Dharmasraya – “Teknologi boleh berlari, tetapi integritas tidak boleh tertinggal.” Pesan tersebut mengemuka dalam pelantikan pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Dharmasraya periode 2026–2029 di Auditorium Dharmasraya, Pulau Punjung, Selasa (4/8/2026). Pelantikan itu menjadi penanda dimulainya kepemimpinan baru sekaligus penguatan profesionalisme insan pers di tengah derasnya arus informasi digital.
Prosesi pelantikan dipimpin langsung oleh Ketua PWI Sumatera Barat, Widya Navies. Dalam agenda tersebut, Roni Aprianto resmi dikukuhkan sebagai Ketua PWI Kabupaten Dharmasraya untuk masa bakti tiga tahun. Ia bersama jajaran pengurus baru akan menjalankan roda organisasi hingga 2029 dengan fokus pada peningkatan kualitas wartawan, penguatan kelembagaan, serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan teknologi informasi.
Pelantikan berlangsung khidmat dan dihadiri Bupati Dharmasraya Annisa Suci Ramadhani, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah, anggota DPRD, pimpinan organisasi perangkat daerah, tokoh masyarakat, organisasi kepemudaan, serta sejumlah insan pers. Kehadiran berbagai unsur tersebut memperlihatkan pentingnya posisi pers dalam kehidupan masyarakat dan pelaksanaan pembangunan daerah.
Bupati Dharmasraya Annisa Suci Ramadhani dalam sambutannya menilai wartawan masih memegang peranan penting sebagai salah satu pilar demokrasi. Menurutnya, kemajuan teknologi, termasuk penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence, tidak dapat menggantikan tanggung jawab moral dan profesional seorang jurnalis dalam menghasilkan informasi untuk masyarakat.
“Teknologi hanyalah alat bantu. Nilai-nilai jurnalistik seperti integritas, independensi, dan tanggung jawab tetap berada di tangan insan pers,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menekankan bahwa kecanggihan perangkat digital tetap harus diimbangi dengan kemampuan melakukan verifikasi, memahami konteks, serta mempertanggungjawabkan setiap informasi yang dipublikasikan. Teknologi dapat mempercepat proses pengumpulan dan penyebaran berita, tetapi keputusan jurnalistik tetap berada di tangan wartawan dan redaksi.
Annisa juga mengajak seluruh insan pers di Dharmasraya untuk terus meningkatkan kemampuan serta menjaga profesionalisme dalam menjalankan tugas. Wartawan diminta tetap berpegang teguh pada Kode Etik Jurnalistik agar berita yang disampaikan kepada publik memenuhi prinsip akurasi, keberimbangan, independensi, dan tanggung jawab.
Kompetensi wartawan dinilai semakin penting karena masyarakat saat ini menerima informasi dari berbagai platform dalam waktu yang sangat cepat. Di tengah situasi tersebut, media profesional memiliki tanggung jawab untuk menyaring informasi, menghindari penyebaran kabar bohong, serta menyajikan berita yang telah melalui proses pemeriksaan fakta.
Ketua PWI Dharmasraya Roni Aprianto menyampaikan bahwa kepengurusan baru akan berupaya memperkuat organisasi melalui sejumlah program peningkatan kapasitas anggota. Selain mendorong pengembangan kompetensi, pihaknya akan mempererat solidaritas antarwartawan dan membangun kerja sama dengan pemerintah daerah maupun berbagai elemen masyarakat.
Meski membuka ruang sinergi, Roni menegaskan bahwa independensi pers harus tetap dipertahankan. Hubungan antara wartawan dan berbagai pemangku kepentingan diharapkan berjalan secara profesional tanpa mengurangi fungsi kontrol sosial yang melekat pada pers.
“Kami akan mendorong anggota agar adaptif terhadap perkembangan teknologi informasi, namun tetap menghasilkan karya jurnalistik yang berkualitas, edukatif, dan terpercaya,” ujarnya.
Komitmen tersebut akan menjadi salah satu tantangan utama kepengurusan PWI Dharmasraya periode 2026–2029. Perubahan pola konsumsi informasi membuat wartawan tidak hanya dituntut cepat dalam menyampaikan berita, tetapi juga mampu menghadirkan informasi yang mendalam, relevan, dan mudah dipahami masyarakat.
Penguatan kapasitas anggota dapat dilakukan melalui pelatihan jurnalistik, peningkatan kemampuan penggunaan teknologi, pemahaman mengenai keamanan digital, serta penguatan pengetahuan tentang etika profesi. Upaya tersebut diperlukan agar wartawan dapat memanfaatkan teknologi sebagai pendukung pekerjaan tanpa mengabaikan proses verifikasi dan prinsip kehati-hatian.
Solidaritas antaranggota juga menjadi perhatian karena organisasi profesi memiliki peran dalam memberikan perlindungan, pembinaan, dan ruang peningkatan kompetensi bagi wartawan. PWI diharapkan dapat menjadi tempat bagi anggotanya untuk bertukar pengetahuan sekaligus menyelesaikan berbagai persoalan yang muncul dalam pelaksanaan tugas jurnalistik.
Di sisi lain, sinergi dengan pemerintah dan masyarakat dapat diarahkan untuk memperluas akses terhadap informasi publik. Hubungan yang sehat antara pers dan pemerintah diharapkan mampu mendukung keterbukaan informasi, meningkatkan partisipasi masyarakat, serta memastikan program pembangunan daerah dapat diawasi secara kritis dan konstruktif.
Terbentuknya kepengurusan baru PWI Dharmasraya diharapkan membawa energi baru bagi perkembangan pers di daerah tersebut. Di bawah kepemimpinan Roni Aprianto, organisasi ini dituntut semakin profesional, solid, dan responsif terhadap transformasi digital tanpa kehilangan jati diri sebagai penjaga kepentingan publik.
Pelantikan tersebut bukan sekadar pergantian kepengurusan, melainkan awal dari tanggung jawab baru dalam menjaga kualitas informasi di Dharmasraya. Dengan kompetensi, integritas, dan independensi yang terus diperkuat, PWI Dharmasraya diharapkan mampu menjadi mitra pembangunan sekaligus menjalankan fungsi kontrol sosial melalui karya jurnalistik yang akurat, berimbang, edukatif, dan beretika.
