Makna kedekatan menjadi inti dalam ibadah qurban. Kata “qurban” berasal dari bahasa Arab “qurbaan” (قربان) yang berarti “dekat”. Dalam ajaran Islam, ibadah ini tak sekadar penyembelihan hewan, tetapi juga simbol pendekatan diri secara spiritual kepada Allah SWT.
Menurut Buku Saku Fiqih Qurban (2022), istilah qurban dikenal juga dengan sebutan udhhiyah, yakni penyembelihan hewan ternak tertentu pada hari Iedul Adha dan hari-hari Tasyriq. Tujuannya satu: mendekatkan diri kepada Allah SWT atas nikmat yang telah diberikan.
Tiga ayat Al-Qur’an menyinggung langsung istilah qurban: surah Al-Maidah ayat 27 tentang kisah Habil dan Qabil; Al-Ahqaf ayat 28 tentang berhala yang tidak mampu memberikan pertolongan; dan Ali Imran ayat 183 tentang orang-orang Yahudi yang meminta bukti kenabian berupa qurban yang dimakan api.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda: “Shalat adalah qurban (pendekatan diri) dan puasa adalah perisai.” (HR Ahmad 15284). Hal ini menegaskan bahwa qurban adalah salah satu jalan penting untuk mendekatkan hati dan jiwa kepada Tuhan.
Dari kisah dua putra Nabi Adam AS, kita belajar bahwa qurban yang diterima bukanlah karena bentuknya, melainkan ketakwaan di baliknya. “Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa.” (QS Al-Maidah: 27).
Qurban pun menjadi sarana untuk menyucikan hati dari sifat kikir. Saat seseorang rela menyembelih hewan terbaiknya untuk dibagikan kepada orang lain, sesungguhnya ia sedang melepaskan keterikatan pada dunia demi mendekat pada akhirat.
Tidak hanya individu, qurban juga membentuk ikatan sosial. Saat daging qurban dibagikan, hubungan antar umat semakin erat, dan kebahagiaan tersebar merata. Ini adalah makna qurban dalam bingkai ukhuwah dan kasih sayang.
Melalui qurban, kita diajak menapak jalan takwa, berbagi rezeki, dan menunjukkan cinta sejati kepada Allah. Sebuah perjalanan spiritual yang dimulai dengan pengorbanan, namun berakhir dengan kedekatan yang tak ternilai.
