Padang – Upaya menekan angka stunting di Sumatera Barat kembali dikuatkan melalui Rapat Koordinasi Regional Program Percepatan Penurunan Stunting Tahun 2025, yang digelar di Pangeran Beach Hotel Padang, sejak Rabu hingga Jumat (10/10/2025). Kegiatan ini dihadiri oleh Wakil Bupati Pasaman Barat, H. M. Ihpan, bersama sejumlah pejabat daerah terkait, sebagai bentuk komitmen Pasbar dalam memperkuat sinergi nasional menurunkan angka stunting.
Rakor ini diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dengan mengusung tema “Cegah Stunting Itu Penting.” Hadir langsung Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, serta Plt. Deputi Bidang Dukungan Kebijakan Peningkatan Kesejahteraan dan Pembangunan SDM Sekretariat Wakil Presiden, Dyah Kusumastuti. Turut hadir pula perwakilan dari Kemenko PMK, Bappenas, Kemendagri, Kemendes PDTT, Kemenkes, dan jajaran Bupati/Wali Kota se-Sumatera Barat.
Dalam sambutannya, Gubernur Mahyeldi menegaskan bahwa stunting merupakan bentuk double burden malnutrition (DBM) yang memiliki dampak serius terhadap kualitas sumber daya manusia dan pertumbuhan ekonomi. “Anak yang mengalami stunting akan memiliki perkembangan otak yang tidak optimal sehingga kemampuan kognitif dan produktivitasnya di masa depan menurun. Dampaknya akan berpengaruh langsung terhadap laju pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.
Mahyeldi menyebut bahwa isu penurunan stunting menjadi bagian dari Asta Cita ke-4 pemerintah, yaitu memperkuat pembangunan SDM melalui peningkatan kesehatan dan pendidikan. Data terbaru menunjukkan prevalensi stunting di Sumatera Barat pada 2024 mencapai 24,9 persen, meningkat 1,3 persen dari tahun sebelumnya. Meski demikian, angka wasting atau gizi kurang menurun dari 9,3 persen menjadi 7 persen, menandakan adanya perbaikan dalam asupan gizi masyarakat.
Wakil Bupati Pasaman Barat, H. M. Ihpan, yang hadir bersama Kepala Dinas Kesehatan dr. Gina Alecia, M.Kes, Plt. Kepala Bappelitbangda Dr. Ikhwanri, M.Pd, dan jajaran OPD lainnya, menyampaikan bahwa Pemkab Pasbar berkomitmen kuat mendukung target nasional penurunan stunting. “Komitmen kita dalam penanganan stunting harus nyata dan kolaboratif, demi masa depan anak-anak Pasaman Barat yang lebih sehat dan berkualitas,” ungkapnya kepada GOnews.id, Jumat (10/10/2025).
Ihpan menambahkan bahwa penanganan stunting di Pasbar akan dilakukan secara holistik dan lintas sektor, melibatkan bidang kesehatan, pendidikan, gizi, serta pemberdayaan masyarakat dan nagari. Ia menilai, keberhasilan penurunan angka stunting tidak hanya bergantung pada program medis, tetapi juga pada perubahan perilaku dan pola hidup keluarga.
Sementara itu, Dyah Kusumastuti menekankan pentingnya inovasi daerah berbasis karakteristik wilayah. “Setiap daerah memiliki tantangan berbeda, karena itu program stunting tidak bisa diseragamkan. Inovasi berbasis kearifan lokal menjadi kunci,” ujarnya. Ia menambahkan, secara nasional prevalensi stunting menurun sebesar 27,4 persen dalam 11 tahun terakhir (2013–2024), namun masih diperlukan strategi yang lebih fokus pada pencegahan sejak dini.
Sebagai bagian dari agenda rakor, dilakukan pula penandatanganan komitmen percepatan penurunan stunting antara pemerintah pusat dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, serta pemerintah kabupaten/kota se-Sumbar. Langkah ini diharapkan memperkuat koordinasi dan aksi nyata di lapangan agar prevalensi stunting di daerah dapat ditekan secara signifikan.
Dengan sinergi lintas lembaga dan komitmen daerah seperti yang ditunjukkan Pasaman Barat, diharapkan upaya mempercepat penurunan stunting tidak hanya menjadi slogan, tetapi benar-benar menjadi gerakan nyata demi mencetak generasi Sumatera Barat yang sehat, cerdas, dan berdaya saing.
