Mojokerto – Di tengah derasnya tren kuliner modern, sebuah gerobak sederhana di kawasan Jalan Wijaya Kusuma, Puri, Mojokerto, justru membuktikan bahwa kesederhanaan bisa bertahan melawan zaman. “Pentol Peta”, jajanan kaki lima yang lahir dari inspirasi kartun anak, tetap setia melayani pembeli sejak hampir dua dekade lalu.
Setiap sore, mulai pukul 16.00 hingga 18.00 WIB, gerobak tersebut dikerumuni warga dari berbagai kalangan. Anak-anak, remaja, hingga orang dewasa tampak silih berganti memesan pentol tusuk yang menjadi ciri khasnya. Puncak keramaian biasanya terjadi sekitar pukul 16.30 WIB, saat warga mulai keluar rumah untuk mencari camilan sore.
Nama “Pentol Peta” sendiri memiliki cerita unik. Terinspirasi dari karakter “Peta” dalam kartun Dora the Explorer, nama ini sengaja dipilih agar mudah diingat oleh anak-anak yang menjadi pelanggan utama di awal usaha. Penjual yang berasal dari Dusun Unggahan, Banjaragung, Kecamatan Puri ini mengaku strategi tersebut berhasil menarik perhatian pembeli sejak pertama kali berjualan pada [2006].
“Dulu banyak anak sekolah yang beli. Waktu itu kartun Dora lagi sering ditayangkan di TV, jadi saya kepikiran pakai nama Peta supaya gampang diingat,” ujarnya.
Selain berjualan sore hari, pedagang ini juga membuka lapak di depan SMAN 1 Kota Mojokerto pada pagi hingga siang hari. Di lokasi tersebut, mayoritas pembelinya adalah pelajar yang membeli jajanan saat waktu istirahat sekolah. Dalam sehari, ia mampu menghabiskan sekitar 5 hingga 8 kilogram pentol, angka yang menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap jajanan ini.
Keberhasilan Pentol Peta bertahan hingga kini tidak lepas dari konsistensi rasa dan harga yang tetap terjangkau. Dengan harga mulai Rp1.000 untuk tiga butir pentol, jajanan ini tetap ramah di kantong, terutama bagi pelajar.
“Alhamdulillah dari dulu sampai sekarang masih banyak yang beli. Bahkan ada yang dulu waktu sekolah sering jajan di sini, sekarang sudah kerja tapi masih suka mampir,” katanya.
Kedekatan antara penjual dan pelanggan juga menjadi nilai lebih. Banyak pelanggan lama yang tetap setia, bahkan memiliki panggilan khusus untuk penjual seperti “Pak Pet” atau “Pak Peta”. Hal ini mencerminkan hubungan sosial yang terjalin kuat selama bertahun-tahun.
Salah satu pembeli, Mita (17), mengaku sering membeli Pentol Peta karena rasanya yang tidak berubah sejak dulu.
“Dari dulu rasanya masih sama, enak dan murah. Kalau sore biasanya ramai, jadi kadang harus antre,” ujarnya.
Pilihan menu yang ditawarkan pun cukup beragam, mulai dari pentol biasa, pentol kasar, pentol jamur, hingga pentol puyuh dan gajih. Selain itu, tersedia juga pelengkap seperti siomay, tahu, mie kuning, dan pangsit goreng. Semua sajian ini semakin nikmat dengan tambahan saus tomat atau bumbu kacang khas yang menjadi favorit pelanggan.
Di tengah persaingan kuliner yang semakin ketat, Pentol Peta menjadi bukti bahwa usaha kecil dengan konsistensi dan kedekatan emosional mampu bertahan lama. Lebih dari sekadar jajanan, gerobak ini menyimpan cerita nostalgia yang terus hidup di hati masyarakat Mojokerto.
