Yogyakarta – Layaknya simfoni warna yang menari di dinding sunyi, kegiatan Paint the Poetry yang berlangsung di Museum vredeburg Yogyakarta bukan sekadar pameran lukis biasa – ia adalah dialog antara seni, edukasi, dan komunitas yang menggema sejak September 2024.
Fitri, pemilik Rumah Gabah, memaparkan bahwa kolaborasi ini telah dijalin sejak 9 September 2024. “Semuanya dimulai dari kerjasama dengan museum, BDG Balai Kutuh sejak September,” ujarnya singkat, meski terdengar penuh warna pada Kamis (10/7/2025) pagi.
Kegiatan rutin ini berlangsung mulai pukul 10 pagi hingga malam, walau jadwalnya fleksibel—beberapa malam pelaksanaan baru selesai pada pukul 19.00 WIB.
Menurutnya, kehadiran kegiatan ini bukan untuk sekadar pameran statis diorama museum, tetapi ingin menghadirkan interaksi yang atraktif, edukatif, dan menyenangkan bagi pengunjung. Bu Fitri menjelaskan,
“Supaya publik, supaya pengunjung itu tidak hanya monoton melihat diorama, tapi di situ ada juga kegiatan yang aktif, atraktif, edukatif, fun.” Ini menjadi jawaban atas kebutuhan museum untuk menghadirkan kegiatan yang merangkul sekaligus meramaikan ruang pamernya.
Sebagai narasumber utama, Bu Fitri berkisah bagaimana awal mula perhatian museum tertuju pada Rumah Gabah melalui pameran-pameran seperti Pasar Kangan, yang lokasinya di belakang museum.
“Karena mereka pernah tahu kegiatan saya di pameran-pameran… Mereka tertarik setelah melihat Grabah Sayang,” ungkapnya. Sejak itulah panggilan kolaboratif tersebut mengalir hingga ke Paint the Poetry.
Fitri, yang memulai aktivitas kreatifnya di bidang kerajinan tanah liat sejak 1999, juga mengelola workshop di Jalan Munasari, Kelengganan 8, Sekasuman. Meski tidak memiliki patokan omzet tetap, ia memastikan usahanya bukan sekadar profit.
“Omsetnya relatif… paling enggak secukup lah hatinya,” katanya. Selain kolaborasi museum, program workshopnya juga tampil di sekolah-sekolah—siapa saja bisa ikut, tanpa syarat minimal peserta.
“Selalu kreatif, selalu inovatif, tidak usah takut dicontoh atau dengan kompetitor,” Pesan Fitri bagi para pelaku seni. Ia menekankan pentingnya mempertahankan otentisitas produk manual sebagai daya tarik utama. Sebagai sosok yang juga menyediakan kerajinan di toko-toko di Jogja dan Jakarta, Fitri mengaku senang berbagi kesempatan lewat kreativitas autentik.
Pengalaman praktis di Rumah Gabah juga terbuka lebar bagi siapapun. Workshop melukis grabah dibanderol Rp 15.000 per sesi, sudah termasuk bahan dan materi. Bagi peserta yang ingin merasakan proses dari tanah liat hingga karya, ada paket seharga Rp 25.000.
“Itu sekalian membuat tanah liatnya, kemudian melukis grabahnya, kemudian karya anak juga,” jelasnya. Lokasinya yang hanya sekitar 8 km dari pusat Jogja atau ±30 menit perjalanan, mudah diakses, bahkan dengan moda transportasi umum seperti Jogja train.
Di penghujung wawancara, Bu Fitri menuturkan refleksi setelah puluhan tahun berkarya:
“Menyenangkan. Hobi yang bikin senang dan menghasilkan sesuatu… bisa mempalingkan budaya tradisional kita kembangkan… untuk keseimbangan aja. Meditasi juga ya Ibu? Betul, karena tenang, senang.” Melukis tanah liat bagi dirinya bukan sekadar proses kreatif, tetapi juga sarana meditasi.
Dengan semangat kolaboratif dan inovatif Paint the Poetry bukan hanya memperkaya jagat seni Yogyakarta, tapi juga menghidupkan kembali kesadaran publik akan nilai tradisi melalui medium interaktif. Kehadirannya di Museum Vanguberrg menjadi jembatan antara masa lalu kerajinan lokal dengan semangat kekinian yang inspiratif.
