Mojokerto – “Jangan sampai 33 ekor jadi 3 ekor.” Kalimat bernada jenaka ini dilontarkan Bupati Mojokerto, Muhammad Albarra, saat membuka Workshop Manajemen Usaha Ternak Kambing Perah di Aula Hotel Arayanna, Trawas, pada Selasa (21/10/2025) pagi. Ungkapan tersebut mencerminkan harapan sekaligus tantangan dalam pemberdayaan petani lokal, khususnya generasi muda, melalui inovasi dan manajemen usaha yang berkelanjutan.
Workshop ini merupakan bagian dari Program Pertanian Komunal Bersama Milenial 2025, yang digagas Dinas Pertanian Kabupaten Mojokerto. Kegiatan tersebut diikuti oleh Kelompok Tani “Mandiri Jaya Makmur” dan menghadirkan narasumber dari Balai Besar Pelatihan Peternakan Kementerian Pertanian Batu.
Kepala Dinas Pertanian, Ludfi Ariyono, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan membekali peserta dengan keterampilan beternak kambing perah serta pemahaman tentang teknologi terkini dan strategi pemasaran produk peternakan.
“Kami ingin memastikan peternak mendapatkan pengetahuan praktis serta menjadi pelopor usaha ternak yang adaptif, mandiri, dan berdaya saing,” ujarnya.
Ludfi juga mengungkapkan bahwa peluang usaha susu kambing sangat besar, mengingat produksi susu nasional baru mampu memenuhi 20 persen kebutuhan dalam negeri. Menurutnya, kondisi ini adalah peluang emas bagi peternak Mojokerto untuk meningkatkan produksi lokal.
Bupati Mojokerto, yang akrab disapa Gus Bupati, menyoroti pentingnya regenerasi petani. Ia menyebut mayoritas pelaku usaha tani saat ini berusia 40–70 tahun, sementara generasi muda lebih memilih bekerja di sektor industri.
“Padahal, kalau ditekuni dengan manajemen yang baik, sektor ini bisa lebih menjanjikan secara ekonomi,” ungkapnya.
Gus Bupati juga mengingatkan pentingnya penggunaan teknologi digital dalam memasarkan hasil peternakan, serta mengajak peserta untuk mengembangkan produk olahan seperti yogurt, sabun susu kambing, hingga wisata edukasi.
“Susu kambing kini semakin diminati masyarakat sadar gizi. Tinggal bagaimana meningkatkan kualitas agar tidak berbau khas kambing, karena itu bisa dipelajari,” tambahnya.
Ia berharap Mojokerto dapat menghasilkan produk-produk ternak unggulan berlabel “Made in Mojokerto” yang tidak hanya mengangkat perekonomian lokal, tetapi juga membuka peluang usaha baru bagi generasi muda.
Dengan pelatihan ini, Pemerintah Kabupaten Mojokerto berharap muncul peternak-peternak muda yang tangguh dan inovatif, yang mampu mengembangkan potensi daerah sekaligus menjawab tantangan ketahanan pangan masa depan.
