Tanah suci yang sakral — begitulah Baitul Maqdis dipandang dalam sejarah Islam. Tak hanya menjadi arah kiblat pertama umat Muslim, kota ini juga menjadi saksi hidup perjalanan para nabi besar. Dari Nabi Sulaiman, Nabi Zakaria, Nabi Yahya hingga Maryam, semua jejak perjuangan mereka terukir dalam dinding spiritual kota suci ini.
Baitul Maqdis, atau yang kini dikenal sebagai Yerusalem, telah lama menjadi pusat keagamaan tiga agama besar dunia. Namun dalam Islam, kota ini menyimpan makna lebih dalam: sebagai tempat diturunkannya wahyu, lahirnya nabi-nabi mulia, dan berdirinya Masjidil Aqsa — masjid ketiga tersuci setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.
Nabi Sulaiman AS, dikenal sebagai nabi sekaligus raja agung, memimpin Bani Israil dari istananya yang megah di Baitul Maqdis. Dalam doanya yang termaktub dalam Al-Qur’an, beliau memohon kepada Allah agar diberikan kerajaan yang tak akan dimiliki oleh siapa pun setelahnya. Allah mengabulkan permintaan itu, memberinya kekuasaan atas angin, jin, dan hewan.
“Nabi Sulaiman adalah simbol kekuasaan yang tunduk pada kehendak Ilahi, bukan kesombongan manusia,” ujar seorang sejarawan Islam dalam kajian tafsir di Masjidil Aqsa.
Sementara itu, Nabi Zakaria AS adalah imam yang menjaga keimanan umat di Baitul Maqdis. Beliau diberi amanah untuk mengasuh Maryam dan memeliharanya dalam kesucian. Dalam usia senja, doanya dikabulkan dan lahirlah Nabi Yahya AS, anak yang membawa misi kerasulan sejak muda.
Nabi Yahya dikenal karena keteguhannya dalam menyampaikan kebenaran, bahkan ketika harus menghadapi penguasa zalim. Keberanian dan kejujurannya menjadi warisan nilai yang hidup di tengah umat hingga hari ini.
Kisah-kisah ini bukan sekadar catatan sejarah. Ia menjadi cermin bahwa tempat suci seperti Baitul Maqdis bukan hanya tempat bersejarah, tetapi juga ladang perjuangan, kesabaran, dan penantian atas janji Allah. Di kota ini pula, keajaiban Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW bermula, menghubungkan langit dan bumi dalam sekali perjalanan.
Baitul Maqdis bukan hanya simbol konflik atau sejarah yang membeku dalam batu. Ia adalah mercusuar spiritual yang mengingatkan umat tentang keteguhan, amanah, dan cinta kepada kebenaran.
Semoga kita bisa meneladani para nabi, menjaga kemuliaan tempat suci, dan tidak melupakan jejak perjuangan yang sudah mereka torehkan untuk kebaikan umat.
