Jember – Di balik sejuknya lereng selatan Gunung Hyang Argopuro, masyarakat Panti menyimpan kearifan lokal yang terus mengalir seperti mata air: Tujuh Sumber. Tradisi ini bukan sekadar ritual, melainkan perwujudan filosofi hidup yang menyatukan nilai spiritual, sosial, dan ekologis dalam satu tarikan napas.
Tujuh mata air yang tersebar di beberapa desa di Kecamatan Panti, Kabupaten Jember, dianggap sebagai simbol kehidupan oleh warga setempat. Air dari sumber ini diyakini membawa keberkahan dan keseimbangan, karena dianggap telah menyerap doa dan energi dari alam.
“Bagi kami, air dari Tujuh Sumber bukan sekadar untuk diminum. Ia mengandung makna spiritual. Ada doa, ada berkah, ada pesan kehidupan di dalamnya,” ujar Irham Fidaruzziar, Ketua Karang Taruna Kecamatan Panti.
Menurut Irham, ketujuh mata air itu melambangkan tujuh sifat dasar manusia, seperti keikhlasan dan kesederhanaan. Nilai-nilai tersebut menjadi pedoman masyarakat dalam menjalani hidup sehari-hari. Tradisi puncak dari ritual ini adalah prosesi “Tilik Sumber”, di mana warga berjalan dari satu sumber ke sumber lainnya, membawa doa dan sesaji hasil bumi.
Rangkaian perjalanan spiritual ini dimulai dari Sumber Tunjung di Desa Panti dan berakhir di Sumber Suko di Desa Serut. Masing-masing sumber air memiliki filosofi sendiri: keseimbangan, kesucian, kebahagiaan, dan pengingat akan asal-usul kehidupan manusia.
Puncaknya adalah “Penyatuan Tujuh Sumber”, ketika air dari seluruh sumber dikumpulkan dalam satu kendi besar lalu sebagian dikembalikan ke masing-masing desa. Prosesi ini melambangkan kesatuan, keharmonisan antarwarga, dan hubungan yang setara tanpa saling meninggikan diri.
“Air yang kita satukan ini lambang kebersamaan. Tidak ada sumber yang lebih tinggi atau lebih rendah. Semua memberi kehidupan,” lanjut Irham.
Kepala Desa Kemuningsari Lor juga menegaskan pentingnya Balong Keramat dalam prosesi tersebut. Balong itu menjadi bagian dari sejarah penyebaran Islam oleh Kiai Muhammad Nur, pendiri Pondok Pesantren Nahdlatul Arifin. Tradisi haul Kiai Muhammad Nur tiap tahun dirangkaikan dengan kirab hasil bumi, yang diikuti ribuan warga dari berbagai daerah.
“Kami menjadikan kegiatan ini bukan hanya peringatan keagamaan, tapi juga sarana memperkuat ikatan sosial dan mengenalkan nilai-nilai leluhur kepada generasi muda,” tuturnya.
Tak hanya bernilai rohani, kegiatan ini juga berdampak positif terhadap ekonomi lokal. Selama prosesi berlangsung, warga membuka lapak makanan tradisional dan produk kerajinan, membuat omzet pedagang naik drastis dibanding hari biasa.
Tradisi Tujuh Sumber menjadi bukti bahwa kearifan lokal masih bisa bertahan di tengah arus modernisasi. Dengan menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta, masyarakat Panti terus meneguhkan jati diri mereka sebagai pewaris budaya spiritual dari lereng Argopuro.
