Jember – Suasana akrab menyelimuti Pendopo Desa Kecamatan Jombang pada Jumat (8/11/2025) ketika ratusan ketua RT dan RW berkumpul dalam agenda “Gus’e Menyapa” bersama Bupati Jember, Muhammad Fawait. Dengan gaya khasnya yang sederhana, pria yang akrab disapa Gus Fawait itu menegaskan bahwa kehadirannya bukan untuk kepentingan politik, melainkan bentuk tanggung jawabnya sebagai pemimpin daerah yang ingin mendengar langsung aspirasi masyarakat di tingkat akar rumput.
Ia menegaskan, masa pemilihan kepala daerah masih jauh dan dirinya datang tanpa agenda politik. “Saya datang bukan untuk kampanye. Semua warga Jember adalah rakyat saya, dan kewajiban saya adalah melayani,” ujar Gus Fawait disambut tepuk tangan meriah dari para peserta pertemuan.
Menurut Gus Fawait, keberhasilan program daerah sangat bergantung pada peran RT dan RW yang menjadi ujung tombak pelayanan publik. Mereka, katanya, lebih memahami persoalan riil masyarakat dibanding pejabat struktural di tingkat kecamatan atau dinas. “RT dan RW adalah garda depan pemerintahan. Mereka lebih tahu keadaan warga dibanding kepala dinas atau camat,” ujarnya menegaskan.
Putra asli Desa Wringinagung, Kecamatan Jombang itu juga menyampaikan komitmennya untuk meningkatkan kesejahteraan para ketua RT dan RW secara bertahap. Ia memastikan seluruh perangkat RT dan RW telah terdaftar dalam BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan, termasuk anggota keluarganya, sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi mereka dalam melayani masyarakat.
Kebijakan tersebut, lanjutnya, merupakan bagian dari visi besar untuk memperluas akses layanan publik yang merata. Ia menegaskan kembali keberlakuan Universal Health Coverage (UHC) sejak 1 April 2025 yang memungkinkan seluruh warga ber-KTP Jember berobat gratis di fasilitas kesehatan mana pun di Indonesia. “Kalau ada warga Jember yang tidak bisa berobat atau melahirkan di tempat yang layak, maka dosanya ditanggung Bupati,” kisahnya mengenang pesan sang ibunda yang selalu menekankan pentingnya kepedulian pada kesehatan rakyat.
Sebagai wujud komitmen itu, Gus Fawait bahkan membatalkan rencana pembelian mobil dinas baru dan mengalihkan anggarannya ke sektor kesehatan. Langkah tersebut disambut positif oleh para peserta yang menilai kepemimpinannya mencerminkan empati dan keberpihakan nyata terhadap warga kecil.
Perhatian Gus Fawait juga tertuju pada sektor pendidikan. Ia menilai pendidikan adalah jalan keluar dari kemiskinan yang masih membelit sebagian masyarakat Jember. Karena itu, Pemerintah Kabupaten Jember meningkatkan kuota beasiswa Cinta Bergema dari 8.000 menjadi 20.000 penerima, termasuk bagi anak perangkat desa serta RT dan RW. “Tidurnya orang berilmu lebih baik dari ibadah orang awam. Pendidikan adalah investasi terbesar,” ungkapnya penuh keyakinan.
Menutup acara, Gus Fawait menegaskan kembali pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat. Ia ingin membangun pemerintahan yang benar-benar hadir di tengah rakyat, bukan sekadar bekerja dari balik meja. “Saya percaya, dengan kebersamaan, Jember bisa menjadi lebih maju dan sejahtera,” tutupnya.
Pertemuan “Gus’e Menyapa” di Jombang bukan sekadar ajang silaturahmi, tetapi simbol kepemimpinan yang menumbuhkan kepercayaan, kedekatan, dan rasa tanggung jawab antara pemerintah dan masyarakat di Kabupaten Jember. (ADV).
