Kutim – Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutai Timur, dr. Bahrani, mengungkapkan keprihatinan menghadapi meningkatnya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di wilayahnya. Meskipun Kutai Timur dikenal sebagai daerah dengan kawasan perkebunan kelapa sawit yang luas, dr. Bahrani menyoroti permasalahan debu di jalan-jalan sebagai faktor penyebab potensial bagi lonjakan kasus ISPA.
Bahrani menekankan kesulitan dalam menentukan kecamatan yang paling banyak mengidap ISPA karena angka kejadian merata di setiap puskesmas. “Mobilisasi orang ini tinggi, kadang sulit menentukan kecamatan yang menjadi fokus utama. ISPA menyebar hampir merata, dan meskipun banyak kawasan sawit, debu dari jalan-jalan yang berdebu juga menjadi kontributor,” ungkap dr. Bahrani pada Selasa (21/11/2023).
Meskipun debu tambang menjadi salah satu faktor yang mungkin memengaruhi kesehatan pernapasan, ia menegaskan bahwa tidak pernah ada laporan resmi mengenai masalah ISPA yang disebabkan oleh debu tambang.
Dinkes Kutai Timur telah meluncurkan program kesehatan paru-paru untuk mengatasi dampak debu tambang, namun program ini dihadapkan pada tantangan, terutama dalam hal keterbatasan laboratorium. “Kami memiliki program untuk mengatasi dampak debu tambang terhadap kesehatan paru-paru, namun kami menghadapi keterbatasan, terutama dalam hal laboratorium yang belum sepenuhnya maksimal,” katanya.
Pemerintah setempat terus berupaya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dan mencari solusi terbaik untuk mengurangi kasus ISPA di Kutai Timur. Dalam menghadapi permasalahan yang kompleks ini, Bahrani menekankan pentingnya dukungan dari berbagai pihak untuk mencapai perbaikan yang signifikan.
Sebagai respons terhadap kondisi tersebut, diperlukan kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan pihak terkait lainnya. Upaya bersama ini diharapkan dapat mengurangi angka kejadian ISPA dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kutai Timur. Masyarakat diimbau untuk ikut serta dalam mendukung langkah-langkah pencegahan dan menciptakan lingkungan yang lebih sehat.
