Bondowoso — Kehadiran Satuan Pelayanan pemenuhan Gizi (SPPG) “Bondowoso Badean 2” menjadi angin segar bagi warga lokal yang selama ini kesulitan menemukan pekerjaan dengan jadwal dan persyaratan yang lebih fleksibel. Sejak beroperasi pada 6 Oktober 2025, fasilitas ini telah menjadi tumpuan bagi 50 pekerja lokal dari berbagai latar belakang usia dan pendidikan.
Di bawah kepemimpinan Yulia Linda Lestari (24), lulusan Gizi Universitas Jember, SPPG menjalankan satuan pelayanan pemenu gizi untuk 3.264 siswa dari tujuh sekolah di Bondowoso. Operasional berlangsung 24 jam dengan pembagian tugas mulai dari persiapan, pengolahan, pemorsian, distribusi, kebersihan, hingga pencucian peralatan.
“Sejak dibuka, kami memastikan rekrutmen mengutamakan warga lokal. Tujuannya bukan hanya menyediakan makanan bergizi, tetapi juga memberi dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar,” ujar Yulia.
Peluang Baru untuk Anak Muda
Bagi sebagian besar pekerja muda, SPPG menjadi kesempatan langka untuk memperoleh pekerjaan formal tanpa syarat usia ketat.
Salah satunya Mustajib Billah Dwi Saputro (20), lulusan Tata Boga asal Kelurahan Tamansari. Sebelum bergabung, ia bekerja di restoran di Jember dengan biaya hidup yang tinggi. Di SPPG, ia menerima upah harian Rp100.000 dengan sistem pembayaran dua mingguan.
“Yang penting bisa kerja dekat rumah. Biaya hidup lebih ringan, dan pekerjaan juga sesuai jurusan,” kata Mustajib yang kini bertugas di bagian persiapan.
Ruang Bekerja bagi Ibu Rumah Tangga
SPPG juga menjadi tempat bergantung bagi banyak ibu rumah tangga yang membutuhkan pekerjaan dengan jam kerja menyesuaikan kondisi keluarga.
Niken Cahyaning Aditya Rosalina (29), warga Dabasah, sebelumnya tidak memiliki pekerjaan tetap. Dengan satu anak berusia tiga tahun, ia memanfaatkan shift malam agar tetap bisa mengurus rumah pada pagi hari.
“Kalau malam saya kerja, anak bisa dijaga suami atau ibu. Jadi saya tetap bisa punya penghasilan tanpa meninggalkan tanggung jawab di rumah,” ujarnya.
Pendapatan yang ia terima kini menjadi penopang tambahan untuk biaya kebutuhan rumah tangga dan pendidikan anak.
Membuka Akses bagi Beragam Kelompok Usia
Dengan rentang usia pekerja antara 18 hingga 51 tahun, SPPG menampung tenaga kerja dari berbagai jenjang pengalaman—termasuk mereka yang seringkali tersisih dari persyaratan ketat dunia kerja formal.
Pekerja paling muda berada di divisi distribusi, sementara yang tertua bertugas di pengolahan, menunjukkan bahwa kesempatan bekerja tersedia untuk berbagai kategori usia.
Pusat Pertumbuhan Ekonomi di Level Lokal
Kehadiran SPPG Bondowoso memunculkan dinamika ekonomi baru di tingkat kelurahan dan desa sekitar. Selain menyediakan gizi untuk ribuan siswa, SPPG menjadi titik penghidupan bagi puluhan keluarga yang kini memiliki pendapatan lebih stabil.
Bagi masyarakat Bondowoso, SPPG bukan hanya fasilitas pemenuhan gizi, tetapi juga penopang ekonomi lokal—tempat anak muda, ibu rumah tangga, hingga pekerja berpengalaman dapat bergantung untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga.
