Kutim – Dalam upaya memerangi tiga penyakit mematikan, yakni AIDS, Tuberkulosis (TBC), dan malaria (ATM), Dinas Kesehatan Kutai Timur mengambil langkah-langkah strategis untuk mengeliminasi ancaman ini. Kepala Dinas Kesehatan, Bahrani, mengungkapkan bahwa TBC menjadi sorotan utama dengan target eliminasi pada tahun 2030.
Bahrani menekankan urgensi investigasi kontak dalam penanganan TBC, menyadari bahwa satu individu yang terinfeksi dapat menularkan penyakit ini kepada 15 hingga 20 orang. “TBC tidak kunjung usai karena penanganannya belum mencapai titik akhir. Kami ingin menggunakan pengalaman penanganan COVID-19 sebagai panduan untuk memobilisasi seluruh sektor,” ujarnya, Selasa (21/11/2023).
Dengan keyakinan bahwa TBC yang sudah mengancam sejak berabad-abad lalu dapat dieliminasi pada tahun 2030, Bahrani mengakui bahwa eliminasi bukanlah tugas mudah. Namun, ia optimis dengan penurunan angka kasus TBC menuju target di tahun 2030.
Berita baiknya, penemuan-penemuan baru dalam pengobatan TBC telah mempersingkat proses pengobatan. Generasi baru obat-obatan dan pencegah kini telah ditemukan, membuka jalan menuju eliminasi. “Upaya distribusi obat ke tingkat kecamatan secara nasional telah dilakukan, mencakup seluruh Indonesia,” ucapnya.
Bahrani menekankan peran edukasi untuk mencegah penularan TBC, dengan menggandeng masyarakat agar memahami cara penularannya. “Ketika ada yang terkena TBC di keluarga, mereka harus tahu cara penularannya dan bagaimana mencegah penularan, termasuk pengawasan minum obat yang kritis,” ungkapnya.
Pentingnya keterlibatan sektor publik dan swasta terungkap melalui Distrik Public Private Mix (DPPM) yang melibatkan klinik, rumah sakit swasta, dan negeri dalam pencatatan dan pelaporan. Kolaborasi lintas sektor diharapkan dapat meningkatkan efektivitas penanganan, membawa harapan untuk mengakhiri ancaman penyakit mematikan ini di Kutai Timur.
