Kediri – Di tengah dinamika menuju Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama, sejumlah tokoh muda Nahdliyin mengingatkan bahwa organisasi besar ibarat pohon yang kokoh apabila ditopang akar yang kuat. Karena itu, penguatan ekonomi jam’iyah dan penjagaan independensi ulama dinilai menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan organisasi di masa mendatang.
Gagasan tersebut mengemuka dalam pertemuan Forum Gawagis Nusantara, Majelis Kaum Muda NU Mataraman, dan sejumlah elemen pemuda NU yang berlangsung di Balai Latihan Kerja Komunitas (BLKK) Tabassam Al Falah, Dusun Tanjang, Desa Ploso, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, Sabtu (20/6/2026). Forum yang digelar di sela rangkaian Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) NU itu membahas sejumlah isu strategis menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 NU yang dijadwalkan berlangsung tahun ini.
Salah satu pokok bahasan yang mendapat perhatian adalah penguatan kemandirian ekonomi organisasi melalui pengelolaan dana umat yang lebih terstruktur. Pengurus Pondok Pesantren Darul Hikam Joresan Ponorogo sekaligus perwakilan Forum Gawagis Wilayah Mataraman Barat, Gus Nabil Hasbullah, menilai besarnya jumlah warga Nahdlatul Ulama merupakan potensi ekonomi yang perlu dikelola secara sistematis.
“Potensi zakat dan sedekah warga NU sangat besar. Jika dikelola dengan tata kelola yang baik, manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh umat dan organisasi,” ujar Gus Nabil.
Menurutnya, pembentukan sistem pengelolaan zakat, infak, dan sedekah yang transparan dan akuntabel melalui konsep Baitul Maal dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat kemandirian jam’iyah. Selain itu, pendataan warga dan pemetaan potensi ekonomi di berbagai daerah dinilai penting sebagai landasan dalam merumuskan kebijakan yang lebih tepat sasaran.
Pandangan serupa disampaikan oleh perwakilan Pemuda NU, Rendra Setiawan atau Gus Rendra. Ia menilai kemandirian ekonomi memiliki hubungan erat dengan kemampuan organisasi dalam menjaga independensinya ketika mengambil keputusan.
“Kami tidak sedang berbicara soal figur, tetapi tentang sistem yang akan menjaga keberlanjutan NU ke depan,” kata Gus Rendra.
Menurutnya, penguatan sumber daya ekonomi internal akan membantu organisasi mengurangi ketergantungan terhadap dukungan eksternal sekaligus meningkatkan kemampuan dalam memberikan pelayanan kepada warga Nahdliyin.
Selain persoalan ekonomi, forum tersebut juga menyatakan dukungan agar Muktamar ke-35 NU dapat diselenggarakan di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Para peserta juga memberikan sejumlah catatan terhadap wacana perubahan aturan organisasi yang berkembang menjelang muktamar, termasuk mengenai kedudukan Syuriyah dalam struktur kepemimpinan serta pembahasan zonasi dalam mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).
Peserta forum menilai posisi Syuriyah sebagai otoritas keagamaan dalam tubuh Nahdlatul Ulama perlu dipertahankan sesuai tradisi yang telah diwariskan para pendiri organisasi. Mereka juga mengingatkan pentingnya menjaga hubungan yang proporsional antara NU dan kekuasaan agar organisasi tetap mampu berkontribusi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tanpa kehilangan independensinya.
Berbagai gagasan yang muncul dalam forum tersebut diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan menjelang Muktamar ke-35 NU. Para tokoh muda Nahdliyin berharap penguatan ekonomi, tata kelola organisasi, serta peran ulama dapat menjadi pijakan penting dalam menjaga keberlangsungan dan marwah Nahdlatul Ulama di masa mendatang.
