Bab awal perkembangan pendidikan di Kutai Timur dimulai pada awal 1990-an, saat kebutuhan sekolah bagi anak-anak karyawan PT Kaltim Prima Coal (KPC) mendesak untuk dipenuhi. Dari sinilah lahir Yayasan Pendidikan Prima Sangatta Baru (YPPSB) pada 13 Juli 1991—kemudian berganti nama menjadi Yayasan Pendidikan Prima Swarga Bara—yang menjadi pelopor pendidikan formal di Sangatta. Pada tahun pendiriannya, SD YPPSB 1 berdiri dengan unit TK dan SMP, diikuti pembangunan gedung TK pada 1992, lalu penyelesaian gedung SMP pada 1994 yang langsung mendapat status akreditasi “disamakan.”
Perjalanan YPPSB terus berkembang. Tahun 2002, SD YPPSB dimekarkan menjadi dua unit, lalu pada 2007 hadir SD YPPSB-3 di Teluk Lingga, Sangatta Utara, yang diresmikan Bupati Awang Faroek Ishak. Memasuki tahun ajaran 2023/2024, YPPSB memperluas jenjang ke tingkat SMA dengan meluncurkan SMA Prima, sekolah bergaya ketarunaan dan bilingual dengan 141 siswa angkatan pertama.
“Pendidikan yang baik harus hadir di tempat orang tinggal, bukan sebaliknya,” ujar seorang pendidik senior di Sangatta. Pandangan ini sejalan dengan upaya pemerintah daerah yang mendirikan SMAN 2 Sangatta Utara melalui program “Kutim Cemerlang” pada 2008, serta membangun SMK Muhammadiyah 1 Sangatta Utara pada 11 Mei 2000 sebagai pionir pendidikan kejuruan swasta di wilayah ini.
Infrastruktur pendidikan dasar negeri juga mendapat perhatian besar. Salah satu contohnya adalah pembangunan SDN 01 Sandaran yang diresmikan pada Februari 2025 sebagai simbol kemajuan fasilitas pendidikan di daerah pesisir. Dinas Pendidikan Kutai Timur pun memastikan biaya pendidikan di jenjang SD dan SMP negeri tetap gratis.
Kebijakan pemerataan pendidikan semakin menguat sejak 2023 melalui program seragam dan buku gratis untuk siswa SD dan SMP. Tahun 2024, anggaran beasiswa melonjak hingga Rp 21,75 miliar dari sebelumnya Rp 5,5 miliar, menyasar ribuan pelajar. Insentif guru juga disesuaikan berdasarkan zona, dan pembangunan infrastruktur pendidikan bernilai ratusan miliar rupiah dikerjakan demi mengurangi kesenjangan kualitas.
Perjalanan ini menunjukkan bahwa pendidikan di Kutai Timur telah bertransformasi dari inisiatif privat menuju sistem publik yang inklusif dan merata. YPPSB memulai langkahnya, pemerintah daerah menguatkan fondasinya, dan masyarakat bersama-sama menjaga agar pendidikan tetap menjadi prioritas.
