Solok – Malam yang semestinya tenang di Alahan Panjang berubah menjadi panggung bencana ketika hujan deras disertai angin kencang menggulung kawasan itu bak selimut kelam. Pepohonan tercabut, tanah bergerak tanpa henti, dan jalanan terputus seperti dicabik kekuatan yang tak terlihat. Dalam situasi mencekam tersebut, sebuah aksi berani dilakukan Anggota DPRD Kabupaten Solok, Hafni Hafiz, yang memilih menembus jalur penuh longsor pada Jumat (28/11/2025) demi menyelamatkan puluhan keluarga yang terjebak.
Kondisi genting itu berawal dari lima titik longsor yang memutus akses lingkar Alahan Panjang–Pakan Salasa. Sekitar 100 warga Jorong Batu Putiah terisolasi tanpa jalur keluar dan tanpa kepastian keselamatan. Setiap gemuruh tanah menghadirkan ancaman runtuhan baru, membuat waktu menjadi musuh paling mematikan. Di tengah situasi yang membuat banyak orang memilih berhenti, Hafni Hafiz justru bergerak mendekati sumber bahaya bersama aparat nagari, perangkat kecamatan, serta anggota TNI Koramil Lembah Gumanti, menggunakan kendaraan pribadinya yang dipaksakan menembus lumpur dan bebatuan.
“Kami berpacu dengan longsor. Titik-titik baru terus muncul. Kalau terlambat sedikit saja, ceritanya mungkin sudah berbeda,” ujar Hafni Hafiz.
Menurut Hafni, sesampainya di lokasi terisolasi, situasi jauh lebih buruk dari perkiraan. Anak-anak menggigil ketakutan, para lansia duduk terpaku di rumah yang retaknya kian melebar, sementara para ibu menangis karena tak mampu membawa bayi mereka keluar. Kondisi tanpa penerangan, hujan tak henti, serta tanah yang terus bergerak membuat proses evakuasi berubah menjadi pertaruhan nyawa.
Begitu menilai kondisi lapangan, Hafni Hafiz dan tim langsung bergerak tanpa menunggu bantuan tambahan. Mereka menyisir rumah demi rumah, menggendong anak kecil, memapah lansia yang hampir tak bisa berjalan, dan membantu ibu-ibu naik ke mobil seadanya. Dalam gelap pekat, suara runtuhan tanah menjadi penanda bahwa keselamatan tidak menunggu.
Proses evakuasi makin sulit seiring rute alternatif ikut melemah akibat curah hujan yang tinggi. Namun kegigihan rombongan penyelamat membuahkan hasil. Satu per satu warga berhasil keluar dari zona merah hingga total sekitar seratus jiwa dievakuasi malam itu. Puluhan keluarga akhirnya dapat menghirup napas lega meski rumah mereka masih terancam runtuh kapan saja.
Peristiwa di Batu Putiah menjadi pengingat bahwa bencana bukan hanya soal cuaca ekstrem atau kondisi geologi, tetapi juga tentang keberanian manusia membuat keputusan di detik paling genting. Keberanian itu, malam itu, ditunjukkan oleh Hafni Hafiz dan tim kecilnya, yang memilih bergerak ketika banyak pihak lain tak mampu menjangkau lokasi.
Dengan selamatnya seluruh warga yang terjebak, Alahan Panjang mencatat satu kisah bahwa di tengah badai dan longsor, keteguhan hati tetap bisa mengalahkan ketakutan.
