Gowa – Teknologi mulai menjadi “mata dan telinga” baru dalam menghadapi ancaman bencana di Desa Lonjoboko, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Mahasiswa PPK ORMAWA SPACE Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin (FT-UH) melalui Tim LONTARA menggelar Focus Group Discussion (FGD) untuk membahas pengembangan program Pa’biritta berupa website desa serta Sikatutui, sistem pendeteksi dan peringatan dini tanah longsor, Rabu (5/8/2026).
FGD tersebut merupakan kegiatan lanjutan dari rangkaian program kerja PPK ORMAWA SPACE FT-UH yang dilaksanakan bersama pemerintah dan masyarakat Desa Lonjoboko. Melalui forum itu, Tim LONTARA berupaya menyelaraskan kebutuhan masyarakat dengan pengembangan teknologi yang sedang dikerjakan. Pa’biritta dirancang sebagai website desa yang terintegrasi dengan layanan pengaduan masyarakat dan informasi kebencanaan, sedangkan Sikatutui dikembangkan sebagai perangkat pendeteksi serta peringatan dini terhadap potensi tanah longsor.
Kegiatan tersebut melibatkan berbagai unsur pemerintahan dan masyarakat setempat. Sejumlah pihak yang hadir antara lain Sekretaris Desa Lonjoboko, Bintara Pembina Desa (Babinsa), Ketua RW, Ketua RT, kepala lembaga desa, serta masyarakat yang menjadi kelompok sasaran program. Keterlibatan berbagai unsur tersebut diharapkan dapat menghasilkan masukan yang sesuai dengan kebutuhan nyata masyarakat di lapangan.
Dalam pelaksanaannya, Tim LONTARA PPK ORMAWA SPACE FT-UH terlebih dahulu memaparkan perkembangan program Pa’biritta dan Sikatutui. Mahasiswa menjelaskan kemajuan pengembangan website desa beserta layanan pengaduan masyarakat, sekaligus progres perakitan perangkat yang ditujukan untuk mendeteksi dan memberikan peringatan dini terhadap ancaman tanah longsor. Setelah pemaparan, kegiatan dilanjutkan melalui diskusi terbuka bersama perangkat pemerintah desa dan masyarakat.
Anggota Tim LONTARA dari Program Studi Teknik Informatika Universitas Hasanuddin, Ramadhani, menjelaskan pemanfaatan teknologi untuk mendukung mitigasi bencana di tingkat desa masih terbatas. Karena itu, forum diskusi dinilai penting untuk memberikan ruang bagi masyarakat dalam mengenali teknologi yang dikembangkan, menyampaikan pertanyaan, serta memberikan masukan agar sistem tersebut nantinya dapat dimanfaatkan secara optimal.
“Pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) pada hari ini kami ingin menunjukkan salah satu program tim kami dan menggait masukan serta pertanyaan dari perangkat desa maupun masyarakat kelompok sasaran. Ini akan menjadi salah satu sumber informasi kenencanaan bagi masyarakat desa Lonjoboko. Website ini dilengkapi dengan beberapa fitur yang dirancang dengan tampilan sederhana agar mudah dipahami namun tetap interaktif,” jelasnya.
Melalui pengembangan Pa’biritta, masyarakat diharapkan memiliki akses yang lebih mudah terhadap informasi desa, termasuk informasi yang berkaitan dengan kebencanaan. Kehadiran layanan pengaduan yang terintegrasi juga diarahkan untuk membuka jalur komunikasi antara warga dengan pemerintah desa sehingga informasi maupun persoalan yang ditemukan masyarakat dapat disampaikan melalui sistem yang lebih terorganisasi.
Tidak hanya membahas pemanfaatan website, Tim LONTARA turut memperkenalkan rancangan fisik Sikatutui kepada peserta FGD. Pemaparan sekaligus demonstrasi rancangan perangkat pendeteksi dini tanah longsor disampaikan oleh salah seorang anggota Tim LONTARA yang berasal dari Program Studi Teknik Elektro Universitas Hasanuddin. Demonstrasi tersebut memberikan gambaran kepada masyarakat mengenai teknologi yang dirancang untuk mendukung kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana longsor.
Keberadaan alat peringatan dini menjadi bagian penting dari program karena Desa Lonjoboko menjadi lokasi penerapan teknologi mitigasi yang dikembangkan mahasiswa. Melalui pendekatan tersebut, Tim LONTARA tidak hanya membawa rancangan teknologi kepada masyarakat, tetapi juga melibatkan warga dan perangkat desa dalam proses pengembangan. Pola partisipatif ini diharapkan membuat teknologi yang diterapkan lebih sesuai dengan kondisi serta kebutuhan kelompok sasaran.
Sekretaris Desa Lonjoboko, Masnaeni, S.Pd.I., menyambut positif pelaksanaan program yang digagas mahasiswa Universitas Hasanuddin tersebut. Ia mengapresiasi upaya Tim LONTARA dalam menghadirkan program berbasis teknologi yang dapat mendukung kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana.
Menurut Masnaeni, program kerja yang dijalankan Tim LONTARA dinilai sangat baik karena dapat membantu upaya kesiapsiagaan bencana di Desa Lonjoboko. Dukungan pemerintah desa menjadi bagian penting agar program Pa’biritta dan Sikatutui tidak berhenti pada tahap pengembangan, tetapi dapat dipahami dan dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai kelompok sasaran.
FGD tersebut sekaligus menjadi ruang pertemuan antara pengetahuan akademik mahasiswa dan pengalaman masyarakat dalam memahami kondisi lingkungan desa. Masukan yang diperoleh dari perangkat desa serta warga dapat menjadi bahan evaluasi bagi Tim LONTARA untuk menyempurnakan website maupun perangkat peringatan dini yang sedang dikembangkan.
Melalui Pa’biritta dan Sikatutui, PPK ORMAWA SPACE FT-UH bersama Tim LONTARA berupaya memperluas pemanfaatan teknologi hingga tingkat desa, khususnya untuk mendukung komunikasi dan mitigasi bencana. Kolaborasi mahasiswa, pemerintah desa, dan masyarakat diharapkan dapat memperkuat kesiapsiagaan Desa Lonjoboko sekaligus memastikan teknologi yang dikembangkan benar-benar dapat digunakan sesuai kebutuhan warga.
