Cita rasa khas Kalimantan Timur hadir kuat dalam sepiring Ayam Cincane—hidangan tradisional yang membakar rasa sekaligus merekatkan budaya. Di Kutai Timur, sajian ayam bakar berbumbu merah ini bukan sekadar makanan, tetapi juga simbol penghormatan.
Ayam Cincane berasal dari resep turun-temurun masyarakat Kutai dan Banjar. Menggunakan ayam kampung sebagai bahan utama, daging dilumuri bumbu merah pekat dari kemiri, lengkuas, jahe, kunyit, dan cabai merah. Setelah dibakar perlahan, bumbunya meresap, menciptakan tekstur empuk dengan warna merah menyala menggoda.
“Ayam Cincane tidak hanya menggugah selera. Ia juga mengangkat martabat kuliner lokal di tiap sajian,” kata Chef M. Syahran, pemilik RM Cincane Dapur Etam di Sangatta Utara.
Dalam penyajiannya, Ayam Cincane dilengkapi nasi hangat, sambal tomat mentah, dan lalapan segar. Rasanya? Gurih, pedas, dan manis dalam harmoni yang pas. Di Kutim, menu ini hadir di berbagai momen penting seperti pernikahan adat, jamuan resmi, dan syukuran panen.
Bahkan, pepatah lokal menyebut: “Tamu datang, sambut dengan Cincane.” Hal ini menegaskan posisi Ayam Cincane sebagai bentuk penghormatan tertinggi dalam budaya masyarakat setempat.
Saat ini, beberapa rumah makan spesialis Ayam Cincane telah hadir, seperti Cincane Dapur Etam di Sangatta Utara, Cincane Panggang Kaliorang yang mengolah ayam dengan arang dan air kelapa, hingga Warung Makan Cincane Sahabat di Wahau dengan paket hemat Rp25.000.
Tak hanya di dapur tradisional, Ayam Cincane kini juga merambah pasar digital. Produk frozen food, nasi box, dan toples vacuum sealed sudah dijual di e-commerce. Bahkan, konten resepnya viral di TikTok Food Kaltim.
Dengan inovasi ini, generasi muda tetap bisa merasakan cita rasa rumah walau tinggal di kota besar.
Ayam Cincane bukan sekadar makanan. Ia adalah warisan rasa, pelestarian nilai, dan semangat gotong royong. Kuliner ini terus membakar semangat masyarakat Kutai Timur untuk menjaga tradisi sambil menjawab tantangan zaman.
