanusiaan,” pungkasnya.
Dengan kondisi tanah masih labil dan potensi hujan masih tinggi, warga Malalo berharap pertolongan datang sebelum keadaan semakin memburuk. Penanganan cepat menjadi satu-satunya harapan mengakhiri malam penuh kecemasan itu.
