Surabaya – Keluhan warga melalui hotline Wali Kota Surabaya langsung berbuah tindak lanjut. Pemerintah Kota Surabaya menerjunkan Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, serta Perdagangan (Dinkopumdag) untuk mengecek kondisi Sentra Wisata Kuliner (SWK) Bratang Binangun setelah muncul laporan terkait meja makan yang belum dibersihkan dan fasilitas wastafel yang bocor.
Laporan tersebut diterima Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi dan segera diteruskan kepada jajaran Dinkopumdag pada Selasa (15/9/2026). Persoalan yang disampaikan warga berkaitan dengan sejumlah meja yang masih dipenuhi piring dan peralatan makan bekas meski pengunjung telah meninggalkan tempat, serta kondisi wastafel yang mengalami kebocoran.
“Pemerintah kota sudah menyediakan SWK, setelah itu harus benar-benar dirawat dan dijaga. Mejanya harus dilap, peralatan makan yang sudah selesai digunakan segera diambil. Jangan sampai karena persoalan kebersihan dan wastafel yang bocor, pengajuan menjadi berkurang,” kata Eri Cahyadi, Selasa (15/9/2026).
Eri menilai keberadaan SWK tidak cukup hanya menyediakan ruang berjualan bagi pelaku usaha. Menurut dia, pengelolaan fasilitas, kebersihan, dan kenyamanan pengunjung juga harus menjadi perhatian karena faktor tersebut ikut menentukan minat masyarakat untuk datang.
“Terima kasih atas masukannya, sudah saya telpon Kepala Dinas Koperasi dan turun melakukan pengecekan di sana,” ungkapnya.
Menindaklanjuti instruksi tersebut, Kepala Dinkopumdag Surabaya Mia Santi Dewi mendatangi SWK Bratang Binangun untuk melihat kondisi di lapangan. Dari hasil pemantauan, ia menemukan sejumlah meja yang masih menyisakan piring dan perlengkapan makan meski kursi sudah dalam keadaan kosong.
“Saya ke sini menindaklanjuti adanya keluhan masyarakat di hotline Wali Kota Surabaya. Di SWK Bratang Binangun ini ditemukan meja yang masih banyak piring yang belum dibersihkan atau sudah kosong,” ujar Mia.
Selain mengecek kebersihan, Mia juga berbincang langsung dengan pengunjung untuk mengetahui daya tarik SWK Bratang Binangun. Dari percakapan tersebut, ia memperoleh gambaran bahwa sebagian pengunjung datang dari wilayah yang cukup jauh karena tertarik dengan rasa makanan, harga yang dinilai terjangkau serta fasilitas yang tersedia.
“Setelah saya keliling, saya menemui beberapa pembeli dan mencoba menanyakan kenapa mereka mau makan di sini. Ternyata ada yang datang dari jauh, dari Kenjeran, bahkan ada yang dari Sidoarjo. Alasannya karena makanannya enak, murah, dan fasilitasnya bagus,” tuturnya.
Menurut Mia, temuan itu menjadi catatan penting bagi pemerintah kota. SWK yang sudah memiliki daya tarik dari sisi kuliner dinilai perlu mempertahankan kualitas pelayanan agar pengunjung tidak kecewa hanya karena persoalan kebersihan maupun fasilitas yang kurang terawat.
Ia juga mengapresiasi masyarakat yang menggunakan hotline Wali Kota untuk menyampaikan keluhan. Laporan dari warga dinilai membantu pemerintah mengetahui persoalan secara lebih cepat dan memungkinkan dinas terkait segera melakukan pengecekan.
“Kalau nanti ditemukan lagi kekurangan-kekurangan yang ada di SWK, dapat disampaikan melalui hotline Wali Kota supaya kami dari Dinas Koperasi bisa segera menindaklanjuti,” katanya.
Dinkopumdag menilai keterlibatan masyarakat penting dalam menjaga kualitas SWK. Masukan yang disampaikan secara langsung dapat menjadi bahan evaluasi bagi pengelola dan pemerintah kota, terutama untuk memperbaiki hal-hal sederhana yang berdampak langsung terhadap kenyamanan pengunjung.
“Masukan dari masyarakat akan membuat SWK kita menjadi lebih bagus lagi dan bisa lebih dinikmati oleh masyarakat dengan nyaman,” pungkasnya.
Pemkot Surabaya menegaskan akan terus membuka ruang bagi laporan masyarakat mengenai kondisi fasilitas publik. Untuk SWK Bratang Binangun, tindak lanjut tersebut diharapkan mampu memperbaiki kebersihan, menjaga fasilitas tetap berfungsi, sekaligus mempertahankan daya tarik tempat itu sebagai salah satu tujuan kuliner masyarakat.
