Jember – Kehadiran pemerintah di tengah masyarakat dinilai menjadi kunci membangun kepercayaan publik. Melalui program Bunga Desaku (Bupati Ngantor di Desa dan Kelurahan), Pemerintah Kabupaten Jember kembali turun langsung ke desa-desa untuk menyerap aspirasi warga sekaligus memastikan berbagai program pembangunan dapat dipahami oleh masyarakat hingga ke tingkat bawah.
Kegiatan Bunga Desaku digelar di sejumlah titik di Kecamatan Pakusari, Senin (20/7/2026). Dalam agenda tersebut, Bupati Jember Muhammad Fawait berdialog dengan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pedagang kaki lima (PKL), pedagang keliling, serta masyarakat setempat mengenai berbagai persoalan dan kebutuhan di wilayah mereka.
“Dengan Bunga Desaku, kita ingin menunjukkan bahwa pemerintah hadir di tengah-tengah masyarakat. Masyarakat kalau melihat pemerintahnya hadir dengan bahasa yang simpel sambil guyon-guyon, mereka sudah bahagia. Ada harapan dari mereka dan kepercayaan kepada pemerintah,” ujar Muhammad Fawait.
Menurut Fawait, masih terdapat masyarakat, khususnya di wilayah pinggiran, yang belum memperoleh informasi secara utuh mengenai berbagai program prioritas Pemerintah Kabupaten Jember. Karena itu, pemerintah tidak hanya mengandalkan media massa maupun media sosial, tetapi juga menggandeng para pelaku usaha kecil agar menjadi mitra dalam menyebarluaskan informasi kepada masyarakat.
“Walaupun sudah dibantu media massa, media online, dan media sosial, masih ada kelompok masyarakat yang belum mengetahui program pemerintah. Karena itu kami menggandeng para PKL, UMKM, khususnya mlicjo, agar ikut menyosialisasikan program-program Pemkab Jember,” katanya.
Pada kesempatan itu, Fawait juga menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam memperkuat sektor ekonomi kerakyatan. Salah satu bentuk dukungan yang diberikan yakni penyaluran bantuan gerobak usaha kepada pedagang kaki lima dan pedagang keliling agar mereka dapat meningkatkan produktivitas usahanya.
Ia mengaku menerima respons positif dari para penerima manfaat. Menurutnya, kelompok pedagang keliling selama ini masih belum banyak tersentuh program bantuan pemerintah daerah sehingga akan menjadi salah satu prioritas yang dilakukan secara bertahap selama lima tahun ke depan.
“InsyaAllah lima tahun ke depan akan kita sentuh secara bertahap,” tegasnya.
Menanggapi adanya informasi bantuan gerobak yang diperjualbelikan melalui marketplace, Fawait menilai kasus tersebut hanya terjadi pada sebagian kecil penerima bantuan. Ia mengingatkan agar seluruh bantuan pemerintah dimanfaatkan sesuai tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, bukan diperjualbelikan.
Selain sektor ekonomi, Bupati Jember turut mengapresiasi inovasi pengelolaan sampah mandiri yang dikembangkan siswa SMP Negeri 1 Pakusari. Ia berharap langkah tersebut dapat menjadi contoh bagi sekolah, puskesmas, rumah sakit, hingga masyarakat dalam mendukung pengelolaan sampah yang lebih baik.
Fawait juga mengungkapkan bahwa Pemerintah Kabupaten Jember tengah menyiapkan investasi bernilai sekitar Rp1,5 triliun hingga Rp2 triliun di Kecamatan Pakusari yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2028. Menurutnya, kesiapan pengelolaan sampah menjadi salah satu aspek penting yang harus diselesaikan sebelum investasi tersebut berjalan.
Di sisi lain, persoalan krisis air bersih yang masih dihadapi sejumlah warga Pakusari juga menjadi perhatian pemerintah daerah. Pemkab Jember akan memetakan kebutuhan masyarakat bersama Muspika dan pemerintah desa untuk menyiapkan solusi jangka menengah maupun jangka panjang, termasuk kemungkinan pembangunan jaringan pipanisasi.
Fawait juga memastikan program Home Care telah memasuki tahap akhir persiapan. Program layanan kesehatan jemput bola tersebut dijadwalkan diluncurkan pada pekan ini setelah pelaksanaan apel kendaraan dan personel.
“Semangat kita adalah memberikan pelayanan jemput bola kepada masyarakat yang tidak mampu. Tidak hanya pengobatan gratis, tetapi juga membantu mereka yang kesulitan mengakses rumah sakit karena biaya transportasi. Kita akan mendatangi rumah mereka masing-masing,” pungkasnya.
Program Bunga Desaku diharapkan menjadi wadah komunikasi yang lebih dekat antara pemerintah dan masyarakat sehingga berbagai kebijakan daerah dapat berjalan lebih efektif serta menjawab kebutuhan warga secara langsung.
