Kutim – Wacana pemangkasan cabang olahraga dalam Pekan Olahraga Provinsi mendatang menjadi “awan gelap” di tengah persiapan para atlet Kutai Timur. Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kutai Timur, Rudy Hartono, meminta seluruh cabang olahraga tetap menjalankan pemusatan latihan meskipun kepastian mengenai jumlah cabang yang akan dipertandingkan belum diterbitkan.
Rudy mengatakan, sebanyak 64 cabang olahraga sebelumnya telah direncanakan mengikuti Porprov berdasarkan hasil pleno. Namun, muncul wacana dari pihak tuan rumah untuk mengurangi jumlah tersebut menjadi sekitar 50 cabang olahraga. Rencana itu belum bersifat final karena KONI masih mempertimbangkan kesiapan penyelenggara dan dampaknya terhadap atlet yang telah mengikuti tahapan kualifikasi.
“Sementara ini saya sampaikan ke ketua-ketua cabang olahraga, kita tetap saja walaupun belum ada kepastian. Laksanakan saja TC-nya, sehingga nanti saat cabang itu dipertandingkan atau tidak dipertandingkan, tidak juga mengganggu mereka,” kata Rudy Hartono.
Menurutnya, latihan yang telah dijalankan tidak akan menjadi kegiatan sia-sia apabila sebuah cabang olahraga akhirnya tidak masuk dalam agenda Porprov. Para atlet tetap memperoleh peningkatan kemampuan dan dapat memanfaatkan persiapan tersebut untuk mengikuti kejuaraan lain di tingkat daerah maupun nasional.
Namun, Rudy menilai pencoretan cabang olahraga berpotensi menimbulkan ketidakadilan, terutama bagi cabang yang sebelumnya mampu menyumbangkan prestasi. Ia mencontohkan adanya cabang olahraga yang berprestasi pada Pekan Olahraga Nasional, tetapi justru terancam tidak dipertandingkan pada tingkat provinsi.
“Sementara ada cabang olahraga, contoh misalnya, mereka mau tidak mempertandingkan cabang hoki. Sementara hoki kemarin peraih medali emas di PON. Kan lucu juga. Di PON bisa berprestasi, tetapi di Porprov tidak dipertandingkan,” ujarnya.
Kondisi tersebut, lanjut Rudy, telah menimbulkan keresahan di kalangan pengurus provinsi dan pengurus cabang olahraga. Mereka berharap keputusan akhir tidak menghilangkan cabang olahraga secara keseluruhan, melainkan hanya membatasi jumlah nomor pertandingan pada setiap cabang.
“Mudah-mudahan atas pertimbangan-pertimbangan, bukan cabang olahraganya yang dikurangi, tetapi nomor tanding saja,” tegasnya.
Skema pengurangan nomor pertandingan dinilai menjadi jalan tengah agar seluruh cabang olahraga yang telah masuk dalam hasil pleno tetap mendapatkan kesempatan tampil. Misalnya, sebuah cabang yang memiliki banyak nomor pertandingan dapat mengurangi beberapa nomor tanpa harus dikeluarkan sepenuhnya dari Porprov.
Rudy menilai kebijakan tersebut lebih berpihak kepada atlet. Sebagian besar atlet telah berlatih dalam waktu panjang dan mengikuti babak prakualifikasi untuk memperoleh tiket menuju Porprov. Apabila cabang olahraga dicoret menjelang pelaksanaan, harapan dan persiapan atlet berpotensi terhenti tanpa kesempatan untuk membuktikan kemampuannya.
“Kasihan atlet yang sudah punya harapan dan punya potensi untuk bisa ikut Porprov, akhirnya mereka gagal. Sementara Porprov ini merupakan pintu masuk bagi atlet untuk bisa ke tingkat nasional,” katanya.
Hasil Porprov, menurut Rudy, menjadi bagian penting dalam proses penjaringan atlet menuju ajang yang lebih tinggi, termasuk Pekan Olahraga Nasional. Karena itu, keputusan mengenai pengurangan cabang harus mempertimbangkan kesinambungan pembinaan dan masa depan atlet, bukan hanya kesiapan teknis penyelenggaraan.
Di tengah ketidakpastian tersebut, KONI Kutai Timur tetap menyalurkan bantuan pemusatan latihan dan uji tanding kepada seluruh cabang olahraga yang direncanakan mengikuti Porprov. Bantuan diberikan agar pengurus cabang dapat meningkatkan intensitas latihan, memperkuat kondisi fisik atlet, serta menguji kemampuan melalui sejumlah pertandingan persahabatan maupun kejuaraan.
“Semua cabang olahraga saya sampaikan agar konsentrasi melakukan TC. Dari pihak KONI juga sudah memberikan bantuan untuk dana TC maupun try-out. Mudah-mudahan dengan adanya bantuan itu, mereka bisa lebih intens lagi melakukan TC maupun try-out,” jelas Rudy.
Ia menyebut bantuan tersebut disalurkan kepada seluruh cabang olahraga yang masuk dalam rencana kontingen Kutai Timur. Kebijakan itu tetap dijalankan meskipun terdapat kemungkinan pengurangan jumlah cabang pada Porprov. KONI Kutim tidak ingin persiapan atlet terganggu hanya karena keputusan akhir belum ditetapkan.
Berdasarkan hasil babak kualifikasi, Kutai Timur berhasil masuk dalam jajaran empat besar. Dengan persiapan yang semakin matang, KONI Kutim menargetkan peningkatan prestasi dan berharap kontingen daerah tersebut mampu menembus tiga besar pada Porprov mendatang.
“Kita sudah mengantongi hasil babak kualifikasi dan masuk empat besar. Mudah-mudahan dengan persiapan-persiapan yang ada ini, kita bisa masuk tiga besar,” ucapnya.
Rudy juga menyinggung pentingnya ketertiban administrasi organisasi cabang olahraga. Kepengurusan yang masa baktinya telah berakhir diminta segera menggelar musyawarah cabang agar legalitas organisasi dan proses pembinaan atlet tidak terhambat. Hasil musyawarah selanjutnya akan direkomendasikan untuk penerbitan surat keputusan kepengurusan.
Ia mengapresiasi pengurus cabang olahraga yang selama ini aktif memberikan motivasi serta memfasilitasi perguruan dan klub untuk menjalankan kegiatan pembinaan. Aktivitas tersebut dinilai mampu melahirkan bibit-bibit atlet yang berpotensi mengharumkan nama Kutai Timur.
Dengan tetap berjalannya pemusatan latihan, bantuan dana, dan proses pembinaan, KONI Kutai Timur berharap keputusan mengenai jumlah cabang olahraga dapat berpihak kepada kepentingan atlet. Pengurangan nomor pertandingan dinilai menjadi pilihan yang lebih adil agar seluruh cabang tetap memperoleh ruang berkompetisi sekaligus menjaga peluang Kutai Timur mencapai target tiga besar.
