Riak Mahakam menyimpan kisah dua kerajaan besar yang pernah bersaing memperebutkan kejayaan di Kalimantan Timur: Kutai Martapura dan Kutai Kartanegara. Pertarungan politik dan wilayah di antara keduanya pada awal abad ke-17 tidak hanya membentuk peta kekuasaan baru, tetapi juga membuka jalan bagi lahirnya peradaban Islam di tanah Borneo.
Kedua dinasti ini lahir dari akar sejarah berbeda. Kutai Martapura (Ing Martadipura) di Muara Kaman adalah kerajaan Hindu tertua di Nusantara. Sementara Kutai Kartanegara, yang muncul kemudian di Kutai Lama, tumbuh sebagai kerajaan maritim yang kelak menjelma menjadi Kesultanan Islam Kutai Kartanegara Ing Martadipura.
Jejak Lama di Muara Kaman
Muara Kaman dikenal sebagai tempat ditemukannya tujuh prasasti batu Yupa yang berhuruf Pallawa dan berbahasa Sanskerta. Prasasti itu menjadi bukti kejayaan Kerajaan Kutai Martapura pada abad ke-4 Masehi, di bawah kepemimpinan Raja Mulawarman, putra Aswawarman, dan cucu Kudungga.
Kerajaan ini bercorak Hindu dan berhubungan erat dengan India Selatan. Pengaruh itu tampak dalam ritual, bahasa, dan simbol kekuasaan. Lembuswana, makhluk mitologis berkepala naga dan bertubuh gajah, menjadi ikon kerajaan hingga kini.
Selama berabad-abad, Kutai Martapura berjaya di pedalaman Mahakam. Namun, ketika jalur perdagangan laut berkembang pesat, muncul kekuatan baru di pesisir yang perlahan mengubah arah sejarah.
Munculnya Dinasti Baru di Kutai Lama
Sekitar abad ke-14, berdirilah Kerajaan Kutai Kartanegara di Kutai Lama, wilayah yang kini termasuk Kecamatan Anggana. Raja pertamanya, Aji Batara Agung Dewa Sakti, membangun kekuasaan dengan orientasi maritim. Ia menjalin hubungan dagang dengan Majapahit, Brunei, Champa, dan Cina, menjadikan Kutai sebagai pelabuhan penting di jalur perdagangan Nusantara.
Dari pelabuhan inilah, pengaruh Islam mulai masuk lewat para pedagang Melayu, Banjar, dan Bugis. Mereka membawa lebih dari sekadar barang dagangan—mereka membawa nilai, etika, dan ajaran Islam yang damai.
Seiring waktu, Kutai Kartanegara tumbuh menjadi kekuatan besar yang menyaingi kejayaan Martapura. Persaingan darah dan tahta pun tak terelakkan.
Ketegangan Dua Dinasti
Menjelang tahun 1600, Kutai Martapura yang mulai melemah dipimpin oleh Maharaja Dharma Setia, sementara Kutai Kartanegara di bawah Aji Pangeran Sinom Panji Mendapa (1605–1635) tumbuh menjadi kerajaan kuat dan modern.
Panji Mendapa ingin menyatukan Mahakam di bawah satu kekuasaan. Ia memimpin ekspedisi besar dari Kutai Lama menuju Muara Kaman. Pertempuran hebat pun terjadi antara dua dinasti. Tiga maharaja Martapura — Dharma Setia, Setia Guna, dan Setia Yuda — berjuang mempertahankan kejayaan leluhur. Namun pasukan Kartanegara akhirnya menang.
Kemenangan itu bukan hanya politik, tetapi juga simbol penyatuan. Setelah perang, Panji Mendapa memilih berdamai. Ia tidak memusnahkan Martapura, tetapi menggabungkan warisannya ke dalam kerajaan baru bernama Kutai Kartanegara Ing Martadipura.
“Langkah Panji Mendapa adalah bentuk kebijaksanaan seorang pemimpin yang memahami arti persatuan,” tulis akademisi IAIN Samarinda, Samsir, dalam Jurnal Ri’ayah (2018).
Setelah Pertempuran: Datangnya Islam
Beberapa tahun setelah penyatuan dua kerajaan, perubahan besar terjadi. Raja Mahkota Mulia Islam, penerus Panji Mendapa, menerima ajaran Islam sekitar tahun 1607 M.
Gelombang dakwah datang dari Kerajaan Gowa-Tallo di Sulawesi Selatan, yang lebih dulu memeluk Islam pada 1605. Dua mubalig terkenal, Tuan Tunggang Parangan dan Datuk Ribandang, menyeberangi Selat Makassar menuju Kutai Lama.
Mereka berdakwah dengan cara lembut dan penuh hikmah. Fokusnya bukan rakyat, melainkan raja dan bangsawan istana. Metode ini dikenal sebagai dakwah dari atas ke bawah. Setelah Raja Mahkota mengucapkan dua kalimat syahadat, rakyat pun mengikuti tanpa paksaan.
Islamisasi Pasca-Penyatuan
Penyatuan politik dan masuknya Islam berjalan beriringan. Masjid besar dibangun di Kutai Lama, menjadi pusat ibadah sekaligus pendidikan. Di sinilah dasar-dasar tauhid, salat, puasa, dan akhlak diajarkan.
Raja memerintahkan pembelajaran agama bagi bangsawan dan rakyatnya. Dari Kutai Lama, dakwah menyebar ke seluruh penjuru Mahakam — dari Sangkulirang di utara hingga Loa Bakung di pedalaman.
Islam hadir tanpa menggantikan sepenuhnya adat lama. Upacara tradisional tetap berlangsung, hanya diberi makna baru yang sejalan dengan nilai Islam. Wajah Kutai pun berubah: dari kerajaan Hindu yang sakral menjadi kesultanan Islam yang penuh harmoni.
Dari Konflik ke Kedamaian
Sejarah mencatat bahwa pertempuran antara Kutai Martapura dan Kutai Kartanegara bukanlah akhir peradaban, melainkan awal bagi transformasi spiritual dan sosial. Dari peperangan lahir persatuan. Dari dua dinasti lahir kesultanan yang berlandaskan iman.
Kutai Kartanegara Ing Martadipura menjadi simbol perpaduan antara politik, budaya, dan agama. Dari istana hingga rakyat, semangat Islam berkembang dalam suasana damai.
Kini, sisa-sisa masa lalu itu masih hidup. Di Muara Kaman, prasasti Yupa berdiri tegak mengingatkan kejayaan Hindu kuno. Sementara di Kutai Lama, makam para raja dan Masjid Jami Hasanuddin menjadi saksi penyebaran Islam pertama di Kalimantan Timur.
Sungai Mahakam terus mengalir membawa cerita: tentang perang yang berubah jadi persaudaraan, dan tentang iman yang datang dengan kedamaian.
Dalam arusnya, sejarah Kutai mengajarkan satu kearifan: bahwa kekuasaan boleh berganti, tetapi hikmah dan kedamaian akan selalu abadi.
