Manis berbalut makna adalah kesan pertama saat mencicipi Babangko, kuliner tradisional khas Kalimantan Timur, khususnya dari wilayah Kutai. Kue ini tak hanya menggoda dari rasa, tapi juga menyimpan filosofi mendalam tentang kehidupan dan budaya.
Babangko, atau juga disebut Babungku dan Bobongko, terbuat dari adonan tepung beras, santan, gula merah, dan garam. Dalam variasinya, bisa juga ditambahkan rempah-rempah yang memberi rasa pedas ringan dan gurih. Teksturnya lembut dan kenyal, membuat kue ini cocok disantap di pagi hari sebagai sarapan ataupun disajikan dalam acara-acara besar.
Yang membuat Babangko istimewa adalah bentuk penyajiannya. Adonan kue dibungkus dengan daun pisang dan dibentuk seperti piramida, lalu diikat dengan lidi dan helai daun kelapa. Bentuk ini bukan hanya estetik, tetapi juga bermakna. Masyarakat Kutai percaya bahwa bungkus kue ini melambangkan pentingnya menyimpan rahasia dalam hidup—ada hal-hal yang tidak selalu harus ditunjukkan.
“Setiap kali ada acara adat atau pernikahan, Babangko pasti disuguhkan. Ini bukan hanya makanan, tapi juga warisan yang mempererat kebersamaan,” ujar Mak Ina, penjual kue tradisional di pasar Sangatta.
Babangko biasanya disantap dengan kuah manis berbahan santan dan gula, menambah kenikmatan dari rasa dasarnya yang sudah kaya. Kue ini bisa ditemukan di pasar-pasar tradisional di Kutai Timur dan sekitarnya, serta sering menjadi bagian dari ritual adat seperti beseprah—tradisi makan bersama di lantai yang melambangkan persatuan dan kerendahan hati.
Menariknya, bentuk dan nama Babangko juga dikenal di daerah lain, seperti Maluku Tengah dan Sumatera Barat (dikenal sebagai kue Bongko oleh masyarakat Palinggam), menandakan adanya benang merah antar budaya melalui jalur kuliner.
Bagi pecinta makanan tradisional, Babangko adalah bukti bahwa kelezatan sejati tidak hanya di lidah, tapi juga di hati—tertanam dalam budaya, nilai, dan simbol kehidupan.
