Bondowoso – Seperti menyalakan kembali lentera di tengah gelombang politik yang kerap berubah arah, Dewan Pimpinan Cabang Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Bondowoso menggelar haul Abdurrahman Wahid atau Gus Dur sebagai ruang refleksi kolektif. Bagi para kader, kegiatan ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan peneguhan jati diri partai yang sejak kelahirannya berakar kuat pada nilai-nilai Nahdlatul Ulama.
Haul Gus Dur tersebut digelar oleh Partai Kebangkitan Bangsa Bondowoso sebagai pengingat sejarah lahirnya PKB pada awal era reformasi 1998. Ketua DPC PKB Bondowoso, H Ahmad Dhafir, menjelaskan bahwa kegiatan ini memiliki dimensi spiritual sekaligus ideologis. Selain berharap barokah dari sosok Presiden ke-4 Republik Indonesia itu, haul juga menjadi sarana memperbarui komitmen kader terhadap garis perjuangan politik yang diwariskan Gus Dur.
“PKB lahir dari aspirasi warga NU. Gus Dur bersama para kiai membentuk tim 5 dan tim 9 sebagai fondasi berdirinya partai ini. Jadi haul ini adalah pengingat asal-usul kita,” ujar Dhafir dalam sambutannya. Pernyataan itu menegaskan bahwa hubungan NU dan PKB bukan sekadar kedekatan emosional, melainkan ikatan historis yang saling menguatkan.
Menurut Dhafir, secara filosofis NU dan PKB memiliki peran berbeda namun saling melengkapi. NU, yang dimaknai sebagai kebangkitan ulama, berfokus pada penguatan akidah Ahlussunnah wal Jamaah dan kehidupan keagamaan umat. Sementara PKB hadir sebagai kebangkitan bangsa, berfungsi memperjuangkan aspirasi warga NU melalui jalur pemerintahan dan kebijakan publik.
“Ada pembagian peran yang jelas. Urusan keagamaan menjadi khidmah NU, sedangkan perjuangan di ranah negara dan pemerintahan dijalankan PKB,” katanya. Ia menambahkan bahwa kontribusi NU dalam sejarah Indonesia sangat besar, termasuk dalam menegaskan Pancasila sebagai dasar negara yang final dan komitmen bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah harga mati.
Dhafir juga menyinggung peran tokoh NU, KH Wahid Hasyim, sebagai salah satu perumus dasar negara. Fakta sejarah tersebut, menurutnya, menjadi alasan kuat mengapa PKB harus berdiri tegak sebagai alat perjuangan NU di pemerintahan. “Ini bukan sekadar pilihan politik, tetapi amanah sejarah,” ujarnya.
Haul Gus Dur juga dimaknai sebagai ruang “upgrading ideologis” bagi para kader, khususnya anggota fraksi, agar kembali memahami posisi dan tanggung jawab politiknya. Dalam dinamika demokrasi yang kian pragmatis, refleksi ideologis dinilai penting agar PKB tidak tercerabut dari nilai dasar perjuangannya.
Keteladanan Gus Dur sebagai pelopor pluralisme turut ditekankan dalam acara tersebut. Pada masa awal reformasi, Gus Dur dikenal sebagai tokoh yang meletakkan fondasi persaudaraan lintas agama, etnis, dan golongan. “Nilai pluralisme dan kemanusiaan itu harus terus dirawat. PKB harus hadir untuk semua, tanpa membedakan latar belakang,” kata Dhafir.
Melalui peringatan haul ini, PKB Bondowoso berharap semangat kebangsaan, toleransi, dan tanggung jawab historis NU tetap menjadi napas perjuangan politik partai, sekaligus kompas moral dalam menghadapi dinamika pemerintahan dan demokrasi ke depan.
