Bondowoso – Suasana belajar yang seharusnya damai berubah mencekam di salah satu SMP negeri di Bondowoso, Kamis siang. Seorang siswa kelas VII mendadak ambruk bersimbah darah setelah ditusuk oleh teman sekelasnya dengan cutter. Insiden mengejutkan ini langsung mengundang kepanikan di ruang kelas sebelum akhirnya korban dilarikan ke RSUD Koesnadi untuk mendapatkan penanganan medis darurat.
Peristiwa memilukan ini terjadi saat jam sekolah masih berlangsung. Korban, remaja laki-laki berusia 13 tahun, mengalami luka tusuk cukup dalam di bagian perut. Pihak rumah sakit langsung melakukan operasi darurat guna menyelamatkan nyawanya.
“Kondisi korban saat ini sudah sadar, namun masih berada dalam perawatan intensif,” ujar Kepala Dinas Pendidikan Bondowoso, Haeriyah Yuliati, usai menjenguk korban pada Kamis (22/8/2025).
Kepolisian setempat menyatakan telah mengamankan pelaku yang juga masih di bawah umur. Barang bukti berupa cutter yang digunakan dalam penyerangan juga telah diamankan. “Pelaku sudah kami tangkap dan sedang menjalani proses pemeriksaan lebih lanjut,” ungkap Kasi Humas Polres Bondowoso, Iptu Bobby Dwi Siswanto.
Menurut penyelidikan awal, insiden ini diduga dipicu pertengkaran yang sempat terjadi sebelumnya antara pelaku dan korban. Namun, pihak kepolisian menyatakan masih menunggu hasil pendalaman untuk mengungkap motif sebenarnya.
Penelusuran lebih lanjut dari Dinas Sosial P3AKB Bondowoso justru mengungkap fakta memilukan di balik aksi pelaku. Anak tersebut ternyata adalah anak yatim yang hidup dalam tekanan berat, tidak hanya dari lingkungan sekolah, tetapi juga dari kondisi keluarganya.
“Anak ini mengalami perundungan hampir setiap hari di sekolah. Di rumah, ia juga harus memasak dan mengurus adiknya yang masih duduk di bangku SD. Tekanan hidupnya sangat berat untuk anak seusianya,” jelas Kepala Dinsos P3AKB Bondowoso, Anisatul Hamidah.
Kisah tragis ini memunculkan keprihatinan luas di masyarakat. Banyak pihak menilai kejadian ini adalah sinyal keras tentang lemahnya sistem perlindungan anak, baik dari sisi pengawasan sekolah maupun dukungan sosial. Tragedi ini tidak hanya mencerminkan kekerasan fisik, tetapi juga luka sosial yang selama ini tersembunyi di balik dinding ruang kelas.
Pemerintah daerah pun menegaskan komitmennya untuk memberikan pendampingan bagi kedua belah pihak. “Kami memastikan bahwa baik korban maupun pelaku sama-sama anak yang harus mendapat perlindungan maksimal,” tegas Anisatul Hamidah.
Peristiwa ini menjadi pengingat betapa pentingnya membangun lingkungan sekolah yang aman, suportif, dan responsif terhadap masalah psikososial anak. Tanpa upaya kolektif, ruang kelas bisa berubah menjadi panggung kekerasan yang tak seharusnya terjadi di dunia anak-anak.
