Karanganyar – Harapan yang sempat menggantung akhirnya runtuh dalam duka. Yazid Ahmad Firdaus (26), pendaki asal Desa Gawanan, Kecamatan Colomadu, ditemukan dalam kondisi meninggal dunia setelah 24 hari dinyatakan hilang saat mendaki Bukit Mongkrang, Karanganyar. Jenazah Yazid ditemukan pada Selasa (10/2/2026) pagi, tersangkut di celah tebing sungai antara Bukit Mongkrang dan Bukit Mitis, wilayah dengan kontur terjal yang sulit dijangkau.
Pencarian terhadap Yazid dimulai sejak Senin (19/1/2026), sehari setelah ia dinyatakan hilang. Proses pencarian melibatkan tim SAR gabungan dari berbagai daerah, relawan, hingga organisasi pecinta alam yang bergantian menyusuri hutan, jurang, dan aliran sungai. Medan ekstrem dan cuaca tak menentu menjadi tantangan tersendiri bagi upaya pencarian yang berlangsung hingga lebih dari tiga pekan.
Jenazah Yazid ditemukan sekitar pukul 08.54 WIB oleh tim Wanadri yang tengah melakukan flying camp. Temuan ini menjadi akhir dari pencarian panjang yang menyita perhatian publik dan menyayat hati keluarga korban.
“Alhamdulillah Mas Yazid sudah ditemukan, meskipun kondisinya tidak seperti yang kita harapkan. Saya sudah berbincang dengan keluarga, dan mereka menyampaikan sudah ikhlas,” ujar Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, saat melayat ke rumah duka pada Selasa malam.
Kehadiran Sumarno ke rumah duka menjadi simbol empati dan dukungan dari pemerintah terhadap keluarga yang telah menanti dalam ketidakpastian. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh tim pencari, yang telah berjibaku di medan sulit tanpa mengenal lelah.
“Atas nama Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh relawan dan tim SAR. Dedikasi dan pengabdian mereka sungguh luar biasa,” tambahnya.
Sumarno menggarisbawahi pentingnya pembenahan sistem keselamatan dalam jalur-jalur pendakian yang ramai dikunjungi pendaki, terutama pemula. Bukit Mongkrang yang berada di bawah pengelolaan Pemprov Jawa Tengah disebutnya akan dievaluasi, termasuk terkait rambu jalur, titik rawan, dan pengawasan terhadap aktivitas pendakian.
“Kejadian ini harus menjadi pelajaran bersama. Keindahan alam mengundang pesona, tetapi juga menyimpan bahaya. Kami akan evaluasi menyeluruh dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan,” tegasnya.
Kepala Kantor Basarnas Surakarta, Kamal Riswandi, membenarkan bahwa jenazah Yazid ditemukan di lokasi yang sangat sulit dijangkau dan berada di zona curam. Menurutnya, penemuan tersebut merupakan hasil kerja keras semua pihak yang tak menyerah meski waktu terus berjalan.
Kini, keluarga Yazid hanya bisa merelakan kepergian sang putra tercinta. Isak tangis pecah saat jenazah tiba di rumah duka. Doa pun mengiringi kepergian Yazid, yang sempat menyita perhatian banyak orang dan menjadi simbol semangat solidaritas dalam pencarian di alam bebas.
