Guru kampung sederhana mungkin tidak terkenal di luar kampungnya. Tapi di sepanjang Sungai Mahakam, merekalah penjaga tradisi Islam yang diwariskan sejak dakwah Tuan Tunggang Parangan. Dari tangan mereka, anak-anak belajar huruf hijaiyah, orang tua mendapat nasihat pernikahan, hingga masyarakat menemukan arah dalam konflik adat.
Setelah Raja Mahkota Mulia Islam memeluk Islam, istana Kutai menjadi pusat pembelajaran agama. Dakwah Tuan Tunggang Parangan bukan hanya mempengaruhi istana, tapi juga melahirkan para murid lokal. Anak-anak bangsawan dan pejabat menjadi santri pertama yang mempelajari dasar-dasar syariat.
Lambat laun, para murid ini keluar dari istana. Mereka menjadi imam dan khatib, guru mengaji di langgar, serta tokoh agama kampung. Dari sinilah terbentuk jaringan ulama lokal Kutai—orang-orang Kutai asli yang meneruskan dakwah secara turun-temurun.
Masjid dan langgar yang menjamur di sepanjang Mahakam menjadi sekolah alami ulama. Pagi dan sore hari digunakan untuk belajar Al-Qur’an, malam untuk pengajian dewasa. Metode talaqqi sederhana cukup melahirkan generasi yang memahami fikih dasar dan akhlak. Yang menonjol naik kelas: dari guru ngaji, menjadi imam, hingga pemimpin pengajian besar.
Ulama juga dihadapkan pada tantangan adat. Mereka harus mengharmonikan nilai Islam dan budaya Kutai. Tradisi netral seperti kenduri dan gotong royong diberi nuansa Islami. Adat yang bertentangan mulai diarahkan. Ulama menjadi jembatan budaya dan agama, sekaligus penengah dalam konflik sosial.
Tak sedikit dari mereka yang menimba ilmu ke luar Kutai: ke pesantren di Jawa, Bugis, atau Kalimantan Selatan. Sepulangnya, mereka membawa sistem pengajaran yang lebih terstruktur. Lahir pesantren, madrasah diniyah, hingga pengajian kitab berat.
“Dakwah itu bukan hanya ceramah, tapi proses membentuk karakter masyarakat lewat ilmu yang berkelanjutan,” tulis Samsir dalam Jurnal Ri’ayah (2018).
Kini, kita masih bisa melihat warisan itu: masjid tua yang ramai, haul para guru mengaji, hingga silsilah keilmuan yang menjadi kebanggaan. Ulama-ulama Kutai mungkin tak banyak dikenal luas, tapi jasa mereka hidup dalam setiap doa dan bacaan Qur’an masyarakat Mahakam.
