Kalimantan selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan hutan paling penting di dunia. Julukan “paru-paru dunia” melekat karena bentang hutannya yang luas dan perannya dalam menyimpan karbon, menjaga ekosistem, serta menjadi rumah bagi ribuan spesies. Namun, di balik julukan besar itu, ada kenyataan yang semakin sulit diabaikan, hutan Kalimantan terus menghadapi ancaman kebakaran dan deforestasi.
Setiap musim kemarau datang, cerita yang sama kembali muncul. Titik panas bermunculan di berbagai wilayah, asap mulai memenuhi udara, jarak pandang menurun, dan masyarakat harus berhadapan dengan kualitas udara yang memburuk. Langit yang seharusnya biru berubah menjadi kelabu. Aktivitas sehari-hari pun ikut terganggu.
Ironisnya, kawasan yang selama ini disebut sebagai paru-paru dunia justru harus berjuang untuk “bernapas”.
Ribuan Titik Api Menyebar, Kalimantan Kembali Diselimuti Asap
Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan bukan persoalan kecil. Pemantauan satelit dan laporan kebencanaan pada periode kebakaran menunjukkan munculnya lebih dari seribu titik panas yang tersebar di sejumlah wilayah. Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat termasuk kawasan yang kerap menjadi perhatian karena jumlah titik panasnya dapat meningkat tajam ketika kondisi cuaca sangat kering.
Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, hingga Kalimantan Utara juga tidak sepenuhnya terbebas dari ancaman. Ketika titik api muncul di banyak tempat secara bersamaan, persoalannya bukan lagi sekadar api di kawasan hutan. Dampaknya bisa menjalar ke permukiman, perkotaan, fasilitas umum, bahkan wilayah negara tetangga.
Salah satu dampak yang paling cepat dirasakan masyarakat adalah kabut asap. Partikel hasil pembakaran dapat menurunkan kualitas udara dan membuat aktivitas warga menjadi jauh lebih tidak nyaman. Dalam kondisi tertentu, kadar PM2,5 dapat meningkat hingga melewati batas yang dianggap aman.
PM2,5 sendiri merupakan partikel udara berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan. Karena ukurannya sangat kecil, keberadaannya tidak selalu terlihat secara kasatmata. Ketika konsentrasinya tinggi, udara yang dihirup masyarakat bukan lagi sekadar terasa pengap, tetapi berpotensi memberikan tekanan serius bagi kesehatan dan kualitas hidup.
Dampak kebakaran juga tidak berhenti di wilayah tempat api berasal. Asap dapat bergerak mengikuti arah angin dan menyebar ke daerah lain. Bahkan, dalam peristiwa kebakaran besar, kabut asap dari Kalimantan dapat mencapai Sarawak, Malaysia.
Di sinilah kita melihat bahwa kebakaran hutan bukan masalah lokal semata. Asap tidak mengenal batas kabupaten, provinsi, bahkan negara.
Lebih jauh lagi, persoalan ini bukan hanya tentang berapa banyak titik panas yang muncul di peta. Di balik setiap titik tersebut ada ekosistem, manusia, dan kehidupan liar yang ikut terdampak.
Kenapa Kebakaran Hutan Kalimantan Sulit Dikendalikan?
Ada dua faktor utama yang membuat kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan bisa berubah menjadi bencana besar, yaitu kondisi alam dan aktivitas manusia.
Faktor alam yang paling berpengaruh adalah musim kemarau panjang dan kondisi cuaca yang semakin kering. Fenomena seperti El Nino dapat memperparah kekeringan di sejumlah wilayah Indonesia. Ketika curah hujan menurun dalam waktu lama, vegetasi menjadi lebih kering dan mudah terbakar.
Masalahnya menjadi jauh lebih rumit ketika api masuk ke kawasan lahan gambut.
Gambut bukan tanah biasa. Lapisan organiknya menyimpan karbon dalam jumlah besar dan dapat terbentuk selama ribuan tahun. Ketika kondisinya basah, gambut relatif sulit terbakar. Namun, jika drainase membuat permukaannya mengering, risiko kebakaran meningkat drastis.
Api di lahan gambut juga terkenal sulit ditangani. Kobaran yang terlihat di permukaan belum tentu menunjukkan seluruh sumber api. Dalam kondisi tertentu, api dapat menjalar di bawah permukaan dan terus membara meski bagian atasnya tampak sudah padam.
Itulah sebabnya kebakaran gambut bisa berlangsung lama dan menghasilkan asap pekat dalam jumlah besar. Namun, cuaca kering bukan satu-satunya persoalan. Aktivitas manusia juga menjadi faktor penting yang tidak boleh dilewatkan.
Pembukaan lahan dengan cara membakar dapat menjadi salah satu pemicu kebakaran. Praktik tersebut dianggap lebih murah dan cepat dibandingkan metode pembukaan lahan tertentu, tetapi risikonya bisa sangat besar ketika api tidak terkendali atau kondisi lahan sedang sangat kering.
Alih fungsi hutan menjadi perkebunan, pertambangan, permukiman, maupun lahan terbuka juga mengubah kondisi ekologis kawasan. Ketika tutupan hutan berkurang dan sistem tata air terganggu, ekosistem menjadi lebih rentan menghadapi musim kering.
Karena itu, menyebut kebakaran hutan hanya sebagai akibat “musim kemarau” terasa terlalu sederhana. Cuaca memang bisa memperbesar risiko, tetapi cara manusia mengelola lahan ikut menentukan seberapa parah dampaknya.
Yang Hilang Bukan Cuma Hutan, Tapi Juga Rumah Ribuan Makhluk Hidup
Saat membicarakan kebakaran hutan, perhatian publik sering terpusat pada jumlah titik api, luas lahan terbakar, atau kualitas udara. Padahal, ada kerugian lain yang jauh lebih sulit dihitung, hilangnya habitat.
Kalimantan merupakan rumah bagi berbagai satwa ikonik, termasuk orangutan, bekantan, burung enggang, serta banyak spesies lain yang bergantung pada keberadaan hutan.
Ketika kawasan hutan terbakar, satwa kehilangan tempat mencari makan, berlindung, berkembang biak, dan berpindah. Tidak semua hewan mampu melarikan diri dari api yang menyebar dengan cepat. Sebagian mengalami luka, kehilangan sumber makanan, atau terpaksa masuk ke kawasan yang semakin dekat dengan permukiman manusia.
Bagi hutan sendiri, kehilangan tersebut juga tidak mudah dipulihkan. Satu kawasan hutan yang terbakar mungkin bisa terlihat hijau kembali setelah beberapa tahun. Namun, “hijau” tidak selalu berarti ekosistemnya sudah kembali seperti semula. Hutan alami terbentuk melalui proses yang panjang. Struktur vegetasi, kualitas tanah, hubungan antarspesies, dan keanekaragaman hayati membutuhkan waktu jauh lebih lama untuk pulih. Persoalan semakin besar jika kebakaran terjadi berulang kali.
Dalam dua dekade terakhir, Kalimantan mengalami tekanan deforestasi yang signifikan. Sebagian kawasan hutan berubah menjadi perkebunan, area pertambangan, lahan terbuka, maupun penggunaan lainnya.
Ketika hutan terus terfragmentasi, kemampuan ekosistem untuk mempertahankan keseimbangannya ikut melemah.
Kondisi tersebut menciptakan lingkaran yang sulit diputus. Hutan berkurang, lahan menjadi lebih terbuka, ekosistem gambut mengalami perubahan, musim kering datang, risiko kebakaran meningkat, lalu asap kembali menyelimuti wilayah sekitar.
Yang lebih mengkhawatirkan, siklus tersebut bisa dianggap sebagai sesuatu yang “biasa” karena terus berulang. Padahal, tidak ada yang normal dari hilangnya habitat satwa, rusaknya hutan tua, meningkatnya emisi karbon, dan memburuknya kualitas udara yang harus dihirup masyarakat.
Kita mungkin bisa mengganti atap rumah yang rusak akibat bencana. Namun, tidak semudah itu mengganti hutan yang telah tumbuh selama puluhan bahkan ratusan tahun.
Masih Bisa Diselamatkan? Ini yang Harus Dibenahi Sekarang
Menjaga Kalimantan tidak cukup dilakukan ketika asap sudah memenuhi kota. Pencegahan harus dimulai jauh sebelum titik api muncul.
Langkah pertama adalah penegakan hukum yang konsisten. Pembakaran lahan yang terbukti dilakukan secara sengaja atau karena kelalaian harus ditindak sesuai aturan. Pengawasan juga perlu diperkuat, terutama di kawasan yang memiliki risiko kebakaran tinggi.
Jika titik panas muncul di kawasan konsesi, perlu ada mekanisme pengawasan dan pertanggungjawaban yang jelas. Dengan begitu, pencegahan kebakaran tidak berhenti pada pemadaman, tetapi juga menyentuh sumber persoalannya.
Langkah berikutnya adalah memperbaiki tata kelola lahan gambut. Menjaga kelembapan gambut merupakan bagian penting dari pencegahan kebakaran. Pengelolaan tata air, pembasahan kembali area yang terdegradasi, serta pemulihan ekosistem perlu dilakukan secara konsisten.
Teknologi modifikasi cuaca juga dapat digunakan dalam situasi tertentu untuk membantu meningkatkan peluang turunnya hujan. Namun, metode tersebut bukan solusi ajaib. Kondisi atmosfer dan ketersediaan awan menjadi faktor yang sangat menentukan keberhasilannya.
Artinya, pencegahan tetap jauh lebih penting daripada hanya mengandalkan pemadaman ketika api sudah membesar.
Masyarakat juga punya peran. Memilih produk yang berasal dari rantai pasok yang lebih bertanggung jawab, mengurangi pemborosan, mendukung upaya konservasi, serta tidak membiarkan isu lingkungan menghilang setelah viral adalah langkah sederhana yang bisa dilakukan.
Yang tidak kalah penting adalah menjaga perhatian publik. Kebakaran hutan sering menjadi topik besar ketika kabut asap sudah terlihat di kota. Setelah hujan turun dan udara kembali membaik, perhatian pun ikut menghilang.
Padahal, musim hujan bukan berarti masalahnya selesai. Kalimantan membutuhkan kebijakan jangka panjang, pengawasan yang serius, pemulihan ekosistem, serta pembangunan ekonomi yang tidak menjadikan hutan sebagai korban utama.
Julukan paru-paru dunia seharusnya bukan sekadar kalimat indah dalam artikel wisata atau kampanye lingkungan. Julukan itu membawa tanggung jawab besar.
Hutan Kalimantan masih bisa dipulihkan dan dijaga. Namun, semakin lama kerusakan dibiarkan, semakin sulit pula proses pemulihannya. Kita tidak harus menunggu seluruh hutan terbakar untuk menyadari betapa berharganya kawasan ini. Sebab, ketika paru-paru dunia mulai sesak, yang terdampak bukan hanya pohon dan satwa di dalamnya.
Udara yang kita hirup juga ikut dipertaruhkan.
Oleh: Riyawan S,Hut
Pemerhati Sosial & Budaya
