Jember – Setahun kepemimpinan ibarat musim tanam pertama: menentukan arah panen di masa depan. Bupati Jember, Muhammad Fawait atau yang akrab disapa Gus Fawait, memanfaatkan tahun awal masa jabatannya dengan membenahi dua sektor mendasar, yakni administrasi kependudukan (adminduk) dan infrastruktur pertanian. Sejak dilantik pada 20 Februari 2025, ia menilai kedua sektor tersebut berpengaruh langsung terhadap kesejahteraan dan penurunan angka kemiskinan masyarakat.
Dalam refleksi satu tahun kepemimpinannya pada Jumat (20/2/2026), Fawait mengungkapkan persoalan adminduk menjadi pekerjaan rumah besar yang diwarisinya. Berdasarkan catatan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, sekitar 66 ribu warga belum memiliki KTP dalam periode 2019–2024 akibat keterbatasan blanko. Kondisi tersebut berdampak luas, mulai dari hambatan mengakses layanan publik, bantuan sosial, hingga kesulitan melamar pekerjaan.
“Tidak boleh lagi ada warga desa yang harus menempuh perjalanan hingga dua jam hanya untuk mencetak KTP. Pelayanan harus hadir lebih dekat,” tegasnya.
Sebagai solusi, Pemerintah Kabupaten Jember menyediakan sekitar 68 ribu blanko KTP untuk menuntaskan tunggakan tersebut. Selain itu, layanan pencetakan dokumen kependudukan kini diperluas hingga tingkat kecamatan. Kebijakan ini memangkas jarak dan waktu tempuh warga yang sebelumnya harus datang ke kantor dinas di pusat kota.
Langkah tersebut dinilai strategis karena dokumen kependudukan menjadi pintu masuk berbagai layanan sosial dan ekonomi. Tanpa identitas resmi, warga kerap terpinggirkan dari program bantuan pemerintah maupun peluang kerja formal.
Selain adminduk, sektor pertanian juga menjadi fokus utama. Fawait menyoroti kondisi infrastruktur pertanian yang selama bertahun-tahun kurang mendapat perhatian serius. Data pemerintah daerah menunjukkan hampir 70 persen infrastruktur pertanian, termasuk jaringan irigasi, berada dalam kondisi kurang baik. Akibatnya, produktivitas pertanian, terutama komoditas padi, mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir.
“Produktivitas tidak akan maksimal jika infrastrukturnya rusak. Karena itu perbaikannya harus menyeluruh,” ujarnya.
Melalui sinergi pendanaan dari APBD dan APBN, Pemkab Jember pada 2025 mengalokasikan anggaran besar untuk rehabilitasi jaringan irigasi, optimalisasi lahan pertanian, pengadaan alat dan mesin pertanian, serta penyediaan bibit unggul. Fawait menyebut anggaran sektor pertanian tahun ini sebagai yang terbesar sepanjang sejarah Kabupaten Jember.
Pembenahan tersebut diharapkan mampu mengembalikan posisi Jember sebagai salah satu lumbung pangan penting di Jawa Timur. Dengan irigasi yang lebih baik dan dukungan sarana modern, produktivitas petani ditargetkan meningkat, sehingga berdampak langsung pada pendapatan masyarakat pedesaan.
Fawait menegaskan, strategi tahun pertamanya difokuskan pada pemulihan dan penguatan pelayanan dasar. Menurutnya, fondasi yang kuat pada layanan kependudukan dan sektor pangan akan menjadi pijakan untuk percepatan pembangunan sektor lain pada tahun-tahun berikutnya.
“Pelayanan dasar harus tuntas agar masyarakat benar-benar merasakan kehadiran pemerintah,” katanya.
Pemerintah Kabupaten Jember berharap langkah konkret di bidang adminduk dan pertanian ini dapat memperluas akses pelayanan publik yang lebih adil sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan, khususnya di wilayah pedesaan yang menjadi tulang punggung produksi pangan. (ADV).
