Jakarta – Badan Kepegawaian Negara (BKN) mengonfirmasi bahwa dugaan kebocoran data Aparatur Sipil Negara (ASN) yang dilaporkan menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-79 Republik Indonesia (HUT ke-79 RI) tidak berdampak pada operasional layanan manajemen ASN.
“BKN memastikan bahwa dugaan kebocoran ini tidak mengganggu layanan manajemen ASN, sehingga sistem elektronik yang digunakan masyarakat tetap berjalan lancar,” ujar Vino Dita Tama, Pelaksana Tugas Kepala Biro Hubungan Masyarakat, Hukum, dan Kerja Sama BKN.
Meski begitu, BKN mengingatkan seluruh pengguna layanannya untuk meningkatkan keamanan akun mereka demi mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.
“Kami mengimbau agar seluruh pengguna layanan BKN segera memperbarui kata sandi mereka secara berkala untuk meningkatkan keamanan,” tambahnya.
Selain itu, BKN bekerja sama dengan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) dan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) untuk menyelidiki lebih lanjut dugaan kebocoran data ASN tersebut.
“Investigasi ini bertujuan untuk memastikan keamanan data ASN dan menentukan langkah mitigasi yang diperlukan,” ujar Vino.
Sebelumnya, Lembaga Riset Keamanan Siber CISSReC melaporkan bahwa kebocoran data pribadi kembali terjadi menjelang peringatan HUT ke-79 RI, dengan Badan Kepegawaian Negara (BKN) sebagai target peretasan.
“Temuan ini bermula dari sebuah unggahan di Breachforums oleh seorang peretas anonim bernama TopiAx pada Sabtu, 10 Agustus 2024,” kata Dr. Pratama Persadha, Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber CISSReC.
Dalam unggahan tersebut, lanjut Pratama, peretas mengklaim telah memperoleh 4.759.218 baris data dari BKN yang berisi informasi penting seperti nama, tempat lahir, tanggal lahir, gelar, tanggal CPNS, tanggal PNS, NIP, nomor SK CPNS, dan nomor SK PNS.
Selain itu, data yang bocor juga mencakup golongan, jabatan, instansi, alamat, nomor identitas, nomor HP, email, pendidikan, jurusan, dan tahun lulus.
Lebih lanjut, peretas yang aktif di forum jual beli data hasil peretasan ini menawarkan seluruh data tersebut dengan harga 10.000 dolar AS (sekitar Rp160 juta).
