Semarang – Dentuman beduk menggema, disambut letusan meriam yang memecah langit senja. Suasana halaman Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) berubah menjadi lautan manusia saat puncak Dugderan 2026 digelar dengan pembacaan suhuf halaqoh dan tabuhan Beduk Ijo Mangunsari. Tradisi tahunan ini kembali menjadi penanda datangnya bulan suci Ramadan yang sarat makna spiritual dan budaya.
Perhelatan yang berlangsung di kompleks MAJT, Kota Semarang, itu dipadati ribuan warga dari berbagai daerah di Jawa Tengah. Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, tampil dari mimbar utama untuk menabuh Beduk Ijo Mangunsari sebanyak tujuh kali. Setiap hentakan beduk langsung diiringi dentuman meriam Kolontoko dan rentetan petasan yang menyala di udara. Masyarakat yang hadir tampak antusias, mengabadikan momen sakral tersebut dengan telepon genggam mereka.
Tradisi Dugderan sendiri telah menjadi agenda tahunan menjelang Ramadan. Tidak hanya menjadi seremoni simbolik, kegiatan ini merepresentasikan akulturasi budaya Jawa dengan nilai-nilai religius Islam yang tumbuh dan terpelihara lintas generasi. Dugderan menjadi ruang temu antara tradisi, spiritualitas, dan kebersamaan masyarakat.
Sumarno menegaskan, penyelenggaraan Dugderan merupakan hasil sinergi antara Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Pemerintah Kota Semarang. Menurutnya, warisan budaya ini memiliki nilai historis yang penting untuk terus dirawat dan dilestarikan.
“Melalui Dugderan yang menandai datangnya bulan suci Ramadan, kami mengajak umat Muslim di Jawa Tengah mempersiapkan diri menyambut bulan penuh berkah ini dengan sebaik-baiknya,” ujarnya.
Ia menambahkan, momentum ini bukan hanya seremoni tahunan, melainkan ajakan moral untuk meningkatkan kualitas ibadah dan mempererat kebersamaan sosial. Dengan semangat religius yang dikedepankan, masyarakat diharapkan mampu menyambut Ramadan dengan hati yang bersih dan penuh kesiapan.
Selain nilai spiritual, Dugderan juga berdampak signifikan terhadap pergerakan ekonomi rakyat. Setiap pelaksanaan, ratusan pedagang, pelaku UMKM, hingga penyedia jasa memadati area sekitar MAJT. Penjualan aneka kuliner, mainan tradisional, hingga cendera mata meningkat tajam. Perputaran uang selama acara berlangsung turut memberikan berkah tersendiri bagi masyarakat kecil.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa tradisi lokal dapat menjadi penggerak ekonomi sekaligus penguat identitas budaya. Dugderan 2026 pun kembali membuktikan perannya sebagai ruang silaturahmi yang mempertemukan berbagai lapisan masyarakat dalam satu perayaan bersama.
Dengan gemuruh beduk dan meriam yang menggema, Dugderan tak hanya menandai datangnya Ramadan, tetapi juga menegaskan semangat kebersamaan dan harmoni sosial di Jawa Tengah. Tradisi ini diharapkan terus hidup, menjadi pengikat generasi, serta menjaga denyut budaya dan religiusitas masyarakat di masa mendatang.
