Bondowoso – Ketahanan pangan tidak hanya dibangun dari luasnya hamparan sawah, tetapi juga melalui inovasi yang mampu meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan. Berangkat dari semangat tersebut, Pemerintah Kabupaten Bondowoso terus memperkuat komitmen mewujudkan swasembada pangan melalui pengembangan pertanian organik, penerapan teknologi modern, serta kolaborasi dengan berbagai lembaga pemerintah, perguruan tinggi, lembaga riset, dan kelompok tani.
Komitmen itu ditegaskan Bupati Bondowoso KH Abdul Hamid Wahid saat membuka kegiatan Sinergi Penguatan Ketahanan Pangan melalui Pengembangan Tanaman Pangan Berbasis Organik di Gapoktan Al Barokah, Desa Lombok Kulon, Kecamatan Wonosari, Senin (20/7/2026). Kegiatan tersebut dihadiri Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi, Kepala Balai Riset dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Jawa Timur, Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), jajaran pemerintah daerah, penyuluh pertanian, serta para petani sebagai bentuk sinergi memperkuat ketahanan pangan nasional dari tingkat daerah.
Dalam sambutannya, Bupati Abdul Hamid Wahid menjelaskan Bondowoso memiliki potensi besar di sektor pertanian. Kabupaten ini memiliki sekitar 35.093 hektare lahan pertanian, sementara lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B) mencapai kurang lebih 45 ribu hektare. Didukung kondisi geografis dataran tinggi dan iklim yang mendukung, Bondowoso menjadi salah satu sentra produksi pangan strategis di Jawa Timur.
“Pada tahun 2025, produksi padi Bondowoso mencapai sekitar 600 ribu ton. Capaian ini merupakan hasil kerja keras para petani, penyuluh pertanian lapangan, serta dukungan pemerintah daerah dalam meningkatkan produktivitas sektor pertanian,” ujar Bupati.
Sebagai bagian dari strategi menuju swasembada pangan, pemerintah daerah terus mengembangkan sistem pertanian organik yang lebih ramah lingkungan. Saat ini, luas lahan organik di Bondowoso telah mencapai sekitar 230 hektare yang tersebar di Desa Sulek, Desa Lombok Kulon, dan Desa Gadingsari. Pengembangan tersebut difokuskan pada produksi beras organik sebagai komoditas unggulan yang memiliki kualitas tinggi sekaligus memberikan nilai tambah bagi petani.
Menurut Bupati, keberhasilan pertanian organik tidak hanya ditentukan oleh luas lahan, tetapi juga melalui pendampingan berkelanjutan kepada petani. Upaya tersebut diharapkan mampu menjaga kesuburan tanah, meningkatkan kualitas hasil panen, serta memperkuat daya saing produk pertanian Bondowoso di pasar yang lebih luas.
Selain mengembangkan pertanian organik, Bondowoso juga memiliki komoditas unggulan Beras Sintanur Lembah Raung yang pada 2025 memperoleh Sertifikat Indikasi Geografis dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual. Pengakuan tersebut mempertegas kualitas, aroma, dan cita rasa khas beras yang dihasilkan dari kawasan vulkanik Lembah Raung, sekaligus membuka peluang pemasaran hingga tingkat nasional maupun internasional.
Modernisasi pertanian juga menjadi fokus pemerintah daerah melalui penerapan sistem tanam benih langsung (Tabela) yang telah digunakan oleh banyak petani. Metode tersebut dinilai mampu meningkatkan efisiensi budidaya, mengurangi biaya produksi, dan mempercepat masa tanam sehingga produktivitas lahan dapat terus meningkat.
Ke depan, Pemkab Bondowoso juga akan memperluas penerapan metode pertanian modern TM-AAS dengan dukungan penyuluh pertanian di setiap wilayah. Teknologi tersebut diharapkan menjadi solusi dalam menghadapi tantangan perubahan iklim sekaligus meningkatkan hasil produksi pertanian secara berkelanjutan.
“Adaptasi teknologi ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas padi secara signifikan sekaligus meningkatkan pendapatan petani. Kombinasi antara pengalaman petani dengan inovasi teknologi menjadi langkah penting menghadapi tantangan perubahan iklim dan meningkatnya kebutuhan pangan,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati juga berharap pemerintah pusat dapat memberikan dukungan melalui pembangunan rumah produksi, fasilitas pengolahan hasil pertanian, serta sarana penyimpanan pascapanen. Infrastruktur tersebut dinilai penting untuk meningkatkan efisiensi pengolahan hasil panen, mengurangi kehilangan hasil produksi, serta menciptakan nilai tambah bagi produk pertanian Bondowoso.
“Kami yakin dengan dukungan pemerintah pusat, Bondowoso dapat menjadi daerah percontohan dalam mengintegrasikan pertanian tradisional dengan teknologi modern. Pemerintah Kabupaten Bondowoso siap bersinergi menjalankan berbagai program untuk mewujudkan pertanian yang produktif, berkelanjutan, dan mendukung swasembada serta ketahanan pangan nasional,” pungkasnya.
Dengan potensi lahan yang luas, pengembangan pertanian organik, pemanfaatan teknologi modern, serta kolaborasi yang semakin kuat, Bondowoso optimistis mampu memperkuat posisinya sebagai salah satu lumbung pangan di Jawa Timur. Langkah tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan produktivitas pertanian, tetapi juga memperkuat kesejahteraan petani dan mendukung ketahanan pangan nasional dalam jangka panjang.
