Kediri – Tradisi keilmuan falak yang selama ini tumbuh di lingkungan pesantren terus bertransformasi mengikuti perkembangan zaman. Bak kompas yang tetap menunjuk arah meski diterpa perubahan, para pegiat falakiyah Nahdlatul Ulama di Jawa Timur memperkuat kapasitas keilmuan mereka melalui sentuhan teknologi digital yang semakin akrab dengan kehidupan masyarakat.
Lembaga Falakiyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (LF PWNU) Jawa Timur menyelenggarakan Halaqah Falakiyah Tahun 2026 selama dua hari, yakni pada Sabtu-Ahad [20 Juni 2026] hingga [21 Juni 2026], bertepatan dengan 05-06 Muharram 1448 Hijriah. Kegiatan yang dipusatkan di Pondok Pesantren Al-Ishlahiyyah, Mayan, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri tersebut diikuti oleh 86 peserta yang berasal dari perwakilan Lembaga Falakiyah PCNU se-Jawa Timur, lajnah falakiyah pondok pesantren, mahasiswa Fakultas Syariah, serta santri pondok setempat.
Selama pelaksanaan halaqah, para peserta memperoleh pembekalan mengenai pemrograman hisab yang dikembangkan berbasis teknologi digital. Materi pertama disampaikan oleh Ustaz Moh Nashor mengenai pemrograman hisab menggunakan bahasa JavaScript. Sementara materi berikutnya dibawakan oleh Ustaz Faishal yang mengulas pengembangan hisab awal bulan Hijriah, jadwal waktu salat, dan penentuan arah kiblat melalui sistem WhatsApp Bot.
Pelatihan tersebut menjadi bagian dari upaya LF PWNU Jawa Timur dalam memperluas pemanfaatan ilmu falak agar lebih mudah diakses oleh masyarakat melalui berbagai platform digital. Selain teori, para peserta juga diajak mempraktikkan langsung pembuatan program hisab sederhana hingga integrasi layanan berbasis WhatsApp.
“Hisab digital bukan untuk menggantikan metode klasik, tapi untuk mempercepat dakwah dan pelayanan falakiyah kepada masyarakat. WhatsApp Bot misalnya, bisa jadi sarana umat untuk cek awal bulan, jadwal sholat, dan arah kiblat secara mandiri,” jelas Ketua LF PWNU Jawa Timur, Syamsul Ma’arif, S.H., M.H., di sela kegiatan.
Menurutnya, perkembangan teknologi perlu disikapi secara adaptif oleh kader falakiyah Nahdlatul Ulama. Meski demikian, modernisasi tersebut tidak boleh memutus akar tradisi keilmuan pesantren yang selama ini menjadi fondasi utama dalam pengembangan ilmu falak.
Suasana halaqah berlangsung penuh kekhidmatan dan antusiasme dari para peserta. Diskusi yang berkembang selama kegiatan menunjukkan tingginya minat generasi muda terhadap pemanfaatan teknologi dalam bidang hisab dan astronomi Islam. Hal tersebut sekaligus menjadi indikator bahwa ilmu falak tetap memiliki ruang strategis dalam menjawab kebutuhan umat di tengah perkembangan era digital.
“Kami mengapresiasi langkah progresif yang dilakukan LF PWNU Jawa Timur. Hasil halaqah ini diharapkan dapat disebarluaskan dan diterapkan di daerah masing-masing sehingga manfaatnya semakin luas,” ujar Kyai Masrukhan dari Lembaga Falakiyah PBNU saat menutup kegiatan pada Ahad [21 Juni 2026].
Halaqah Falakiyah sendiri merupakan agenda konsolidasi rutin yang diselenggarakan LF PWNU Jawa Timur. Selain menjadi wadah pengembangan keilmuan, kegiatan tersebut juga berfungsi sebagai sarana mempererat silaturahmi serta menyamakan standar metode hisab di lingkungan Nahdlatul Ulama. Dengan penguatan kapasitas berbasis teknologi, diharapkan pelayanan falakiyah kepada masyarakat dapat semakin efektif tanpa meninggalkan khazanah keilmuan klasik yang telah diwariskan para ulama.
