Mahulu – Di ujung perbatasan Indonesia-Malaysia, kemarau tidak hanya membuat Sungai Mahakam semakin dangkal. Bagi warga Kecamatan Long Apari, Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur surutnya air ikut membawa harga kebutuhan hidup melambung tinggi. Beras disebut mencapai Rp1 juta per karung, LPG 3 kilogram Rp750 ribu, sementara BBM menyentuh Rp35 ribu per liter. Di tengah kondisi tersebut, masyarakat kembali mempertanyakan kapan keterisolasian wilayah mereka benar-benar berakhir.
Long Apari masih sangat bergantung pada Sungai Mahakam sebagai jalur utama mobilitas masyarakat dan distribusi logistik. Ketika musim kemarau panjang menyebabkan debit air menyusut, kapal serta perahu pengangkut barang sulit melewati sejumlah riam dangkal. Hambatan itu membuat distribusi kebutuhan pokok terganggu dan biaya angkut meningkat tajam hingga akhirnya harus ditanggung masyarakat.
Dua pemuda asal Long Apari, Benediktus Sava dan Kornelius Zivan Lie Aran, menyuarakan keresahan warga terhadap persoalan yang terus berulang tersebut. Mereka menilai lonjakan harga kebutuhan pokok bukan semata akibat kemarau, melainkan berkaitan erat dengan keterbatasan infrastruktur transportasi yang membuat kawasan perbatasan masih bergantung sepenuhnya pada jalur sungai.
Bagi Benediktus, Sungai Mahakam bukan sekadar bentang air yang membelah pedalaman Kalimantan. Sungai itu adalah jalan utama bagi masyarakat untuk berladang, bepergian, hingga mendatangkan kebutuhan pangan dan bahan bakar dari luar wilayah.
“Sungai Mahakam adalah urat nadi transportasi kami. Mulai dari urusan pemenuhan pangan harian seperti pergi berladang menggunakan perahu ketinting, hingga angkutan logistik berskala besar yang dibawa dengan perahu longboat oleh pelaku usaha, semuanya melewati sungai”.
“Begitu debit air menyusut dan memicu riam dangkal yang sulit dilewati, jalur transportasi langsung lumpuh dan memutus aktivitas ekonomi masyarakat,” ujar Sava, Senin (10/8/2026).
Dampak dari terganggunya jalur sungai itu kini terasa langsung pada pengeluaran rumah tangga. Berdasarkan informasi terbaru dari lapangan, harga beras telah mencapai sekitar Rp1 juta per karung. LPG 3 kilogram bersubsidi yang di banyak daerah menjadi energi utama rumah tangga harus ditebus hingga Rp750 ribu. Sementara BBM yang dibutuhkan untuk menggerakkan perahu dan menunjang aktivitas warga dipasarkan hingga Rp35 ribu per liter.
Bagi keluarga yang tinggal jauh dari pusat kabupaten, kenaikan tersebut menjadi beban berat. Harga kebutuhan dasar bukan lagi sekadar soal mekanisme pasar, tetapi juga menggambarkan mahalnya ongkos keterisolasian. Setiap penurunan debit Sungai Mahakam dapat berarti pasokan berkurang, perjalanan semakin berisiko, biaya distribusi bertambah, dan harga barang di tingkat konsumen ikut melonjak.
Sava menilai situasi tersebut memperlihatkan masih lebarnya kesenjangan pembangunan infrastruktur dasar di kawasan perbatasan. Warga Long Apari, menurut dia, bukan hanya menghadapi persoalan harga pangan dan energi, tetapi juga keterbatasan akses kesehatan, pendidikan, serta jaringan komunikasi.
Ia pun mendesak pemerintah mempercepat pembangunan jalan darat yang menghubungkan pusat Kabupaten Mahakam Ulu menuju kawasan perbatasan, khususnya Kampung Long Apari. Jalur tersebut dinilai penting untuk menciptakan alternatif transportasi sehingga distribusi barang tidak sepenuhnya bergantung pada kondisi Sungai Mahakam.
“Jalur darat menawarkan kepastian distribusi logistik yang tidak bisa diberikan oleh sungai karena jalurnya bisa dirawat dan dikontrol oleh manusia. Dengan adanya jalur darat, ketergantungan pada faktor cuaca bisa dipangkas sehingga kestabilan harga kebutuhan pokok masyarakat dapat terjaga di setiap musim kemarau,” tegasnya.
Menurut Sava, pembangunan jalan darat juga menjadi simbol nyata pemerataan pembangunan. Bagi masyarakat di wilayah terluar, infrastruktur yang membuka akses tidak hanya mempersingkat perjalanan, tetapi juga dapat menurunkan ongkos distribusi dan memperbesar peluang memperoleh kebutuhan sehari-hari dengan harga lebih terjangkau.
Keresahan itu turut disampaikan Kornelius Zivan Lie Aran. Zivan menilai warga perbatasan selama ini harus menghadapi biaya hidup yang jauh lebih mahal dibandingkan masyarakat di kawasan perkotaan, sementara mereka tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan dari wilayah kedaulatan Indonesia.
“Kami anak perbatasan NKRI, bukan anak tiri. Long Apari adalah bagian sah dari kedaulatan negara ini. Namun setiap kali kemarau tiba, kami harus menghadapi krisis pangan dan harga yang tidak masuk akal. Selama ini kami tetap setia menjaga kelestarian hutan dan tapal batas negara agar Merah Putih tetap berkibar di ujung negeri,” kata Zivan.
Ia mempertanyakan distribusi subsidi pangan dan energi yang menurutnya belum sepenuhnya dirasakan masyarakat Long Apari. Ketika jalur logistik terputus atau terganggu, harga barang bersubsidi pun dapat melonjak jauh dari kemampuan daya beli warga.
“Di mana kehadiran negara saat kapal logistik tidak bisa masuk ke Mahakam? Di mana subsidi yang hakiki untuk rakyat saat warga perbatasan harus terbebani harga beras satu juta dan LPG 750 ribu? Kami hanya menuntut janji pembangunan yang berkeadilan,” lanjutnya.
Zivan menegaskan, masyarakat perbatasan tidak meminta belas kasihan. Mereka hanya menginginkan pelayanan dasar dan infrastruktur yang setara dengan warga negara lainnya. Alasan medan sulit, menurutnya, tidak boleh terus menjadi pembenaran atas keterlambatan pembangunan di wilayah yang secara geografis memang memiliki tantangan besar.
Jika ketergantungan terhadap jalur sungai terus berlangsung tanpa alternatif memadai, persoalan serupa berpotensi kembali muncul setiap musim kemarau. Harga kebutuhan pokok akan terus mengikuti tinggi rendahnya debit air, sementara masyarakat menjadi pihak yang paling dahulu merasakan dampaknya.
“Menjaga kesetiaan di tengah beban ekonomi yang berat ini adalah ujian moral yang besar bagi warga. Kami bukan meminta pisah, kami menuntut kehadiran negara secara utuh melalui pembangunan infrastruktur jalan darat dan pemenuhan hak-hak dasar yang layak,” pungkas Zivan.
Di Long Apari, mahalnya beras, LPG, dan BBM kini menjadi potret nyata kehidupan di ujung perbatasan. Di balik harga yang berkali-kali lipat lebih tinggi, terdapat warga yang setiap tahun harus menyesuaikan hidup dengan naik-turunnya Sungai Mahakam. Mereka berharap suatu hari kemarau hanya berarti musim kering, bukan lagi musim ketika kebutuhan pokok berubah menjadi barang mahal yang sulit dijangkau.
