Hafalan yang kokoh tidak dibangun sendirian. Jurus 28 mengingatkan bahwa dalam perjalanan menghafal Al-Qur’an, seorang guru bukan sekadar pengajar, tapi penjaga amanah wahyu. Melalui guru, hafalan menjadi rapi, bacaan terjaga, dan jalan menuju keberkahan terbuka.
Al-Qur’an diturunkan secara berantai—dari Rasulullah ﷺ kepada para sahabat, lalu diteruskan dari guru ke murid hingga hari ini. Maka, setiap hafidz perlu menyambung rantai itu dengan berguru.
“Berguru itu bukan pilihan, tapi kebutuhan bagi yang ingin menjaga hafalan dengan benar,” tegas Ustadzah Maulida, pembimbing tahfidz di sebuah Ma’had di Bogor. Ia menambahkan bahwa tanpa bimbingan guru, kesalahan bisa luput dari pengawasan.
Fungsi guru dalam tahfidz sangat penting. Mulai dari membetulkan makhraj dan tajwid, menilai ketahanan hafalan, hingga membantu murid membangun tempo yang sehat dalam setoran dan murojaah. Guru juga menanamkan adab sebelum capaian.
Namun, murid juga perlu meneladani gurunya. Bukan hanya dalam bacaan, tapi juga dalam sikap. Ketekunan guru dalam murojaah, kesabarannya membimbing, dan keikhlasannya menjadi cermin yang diam-diam membentuk muridnya.
Adab murid adalah pondasi yang tak kalah penting. Bersikap rendah hati saat dikoreksi, tidak mendebat bacaan, menjaga kehadiran, dan selalu mendoakan guru adalah bentuk hormat yang membuka pintu berkah ilmu.
Dengan guru, perjalanan tahfidz menjadi lebih jelas, lebih terang, dan lebih tenang. Kesalahan cepat terkoreksi, motivasi terjaga, dan semangat lebih kuat karena ditemani orang yang telah lebih dulu melalui jalan yang sama.
Karena sesungguhnya, menghafal Al-Qur’an bukan hanya menyimpan ayat dalam ingatan, tapi juga mewarisi ilmu dan adabnya dengan benar.
