Mojokerto – Di bawah langit senja Ramadan yang mulai berpendar keemasan, halaman Pasar Rakyat Ketidur di Jalan Surodinawan Nomor 38 dipenuhi antusiasme warga. Deretan stan takjil dan kuliner khas tersaji rapi, menandai dibukanya Pasar Takjil Ramadan 1447 Hijriah oleh Pemerintah Kota Mojokerto, Jumat (27/2/2026). Bukan sekadar seremoni tahunan, kegiatan ini ditegaskan sebagai strategi nyata menggerakkan ekonomi kerakyatan.
Pembukaan dilakukan langsung oleh Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari (Ning Ita) didampingi Wakil Wali Kota Dr. Rahman Siddhartha Arisandi dan Sekretaris Daerah Gaguk Tri Prasetyo. Turut hadir Deputi Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur, perwakilan Bank Jatim, Bank Syariah Indonesia, Bulog, Baznas, serta sejumlah sponsor swasta . Kegiatan ini berlangsung mulai 26 Februari hingga 4 Maret 2026, diikuti 75 tenant UMKM, dengan 44 di antaranya bergerak di sektor makanan dan minuman.
Ning Ita menekankan bahwa Pasar Takjil Ramadan merupakan komitmen konsisten pemerintah daerah dalam menyediakan ruang promosi dan transaksi bagi pelaku usaha kecil. Ia menyebut Kota Mojokerto memiliki lebih dari 16 ribu UMKM kuliner yang menjadi tulang punggung ekonomi lokal.
“Ramadan ini harus kita jadikan momentum kebangkitan ekonomi umat. Kita ingin UMKM Kota Mojokerto tidak hanya bertahan, tetapi tumbuh dan naik kelas. Karena itu setiap tahun kita siapkan ruang yang representatif seperti Pasar Ketidur ini,” tegasnya.
Ia juga secara terbuka menginstruksikan jajaran pejabat di lingkungan Pemkot Mojokerto untuk berpartisipasi aktif dalam mendukung para pedagang.
“Saya minta setelah seremoni ini selesai, seluruh pejabat ikut berbelanja. Ngelarisi dagangan UMKM sampai habis. Ini bentuk keberpihakan kita kepada ekonomi rakyat,” ujarnya disambut tepuk tangan hadirin.
Sebagai langkah konkret, Ning Ita mengungkapkan bahwa melalui Korpri, pemerintah membagikan 1.000 kupon belanja gratis senilai Rp10 ribu per lembar atau total Rp10 juta kepada masyarakat.
“Kupon ini bukan sekadar simbolis. Ini adalah stimulus agar terjadi perputaran uang di lapisan paling bawah. Kalau UMKM bergerak, ekonomi kota ikut bergerak,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Gaguk Tri Prasetyo menjelaskan bahwa rangkaian Pasar Takjil Ramadan 1447 dirancang lebih variatif dibanding tahun sebelumnya. Selain bazar kuliner, terdapat Lomba Patrol yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan selama empat hari dengan 44 peserta dari berbagai jenjang pendidikan dan Karang Taruna.
“Kami ingin Pasar Takjil ini tidak hanya transaksi ekonomi, tetapi juga ruang ekspresi budaya. Karena itu ada lomba patrol, lomba beduk tingkat SD dan SMP, lomba fashion muslimah ibu dan anak, hingga kompetisi tari tingkat SMP dan SMA,” jelas Gaguk.
Ia menambahkan, dukungan sektor perbankan dan lembaga lain menjadi bagian penting dari penguatan ekosistem UMKM. Program QRIS Racing bersama Bank Indonesia digelar untuk mendorong digitalisasi pembayaran.
“Kami terus mengedukasi pelaku UMKM agar memanfaatkan transaksi non-tunai. Ini penting untuk transparansi dan memperluas akses pasar,” ujarnya.
Tak hanya itu, pemerintah juga menggelar operasi pasar murah selama tujuh hari guna menjaga stabilitas harga bahan pokok menjelang Idul Fitri. Pasar koperasi Kelurahan Merah Putih yang melibatkan 18 koperasi dilaksanakan secara bergiliran, serta program tebus murah sembako dalam kegiatan Ramadan Karim.
Menurut Gaguk, sinergi antara pemerintah, perbankan, koperasi, dan sponsor swasta menjadi bukti bahwa penguatan ekonomi daerah membutuhkan kolaborasi lintas sektor.
“Pasar Takjil ini adalah contoh nyata gotong royong. Semua bergerak bersama untuk kepentingan masyarakat,” katanya.
Menutup sambutannya, Wali Kota Ika Puspitasari mengajak masyarakat menjaga semangat ibadah hingga akhir Ramadan sekaligus tetap produktif.
“Kita ingin Ramadan ini bukan hanya memperkuat spiritualitas, tetapi juga solidaritas sosial dan ekonomi. Insyaallah, jika kita bergerak bersama, UMKM Mojokerto akan semakin maju,” pungkasnya.
Dengan rangkaian kegiatan hingga 4 Maret 2026, Pasar Takjil Ramadan 1447 di Pasar Ketidur diharapkan menjadi pusat keramaian sekaligus penggerak roda ekonomi rakyat Kota Mojokerto sepanjang bulan suci. (ADV).
