Bondowoso — Bagi sebagian anak muda, bekerja di kota besar menjadi impian. Namun bagi Mustajib Billah Dwi Saputro (20), kepastian pengeluaran yang terkendali justru membuatnya memilih kembali ke kampung halaman. Lulusan Tata Boga SMKN 2 Bondowoso ini sebelumnya bekerja di sebuah restoran di Jember dengan gaji Rp 2,3 juta. Namun, biaya kos Rp 350.000 per bulan dan kebutuhan makan harian membuat penghasilannya tak tersisa banyak.
“Paling irit makan Rp 15.000 per sekali makan. Lama-lama, kata ibu, ya nggak sumbut,” tutur Mustajib.
Kesempatan baru muncul setelah ia melihat informasi lowongan di media sosial. Satuan Pengelola Program Gizi (SPPG) “Bondowoso Badean 2” membuka rekrutmen untuk Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah. Mustajib melamar dan langsung diterima di bagian persiapan.
Di tempat baru ini, Mustajib menerima sistem pembayaran harian Rp 100.000, diserahkan dua minggu sekali. Gajinya memang lebih kecil dari pekerjaan sebelumnya, tetapi biaya hidup jauh lebih ringan.
“Meski gajinya lebih kecil dibanding di Jember, tinggal bersama orang tua membuat pengeluaran jauh lebih hemat. Saya cocok dengan sistem kerja di sini,” ujarnya.
Ia melihat sisi lain dari program ini: peluang kerja yang terbuka untuk lulusan SMA tanpa batasan usia, sesuatu yang jarang ia temui ketika melamar di sektor kuliner sebelumnya.
Pusat Produksi Beroperasi 24 Jam
SPPG Bondowoso Badean 2 menjadi salah satu simpul penting operasional MBG di daerah itu. Untuk memastikan pasokan makanan bergizi bagi ribuan pelajar, pengolahan dilakukan penuh selama 24 jam. Divisi persiapan bekerja malam hari, disusul pengolahan dan pemorsian di dini hari, hingga distribusi yang mulai bergerak sejak pukul lima pagi.
Menurut Kepala SPPG Bondowoso Badean 2, Yulia Linda Lestari (24), pengaturan shift ini memberi fleksibilitas bagi pekerja, khususnya mereka yang memiliki tanggung jawab keluarga.
“Operasional 24 jam membuat kami bisa menyesuaikan kebutuhan pekerja tanpa menghambat produksi,” ujarnya.
Yulia—lulusan Gizi Universitas Jember yang kini bertugas melalui program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI)—mengungkapkan bahwa proses perekrutan mengutamakan warga lokal Bondowoso. Di unit yang ia pimpin, terdapat 50 pekerja dengan rentang usia 18 hingga 51 tahun, tersebar di berbagai divisi seperti pengolahan, pemorsian, distribusi, kebersihan, keamanan, hingga cuci ompreng.
Dampak Ganda: Gizi untuk Anak, Pekerjaan untuk Warga
Program MBG di Bondowoso mulai berjalan pada 6 Oktober 2025. Di unit Badean 2 saja, program ini melayani 3.264 penerima manfaat dari tujuh satuan pendidikan, mulai dari PAUD hingga sekolah menengah. Kegiatan produksi berlangsung saban hari untuk memastikan anak-anak mendapat asupan berkualitas.
“Program ini tidak hanya menjawab kebutuhan gizi anak sekolah, tetapi juga membuka lapangan kerja bagi masyarakat tanpa batasan usia,” kata Yulia.
Bagi Mustajib dan puluhan pekerja lainnya, program ini tidak sekadar pekerjaan. Ini adalah jalan menuju penghasilan yang lebih stabil, kehidupan yang lebih terjangkau, dan kesempatan bekerja di tanah kelahiran sendiri sesuatu yang bagi banyak anak muda, justru semakin bernilai hari ini.
