Rasa eksotis terpancar dari setiap tusukan sate payau, kuliner khas Kalimantan Timur yang berbahan dasar daging rusa. Tidak hanya istimewa karena kelezatannya, hidangan ini juga membawa nuansa budaya dan adat yang kuat dari tanah Kutai.
Sate payau memang jarang ditemui di pasaran. Hidangan ini biasanya hanya disajikan dalam festival budaya atau upacara adat suku Dayak. Kelangkaan daging rusa yang kini termasuk hewan dilindungi menjadikan sate ini sulit didapat dan bernilai tinggi.
Layaknya sate pada umumnya, sate payau disajikan dalam potongan-potongan daging yang ditusuk bambu. Proses memasaknya dilakukan dengan cara dibakar di atas bara api, lalu disiram saus kacang atau kecap manis yang gurih dan pedas.
Bumbu untuk sate payau dibuat dari cabai merah keriting, bawang putih, tomat, gula merah, dan kecap. Setelah direbus, bahan tersebut dihaluskan dan dicampur dengan minyak goreng untuk kemudian digunakan sebagai bumbu rendaman maupun olesan saat pembakaran.
Meski tampil sederhana, sate payau membawa makna yang dalam bagi masyarakat setempat. Daging rusa bukan hanya makanan, tetapi simbol kekuatan dan ketangguhan, karena hewan ini dahulu diburu dengan keberanian dan ketangkasan.
Kini, karena status perlindungannya, daging rusa hanya boleh dikonsumsi dalam jumlah terbatas dan dalam acara tertentu yang memiliki izin. Meski demikian, semangat menjaga kuliner tradisional tetap hidup, baik dengan menghadirkan cita rasa serupa dari daging alternatif maupun mengabadikannya lewat dokumentasi budaya.
Sate payau biasanya disajikan dengan nasi putih hangat dan semangkuk sup segar. Perpaduan ini menciptakan keseimbangan rasa yang lezat dan menyegarkan.
Jika Anda berkesempatan mencicipinya dalam festival budaya di Kalimantan Timur, jangan ragu untuk mencoba. Rasanya tak hanya menggoyang lidah, tapi juga membawa Anda menyelami sejarah panjang masyarakat Kutai.
