Langkah berani itu yang kini diambil Kutai Timur dalam menapaki pembangunan berkelanjutan. Visi “Tangguh, Mandiri, dan Berdaya Saing” menjadi pijakan utama menuju masa depan yang lebih inklusif. Lembaga resmi daerah mencantumkan lima misi strategis: memperkuat SDM berkarakter, mendorong diversifikasi ekonomi berbasis pertanian, kehutanan, pariwisata, perikanan, memperkuat tata kelola, membangun konektivitas infrastruktur dasar dan digital, serta mengelola lingkungan hidup yang terpadu dan berkelanjutan
Pada saat yang sama, program SUSTAIN KUTIM yang dimulai sejak 2023 menjadi wujud nyata dari ambisi tersebut. Diprakarsai oleh GIZ, Proforest, dan Tanah Air Lestari (TAL), serta didukung oleh perusahaan global seperti Barry Callebaut, McDonald’s, Nestlé, dan PepsiCo, inisiatif ini bertujuan mentransformasi Kutai Timur menjadi wilayah pertanian yang berkelanjutan dengan fokus pada kelapa sawit dan karet.
“Kami sadar bahwa hutan bukan hanya milik kami, tapi untuk dunia. Karena itu, kami perlu dukungan semua pihak untuk melindunginya,” demikian pengakuan tulus Amai Martin, tokoh masyarakat Dayak dari Desa Miau Baru dalam sebuah pertemuan komunitas beberapa waktu lalu.
Kerjasama ini semakin konkret lewat penandatanganan kesepakatan bersama pada Oktober 2024, memperkuat landasan bagi kemitraan multi-pihak dalam pengelolaan HCV (High Conservation Value) secara terpadu.
Pada pertengahan 2025, capaian program menjadi bukti bahwa kolaborasi ini bukan omong kosong. Bappeda Kutai Timur telah membentuk Multi Stakeholder Forum sebagai platform dialog konstruktif antara pemerintah, perusahaan, petani, dan mitra pembangunan.
Identifikasi lahan HCV mencapai lebih dari 203.000 ha di lima desa prioritas, sementara 1.217 petani di atas 4.419 ha lahannya telah dimapping, dan 362 telah menerima sertifikat resmi (SHM) serta siap mendaftar ke sistem nasional STDB.
Beralih ke ranah pembangunan infrastruktur, pemerintah daerah juga menyiapkan skema investasi bertahap Multiyears 2026 yang fokus memperkecil ketimpangan antara pusat dan pedalaman, terutama pada akses jalan desa, listrik, dan air bersih—sebagai upaya konkret membangun konektivitas dan kesejahteraan wilayah pedalaman.
Dalam konteks ini, tantangan utama tetap seputar menyelaraskan pertumbuhan ekonomi dengan konservasi lingkungan. Kutai Timur memiliki potensi lahan luas dan hutan tropis kaya keanekaragaman hayati—mulai dari rawa, karst, mangrove, hingga habitat satwa yang kritis dilindungi.
Pemerintah mencoba menjaga kedua sisi ini: mendorong diversifikasi ekonomi berbasis sumber daya lokal, sekaligus menjaga ekosistem berharga lewat perlindungan HCV dan peningkatan akses komunitas terhadap pengelolaan SDA.
Secara ringkas, Kutai Timur kini berada di jalan transformasi yang progresif: visi RPJMD 2025–2029 mengarahkan arah, SUSTAIN KUTIM menjadi katalis, dan skema multiyears jadi jembatan infrastruktur bagi masa depan inklusif. Tantangan besar menghadang, namun momentum dan kerangka perencanaan tampaknya sudah selaras untuk membawa daerah ini ke era keberlanjutan yang nyata.
