Sangatta – Permasalahan permodalan masih menjadi salah satu hambatan utama bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kutai Timur. Meski pemerintah telah memberikan bantuan modal usaha hingga Rp25 juta, jumlah tersebut dinilai belum memadai untuk mendukung pengembangan usaha secara optimal. Hal ini disampaikan oleh Anggota DPRD Kutai Timur, Yusri Yusuf, yang menilai bahwa penguatan sektor UMKM memerlukan lebih dari sekadar bantuan finansial.
Menurut Yusri, para pelaku UMKM juga membutuhkan pelatihan dan seminar guna meningkatkan keterampilan dan kapasitas mereka dalam berinovasi dan mengembangkan usaha. “Bantuan Rp25 juta itu bagus, tapi tidak cukup. Harus ada pelatihan atau seminar supaya pelaku UMKM bisa mengembangkan potensi dan bakatnya,” ungkap Yusri.
Keterbatasan Fasilitas Penunjang
Selain modal, kendala lainnya adalah keterbatasan sarana dan prasarana yang dimiliki pelaku UMKM. Banyak di antara mereka memiliki potensi besar, tetapi terhambat oleh minimnya fasilitas produksi, tempat pemasaran, hingga akses distribusi. Kondisi ini menyebabkan banyak usaha kecil berjalan stagnan dan sulit bersaing di pasar yang lebih luas.
Yusri menegaskan pentingnya perbaikan fasilitas penunjang untuk mendukung keberlanjutan dan pertumbuhan UMKM. “Pelatihan dan sarana prasarana itu perlu ditingkatkan. UMKM harus bisa berkembang, bersaing, dan tidak monoton,” tambahnya.
Dukungan berupa alat produksi modern, akses pemasaran berbasis teknologi digital, hingga jaringan distribusi yang lebih luas menjadi langkah strategis yang perlu segera diimplementasikan. Dengan begitu, UMKM dapat meningkatkan daya saing di tingkat lokal, nasional, bahkan global.
UMKM sebagai Motor Ekonomi Kutai Timur
UMKM telah lama dikenal sebagai salah satu pilar utama penggerak ekonomi di Kutai Timur. Di tengah tantangan ekonomi global, sektor ini mampu bertahan dan terus memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian daerah. Tak hanya itu, penguatan UMKM juga berperan dalam menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat, terutama di wilayah pedesaan.
Menurut data terakhir, sebagian besar pelaku UMKM di Kutai Timur bergerak di sektor perdagangan, kuliner, kerajinan tangan, dan jasa. Namun, tantangan yang mereka hadapi kerap kali serupa: minimnya akses permodalan, kurangnya pembinaan SDM, dan terbatasnya pasar.
“Kalau didukung secara maksimal, UMKM di Kutai Timur punya potensi besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif,” kata Yusri.
Strategi Penguatan UMKM
Melihat potensi besar UMKM, Yusri berharap pemerintah daerah dapat mengalokasikan program-program strategis yang berorientasi pada pengembangan sektor ini. Tidak hanya memberikan bantuan modal, tetapi juga mencakup pembinaan SDM, peningkatan infrastruktur, dan digitalisasi usaha.
Pemerintah perlu melibatkan berbagai pihak, termasuk lembaga keuangan, perguruan tinggi, dan komunitas bisnis untuk mendukung pengembangan UMKM secara holistik. Pelatihan tentang manajemen keuangan, pemasaran digital, hingga penggunaan teknologi canggih dalam produksi dapat membantu pelaku usaha untuk lebih inovatif dan efisien.
Yusri juga menyoroti pentingnya kolaborasi antar pelaku UMKM untuk menciptakan ekosistem yang mendukung keberlanjutan usaha. Dengan adanya jaringan kolaborasi, pelaku usaha dapat saling bertukar informasi, ide, dan sumber daya untuk memajukan bisnis mereka.
“Dukungan ini tidak bisa setengah-setengah. UMKM perlu dilihat sebagai aset yang harus terus diberdayakan,” tegas Yusri.
Harapan untuk Masa Depan UMKM
Meski banyak tantangan, Yusri optimistis sektor UMKM di Kutai Timur mampu berkembang pesat jika didukung dengan kebijakan yang tepat. Pemerintah diharapkan terus memperhatikan kebutuhan para pelaku UMKM dan memberikan solusi yang relevan dengan tantangan yang dihadapi.
Dengan pengembangan yang terarah, UMKM tidak hanya berkontribusi pada perekonomian daerah, tetapi juga menjadi penopang bagi ketahanan ekonomi masyarakat secara keseluruhan.
Yusri menutup pernyataannya dengan ajakan kepada semua pihak untuk bersinergi dalam memajukan sektor UMKM. “Mari kita jadikan UMKM sebagai motor penggerak utama ekonomi di Kutai Timur. Kita harus memberikan dukungan penuh, baik dari sisi modal, SDM, maupun infrastruktur, agar mereka bisa bersaing dan membawa nama baik daerah,” pungkasnya.
