Bontang – Di tengah kemajuan ekonomi yang ditunjukkan oleh Kota Bontang, Kalimantan Timur, yang masuk dalam jajaran 10 kota terkaya di Indonesia dengan nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) mencapai Rp68,11 triliun pada tahun 2023, isu stunting masih menjadi masalah serius yang mendapat sorotan. Salah satu wakil rakyat, anggota DPRD Kota Bontang, Sumardi, mengungkapkan keprihatinannya terhadap minimnya anggaran yang dialokasikan untuk penanganan stunting di kota ini.
Ironi Kota Terkaya dan Minimnya Anggaran Stunting
Sumardi, mengkritisi kenyataan bahwa meskipun Kota Bontang menikmati kenaikan PDRB sebesar Rp5 triliun dari tahun sebelumnya, anggaran yang dialokasikan untuk penanganan stunting justru masih sangat kecil. Berdasarkan data yang diterimanya, alokasi anggaran untuk pemberian makanan bergizi bagi balita yang tersebar di tiga kelurahan dengan prevalensi stunting tertinggi hanya sekitar Rp237 juta.
“Kota Bontang adalah salah satu kota terkaya di Indonesia, tapi anggaran untuk menangani masalah stunting sangat kecil. Ini sangat memprihatinkan, dan kita seharusnya bisa melakukan lebih banyak untuk menyelesaikan masalah ini,” ungkap Sumardi dengan nada prihatin.
Ia juga menyoroti fakta bahwa jumlah dana tersebut harus dibagi untuk Pemberian Makanan Tambahan (PMT) kepada 2.655 anak yang tersebar di posyandu di tiga kelurahan, yaitu Kelurahan Bontang Lestari, Kelurahan Berbas Pantai, dan Kelurahan Tanjung Laut Indah. Alokasi ini dianggap sangat tidak memadai untuk kebutuhan gizi anak-anak di wilayah-wilayah tersebut.
Isu Stunting di Bontang: Tantangan Sosial di Tengah Kemajuan Ekonomi
Meskipun Bontang dikenal sebagai kota dengan pendapatan tinggi, terutama dari sektor industri migas dan petrokimia, alokasi anggaran untuk isu-isu sosial seperti stunting masih dinilai terbatas. Stunting, yang merupakan kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis pada anak-anak balita, telah menjadi perhatian pemerintah pusat. Namun, di tingkat daerah, penanganannya masih sering terkendala minimnya sumber daya.
Menurut Sumardi, masalah ini perlu ditangani dengan lebih serius. Kota Bontang, dengan segala sumber daya yang dimilikinya, seharusnya dapat memberikan perhatian yang lebih besar terhadap isu stunting yang berdampak pada masa depan generasi muda di kota tersebut.
“Stunting bukan hanya soal kekurangan gizi, tetapi juga masalah masa depan anak-anak kita. Jika kita tidak menangani masalah ini dengan cepat dan serius, kita akan melihat dampaknya dalam jangka panjang, baik dari segi kesehatan maupun kemampuan kognitif anak-anak kita,” tegas Sumardi.
Peran Penting Pemerintah Daerah dan Dinas Kesehatan
Dalam rangka mempercepat penanganan stunting, Sumardi mendorong Dinas Kesehatan Kota Bontang untuk membentuk tim khusus yang fokus menangani kasus stunting di wilayah pesisir yang memiliki angka stunting tinggi. Ia menyebutkan bahwa wilayah pesisir, seperti Kelurahan Bontang Lestari dan Berbas Pantai, harus menjadi prioritas utama dalam program-program pencegahan dan penanganan stunting.
“Dinas Kesehatan harus lebih agresif. Kami sudah mendorong untuk membentuk tim khusus yang fokus menangani masalah ini, terutama di wilayah pesisir. Kita tidak boleh menunda-nunda lagi,” ujarnya.
Menurut Sumardi, salah satu langkah yang harus segera dilakukan adalah peningkatan anggaran untuk program-program yang berkaitan dengan pencegahan stunting, seperti pemberian makanan tambahan (PMT), edukasi gizi kepada orang tua, serta peningkatan fasilitas kesehatan di wilayah-wilayah yang rawan stunting.
“Kita harus meningkatkan alokasi anggaran agar program ini bisa berjalan maksimal. Jangan sampai anak-anak kita menjadi korban karena keterbatasan anggaran,” lanjutnya.
Potensi Penyelesaian Masalah Stunting dalam Waktu Singkat
Sumardi menegaskan, dengan komitmen yang kuat dari pemerintah daerah dan dukungan anggaran yang memadai, masalah stunting sebenarnya bisa diselesaikan dalam waktu yang relatif singkat. Ia menyebutkan bahwa dengan program yang tepat sasaran dan pelaksanaan yang konsisten, masalah stunting di Kota Bontang bisa diatasi dalam waktu satu bulan.
“Jika kita fokus dan konsisten, masalah stunting ini bisa diselesaikan dalam waktu satu bulan. Ini bukan hal yang sulit jika ada kemauan politik dan anggaran yang memadai. Kita malu kalau sebagai kota kaya, masalah ini masih ada,” katanya.
Namun, Sumardi juga mengingatkan bahwa penanganan stunting bukan hanya soal penyediaan makanan bergizi, tetapi juga perlu didukung oleh edukasi yang tepat kepada masyarakat, terutama para ibu, tentang pentingnya gizi seimbang bagi pertumbuhan anak.
Pentingnya Sinergi Antar Stakeholder
Untuk memastikan keberhasilan penanganan stunting, Sumardi menekankan pentingnya sinergi antara berbagai pihak, termasuk pemerintah, DPRD, dinas terkait, serta masyarakat. Menurutnya, penanganan masalah stunting tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja, tetapi harus melibatkan seluruh elemen masyarakat, termasuk sektor swasta yang beroperasi di Kota Bontang.
“Saya percaya, jika semua pihak bekerja sama—baik pemerintah, DPRD, dinas terkait, maupun sektor swasta—kita bisa menuntaskan masalah stunting ini. Apalagi, Bontang memiliki sumber daya yang melimpah, tinggal bagaimana kita mengelola dan mengalokasikan dengan benar,” jelasnya.
Selain itu, Sumardi juga mendorong sektor industri di Bontang, yang merupakan salah satu sektor penggerak ekonomi utama di kota ini, untuk turut serta dalam program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang berfokus pada pencegahan stunting. Ia yakin bahwa jika sektor industri berkontribusi secara aktif, masalah stunting di Bontang bisa diatasi lebih cepat.
“Industri-industri besar di Bontang harus ikut berperan dalam menangani masalah ini. Mereka bisa berkontribusi melalui program CSR yang fokus pada gizi anak dan kesehatan ibu. Ini akan sangat membantu, mengingat banyak wilayah di Bontang yang masih membutuhkan perhatian lebih dalam hal kesehatan dan gizi,” katanya.
Harapan ke Depan: Prioritas pada Kesejahteraan Anak dan Ibu
Menutup pernyataannya, Sumardi menegaskan bahwa penanganan stunting harus menjadi prioritas utama pemerintah daerah ke depan. Menurutnya, kesejahteraan anak-anak dan ibu di Kota Bontang harus ditempatkan sebagai agenda utama dalam program pembangunan, karena mereka adalah fondasi masa depan kota ini.
“Jika kita ingin Bontang maju dan sejahtera, kita harus mulai dengan memastikan anak-anak kita tumbuh sehat dan kuat. Penanganan stunting adalah langkah awal untuk mencapai itu. Mari kita prioritaskan kesejahteraan anak dan ibu dalam setiap kebijakan yang kita buat,” pungkas Sumardi.
Dengan perhatian yang lebih besar dari pemerintah dan dukungan penuh dari semua pihak, diharapkan angka stunting di Kota Bontang dapat ditekan, sehingga generasi mendatang bisa tumbuh dengan sehat dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik.
