Kutai Timur – “Saya ternyata masih diperhatikan orang tua.” Kesan itu muncul di tengah kegiatan Satu Jam Bersama Orang Tua Murid–Jumat Bersih yang digelar di SMAN 1 Sangatta Utara pada Jumat (31/7/2026). Tidak hanya membersihkan ruang kelas dan halaman sekolah, kegiatan tersebut juga menjadi jembatan yang mendekatkan hubungan orang tua dengan anak-anak mereka.
Kegiatan yang diinisiasi Komite SMAN 1 Sangatta Utara atau SMANSATARA itu melibatkan orang tua murid, komite kelas, guru, dan para siswa. Seluruh peserta bergotong royong membersihkan kelas serta halaman sekolah selama kurang lebih satu jam. Selain menciptakan lingkungan belajar yang bersih dan nyaman, kegiatan tersebut ditujukan untuk memperkuat kerja sama antara keluarga dan pihak sekolah dalam mendukung perkembangan murid.

Nur Aini Julia Putri, murid kelas XII-7 Pajajaran, menilai kegiatan Jumat Bersih memberikan dampak yang besar dan positif. Menurutnya, manfaat kegiatan tidak hanya terlihat dari kondisi sekolah yang menjadi lebih bersih, tetapi juga dari meningkatnya kedekatan antara orang tua dan anak.
“Menurut saya, kegiatan hari ini dampaknya sangat besar dan tentu positif. Selain untuk kebersihan sekolah, kegiatan ini juga untuk kedekatan antara orang tua dan anak,” kata Nur Aini Julia Putri.
Ia menjelaskan, banyak orang tua memiliki kesibukan pekerjaan sehingga tidak selalu mempunyai cukup waktu untuk menemani anak. Kehadiran orang tua dalam kegiatan sekolah membuat murid merasa mendapat perhatian dan dukungan secara langsung.
“Banyak orang tua yang sibuk bekerja dan tidak sempat untuk anaknya. Dengan kegiatan ini, anak-anak masih merasa, ‘Wah, saya ternyata masih diperhatikan oleh orang tua saya sampai datang ke sekolah untuk membantu membersihkan sekolah saya,’” ujarnya.
Menurut Nur Aini, kegiatan tersebut berjalan lancar dan mendapat sambutan baik. Orang tua yang hadir tidak sekadar menyaksikan, tetapi ikut terlibat membersihkan sekolah dan mendampingi anak-anak mereka selama kegiatan berlangsung.
Ia menyebut partisipasi orang tua menjadi bentuk dukungan yang sangat berarti bagi para murid. Dukungan tersebut dapat menumbuhkan semangat belajar sekaligus memperkuat rasa memiliki terhadap sekolah.
“Hari ini berjalan lancar, semuanya ikut bersih-bersih. Orang tua juga banyak yang datang untuk mendukung anak-anaknya,” katanya.
Nur Aini berharap kegiatan serupa dapat terus diadakan pada masa mendatang. Menurutnya, pelaksanaan satu kali dalam sebulan lebih memungkinkan dibandingkan setiap pekan karena perlu mempertimbangkan kesibukan dan jadwal kerja orang tua.
“Semoga tahun depan tetap ada kegiatan seperti ini lagi. Semoga SMANSATARA selalu sukses dan orang tua selalu mendukung anak-anaknya,” ujarnya.
Ia menambahkan, kegiatan bulanan dapat menjadi pilihan yang tepat agar keterlibatan orang tua tetap terjaga tanpa terlalu membebani jadwal mereka.
“Mungkin satu bulan sekali, karena kalau setiap minggu bisa saja berbenturan dengan jadwal orang tua dan ada yang tidak sempat,” katanya.

Pandangan senada disampaikan Debbie, Ketua Komite Kelas XI-3. Ia menjelaskan bahwa kegiatan Satu Jam Bersama Orang Tua Murid diisi dengan gotong royong membersihkan kelas dan halaman sekolah.
“Kegiatan kita adalah satu jam bersama orang tua. Jadi, kita membersihkan kelas dan halaman sekolah. Semua orang tua diajak hadir dan bersama-sama ikut bersih-bersih,” kata Debbie.
Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan program komite yang dijalankan melalui kerja sama dengan orang tua, guru, dan warga sekolah. Kolaborasi itu dibangun untuk membantu sekolah menciptakan lingkungan yang lebih baik bagi para murid.
“Kegiatan ini dari komite, jadi kita bekerja sama dengan orang tua dan guru,” ujarnya.
Debbie berharap kebersamaan yang terbangun dalam kegiatan tersebut dapat terus dipertahankan. Ia menilai kemajuan sekolah membutuhkan dukungan seluruh pihak, terutama orang tua yang memiliki peran penting dalam perkembangan dan pendidikan anak.
“Semoga sekolah semakin maju dan kita semua sebagai orang tua bisa bersama-sama mendukung kemajuan anak-anak kita,” katanya.

Ketua OSIS SMAN 1 Sangatta Utara, Irvan Rasyad, menilai keterlibatan komite sekolah dan orang tua membuat kegiatan kebersihan dapat menjangkau lingkungan sekolah secara lebih luas.
Menurut Irvan, kegiatan tersebut memberikan manfaat besar bagi para siswa karena aktivitas kebersihan sehari-hari umumnya lebih banyak dilakukan di dalam atau sekitar ruang kelas. Melalui kerja bersama komite, orang tua, guru, dan siswa, area halaman serta sejumlah bagian lingkungan sekolah dapat dibersihkan secara menyeluruh.
“Mungkin kegiatan ini sangat bermanfaat untuk teman-teman yang ada di sekolah ini, Pak. Karena seperti kita ketahui, di SMAN 1 Sangatta Utara kalau bersih-bersih biasanya hanya di lingkungan kelas saja. Dengan adanya komite, kita bisa bersih-bersih di lingkungan sekolah,” kata Irvan Rasyad.
Kegiatan tersebut menjadi ruang kolaborasi antara siswa dengan unsur sekolah dan keluarga. Para peserta tidak hanya merapikan kelas, tetapi juga membersihkan halaman serta area yang berpotensi menjadi tempat berkumpulnya sampah, genangan air, nyamuk, dan jentik-jentik.
Irvan berharap kondisi lingkungan yang lebih bersih dapat mengurangi berbagai gangguan yang berpotensi memengaruhi kenyamanan dan kesehatan warga sekolah. Menurutnya, kebersihan yang dilakukan bersama-sama juga dapat membangun kesadaran siswa bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tugas petugas kebersihan atau siswa yang sedang mendapat jadwal piket.
“Mungkin nyamuk dan jentik-jentik bisa berkurang semuanya,” ujarnya.
Selain berdampak pada kebersihan, kegiatan Satu Jam Bersama Orang Tua Murid juga dinilai mampu mempererat hubungan komite sekolah dengan para siswa. Irvan berharap komite tidak hanya terlibat dalam urusan administrasi atau pertemuan dengan orang tua, tetapi juga semakin sering hadir dalam kegiatan yang bersentuhan langsung dengan kehidupan siswa di sekolah.
“Harapan ke depannya, semoga komite sekolah bisa lebih dekat kepada siswa-siswa,” katanya.
Irvan menjelaskan bahwa OSIS SMAN 1 Sangatta Utara telah memiliki sejumlah program yang berkaitan dengan kedisiplinan dan kebersihan kelas. Program tersebut tidak hanya menilai kelas terbersih, tetapi juga mengukur kecepatan siswa dalam menyiapkan barisan sebelum kegiatan sekolah dimulai.
Dalam pelaksanaannya, OSIS menunjuk penanggung jawab atau PJ untuk melakukan pemantauan terhadap setiap kelas. Para petugas tersebut mengamati kecepatan siswa saat berbaris serta mencatat kelas yang tertib maupun yang masih terlambat.
“Di OSIS bukan hanya ada penilaian kelas terbersih, Pak. Ada juga kelas tercepat. Di setiap kelas kami mempunyai PJ yang menilai semua kelas,” kata Irvan.
Ia mencontohkan, apabila satu kelas membutuhkan waktu lebih lama untuk menyiapkan barisan, sementara kelas lain lebih cepat dan tertib, hasilnya akan dicatat oleh petugas. Pengumuman mengenai kelas tercepat dan kelas yang masih terlambat kemudian disampaikan saat upacara pada hari Senin.
“Nanti misalnya kelas X-1 sangat lambat saat berbaris, tetapi kelas X-2 sangat cepat.Waktu upacara hari Senin akan diumumkan siapa kelas tercepat dan siapa kelas yang terlambat,” ujarnya.
Mekanisme serupa juga diterapkan dalam penilaian kebersihan. Setelah kegiatan belajar selesai, para penanggung jawab berkeliling untuk memeriksa kondisi masing-masing ruang kelas. Dokumentasi berupa foto digunakan sebagai bahan penilaian dan evaluasi.
“Untuk kebersihan, setiap pulang sekolah masing-masing PJ akan berkeliling kelas untuk memfoto. Setelah itu, kami akan melakukan penilaian dan membagikannya ke grup,” tutupnya.
