Langkah monumental dilakukan Sultan Kutai Kartanegara setelah resmi memeluk Islam: membangun masjid pertama di Kutai Lama. Keputusan ini bukan hanya bernilai religius, tapi juga strategis. Masjid itu menjadi pusat dakwah, pendidikan, dan simbol resmi lahirnya peradaban Islam di Kalimantan Timur.
Masjid Jami Ad-Dzikra Kutai Lama dipercaya sebagai masjid tertua di wilayah itu, didirikan sekitar awal abad ke-17. Lokasinya berada di pusat pemerintahan kerajaan saat itu, menunjukkan betapa sentralnya peran agama dalam kehidupan sosial-politik kerajaan setelah masuk Islam.
“Masjid menjadi titik awal pembentukan komunitas Muslim yang solid. Dari sinilah nilai-nilai Islam disebarkan,” jelas Samsir dalam jurnalnya, Masuk dan Berkembangnya Islam di Kerajaan Kutai Kartanegara.
Berdirinya masjid ini menandai pergeseran peradaban besar: dari pengaruh Hindu-Buddha ke tatanan sosial berbasis Islam. Di masjid ini pula kegiatan keagamaan rutin dimulai—shalat berjamaah, khutbah Jumat, hingga peringatan Maulid Nabi.
Tak hanya tempat ibadah, masjid juga berperan sebagai pusat pendidikan. Para ulama mengajarkan ilmu agama kepada generasi muda, mencetak kader dakwah lokal. Dalam waktu singkat, masjid menjadi jantung kehidupan spiritual dan intelektual masyarakat Kutai.
Desain arsitektur masjid pun menunjukkan perpaduan budaya: struktur kayu khas Kalimantan berpadu dengan langgam arsitektur Islam. Ini mencerminkan proses akulturasi yang harmonis antara ajaran Islam dan budaya lokal.
Peran masjid semakin penting ketika mulai muncul langgar dan surau di sekitar wilayah kerajaan. Ini menandakan meluasnya jaringan dakwah dan pendidikan Islam di kalangan rakyat biasa.
Keberadaan masjid pertama di Kutai Lama juga menjadi bukti bahwa Islam di wilayah ini berkembang dengan damai dan diterima luas. Tidak ada catatan konflik besar dalam proses Islamisasi, karena pendekatan yang digunakan sangat kontekstual dan inklusif.
Kini, Masjid Jami Ad-Dzikra tak hanya menjadi tempat ibadah, tapi juga situs sejarah penting. Setiap tahun, ribuan pengunjung datang untuk menyaksikan jejak awal Islam di Kutai Kartanegara. Masjid ini menjadi pengingat bahwa dari sebuah bangunan sederhana, sebuah peradaban bisa lahir dan berkembang.
