Di Indonesia, banyak masyarakat yang hidup bergantung pada hutan, baik yang tinggal di dalam maupun di sekitar hutan. Jumlah estimasi yang bergantung pada hutan bervariasi, dengan beberapa perkiraan menunjukkan antara 1,5 juta hingga 65 juta orang, tergantung pada definisi dan kebijakan yang digunakan.
Pada tahun 2000, Departemen Kehutanan melaporkan sekitar 30 juta orang yang bergantung langsung pada sektor kehutanan, meskipun tingkat ketergantungannya tidak dijelaskan secara rinci. Masyarakat ini umumnya mengandalkan berbagai strategi ekonomi tradisional, seperti perladangan berpindah, berburu, memancing, dan mengumpulkan hasil hutan non-kayu seperti rotan, madu, dan resin.
Selain itu, budidaya tanaman perkebunan seperti kopi dan karet juga menjadi sumber pendapatan penting. Rotan, sebagai hasil hutan non-kayu, bahkan menjadikan Indonesia sebagai negara dominan dalam perdagangan rotan dunia. Selain itu, tanaman obat dan hasil hutan lainnya juga digunakan, meskipun sebagian besar tidak tercatat dalam transaksi pasar resmi.
Nilai ekspor “tumbuhan dan satwa liar” Indonesia pada tahun fiskal 1999/2000 diperkirakan lebih dari 1,5 miliar dolar, namun rinciannya tidak dijelaskan. Jika setiap orang yang bergantung pada hutan memperoleh hasil senilai 100 dolar per tahun, maka nilai totalnya mencapai 3 miliar dolar.
Selain hasil hutan, hutan Indonesia juga menyediakan berbagai jasa lingkungan, seperti menjaga pasokan air untuk lebih dari 16 juta orang melalui Daerah Aliran Sungai (DAS), meskipun lebih dari 20 persen tutupan hutan DAS hilang antara 1985 dan 1997. Hutan-hutan ini juga menyimpan karbon dalam jumlah besar, dengan total biomassa hutan Indonesia mencapai lebih dari 14 miliar ton, yang setara dengan sekitar 20 persen biomassa hutan tropis di Afrika.
Namun, dengan terus berlanjutnya penebangan hutan, perubahan tutupan lahan lebih banyak menghasilkan karbon daripada menyimpannya, yang turut berkontribusi terhadap pemanasan global. Meski sulit untuk mengukur secara moneter jasa-jasa lingkungan ini, beberapa studi menunjukkan bahwa nilai keanekaragaman hayati dan simpanan karbon hutan tropis lebih tinggi dibandingkan dengan pendapatan dari kayu bulat.
Oleh karena itu, penilaian ekonomi tradisional yang hanya mengukur hutan berdasarkan kayu bulat dianggap terlalu sempit dan mengabaikan pentingnya kepentingan masyarakat lokal serta nilai-nilai spiritual dan keindahan hutan yang tidak dapat diukur dengan angka. Sebagai hasilnya, penting untuk melihat hutan Indonesia secara lebih holistik, mencakup nilai lingkungan, sosial, dan budaya yang tak ternilai.
