Samarinda – Sejarah bukan sekadar masa lalu yang dilupakan, melainkan cermin masa depan yang perlu ditatap. Hal itu ditegaskan Agusriansyah Ridwan, anggota Komisi IV DPRD Kalimantan Timur, saat menerima peserta Program Kader Pemimpin Muda Daerah (PKPMD) dari Dispora Kaltim di Gedung E DPRD Kaltim, Kamis (12/6/2025).
Dalam dialog bersama kader muda, Agusriansyah menekankan bahwa pemuda masa kini harus rendah hati dan belajar dari perjuangan para tokoh terdahulu, baik dari sejarah Islam maupun peradaban Yunani.
“Pemuda zaman sekarang jangan merasa lebih hebat dari pemuda zaman dulu. Kita harus banyak belajar dari tokoh-tokoh yang berjuang di usia muda,” katanya.
Ia mencontohkan keberanian Ali bin Abi Thalib, kesetiaan Zubair bin Awwam, hingga kepemimpinan Usamah bin Zaid di usia 17 tahun. Ia juga menyebut pahlawan Yunani seperti Herakles, Achilles, dan Odysseus, sebagai tokoh yang menggambarkan keberanian, ketangguhan, dan Kecerdasan pemuda.
Agusriansyah mengingatkan bahwa pemuda tidak cukup hanya dilihat sebagai aset dan potensi Negara dan Daerah tapi juga harus dilindungi dan difasilitasi secara nyata. Baik secara perlindungan hukum dan peraturan perundang -undangan dengan baik. Pembinaan dan Ruang pemberdayaan yang konkrit dalam kebijakan pemerintah. Bonus demografi, kata dia, tidak boleh berhenti pada slogan , tanpa aksesibilitas yang diberikan dengan baik dan tepat.
“Pemuda ini aset strategis. Harus ada perlindungan hukum, aktivitas produktif, dan inovasi nyata yang mendukung peran mereka dalam pembangunan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya pendataan pemuda secara komprehensif di semua kabupaten/kota di Kalimantan Timur. Menurutnya, tanpa database yang rapi, arah kebijakan kepemudaan akan berjalan tanpa sasaran jelas.
Agusriansyah menyebut beberapa sektor yang perlu difokuskan, mulai dari dukungan untuk petani milenial, manufaktur lokal, hingga organisasi kepemudaan pascatambang. Dukungan pembiayaan dari pemerintah daerah dan komunitas juga dinilai sangat krusial.
“Kalau tidak dipetakan sekarang, kita akan kehilangan momen besar saat Indonesia mengalami puncak bonus demografi,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa tahun 2030 menjadi momentum kritis menuju Indonesia Emas, dan pemuda harus siap menjadi penggerak bukan hanya penonton.
“Pemuda kita masih terjebak di gaya hidup konsumtif dan pencitraan. Kita butuh perubahan sikap, etos kerja, dan semangat produktivitas,” tambahnya.
Menutup pertemuan, Agusriansyah kembali mengajak pemuda agar menjadikan sejarah sebagai sumber inspirasi dan pijakan untuk melangkah ke depan.
“Sejarah adalah guru terbaik. Tanpa mengenalnya, kita akan mengulang kesalahan yang sama. Pemuda harus jadi ujung tombak pembangunan yang berkarakter dan berdaya saing,” tutupnya. (ADV).
