Padang – Pendidikan ibarat jembatan yang tak hanya menghubungkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menyatukan hati antara guru dan peserta didik. Semangat itu kembali ditegaskan melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang diselenggarakan MAN 2 Kota Padang di Hotel Basko Padang pada Rabu (11/6/2026) hingga Kamis (12/6/2026). Kegiatan tersebut menjadi upaya memperkuat pendidikan yang lebih humanis di tengah tantangan era digital.
Bimtek bertema “Pembelajaran dengan Sentuhan Hati dan Cerdas Berteknologi” tersebut dibuka Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Barat, Mustafa. Kegiatan ini juga dihadiri jajaran Kementerian Agama Kota Padang, para kepala madrasah, serta guru. Melalui kegiatan tersebut, MAN 2 Kota Padang menegaskan komitmennya dalam mengembangkan sistem pembelajaran yang tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga menanamkan karakter dan membangun kedekatan emosional antara pendidik dengan siswa.
“Guru bukan sekadar pengajar, tetapi juga orang tua kedua bagi siswa. Pembelajaran harus hadir dengan sentuhan hati,” ujar Mustafa.
Menurutnya, perubahan dunia pendidikan saat ini menuntut guru memiliki peran yang lebih luas. Ia mengapresiasi konsistensi MAN 2 Kota Padang yang telah menerapkan Kurikulum Berbasis Cinta sejak 2025. Langkah tersebut dinilai selaras dengan kebutuhan pendidikan abad ke-21 yang mengedepankan keseimbangan antara kemampuan akademik, pembentukan karakter, dan penguasaan kompetensi.
Kepala MAN 2 Kota Padang, Dr. Ahmad Asdi, M.Pd, menjelaskan bahwa pelaksanaan Bimtek tersebut tidak sekadar menjadi forum peningkatan kemampuan teknis, tetapi juga menjadi sarana refleksi bagi para pendidik untuk memperkuat pendekatan yang lebih manusiawi dalam proses pembelajaran.
“Kami ingin guru mampu menghadirkan pembelajaran yang menyentuh hati, membangun empati, sekaligus adaptif terhadap perkembangan teknologi,” katanya, Jum’at (12/6/2026).
Selain menghadirkan unsur dari Balai Diklat Keagamaan dan Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Sumatera Barat, kegiatan tersebut juga menghadirkan perwakilan Ombudsman RI, Adel Wahidi, yang memberikan pandangan mengenai tata kelola layanan pendidikan di lingkungan madrasah. Kehadiran para narasumber diharapkan dapat memperkaya wawasan para guru dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan.
Mustafa menjelaskan, Kurikulum Berbasis Cinta menitikberatkan pada tiga aspek utama, yakni membangun hubungan emosional yang kuat antara guru dan siswa, mengembangkan empati dalam proses belajar, serta menciptakan pembelajaran yang kontekstual dan memiliki makna bagi peserta didik. Pendekatan tersebut dipandang mampu menjawab tantangan pendidikan modern yang membutuhkan perpaduan antara karakter moral, kompetensi, dan literasi digital.
“Ketika pembelajaran dilakukan dengan pendekatan hati, siswa akan merasa dihargai, dipahami, dan lebih termotivasi untuk berkembang,” ujarnya.
Ia berharap inovasi yang dilakukan MAN 2 Kota Padang dapat menjadi contoh bagi madrasah lainnya di Sumatera Barat. Dengan pendekatan yang lebih humanis dan adaptif, pendidikan diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki empati serta karakter yang kuat dalam menghadapi perkembangan zaman.
