Kutim – Badan Koordinasi Masjid dan Musholla (BKMM) Kutai Timur saat menggelar pelatihan muraqqi atau bilal di Masjid Keramat II, Jalan AW Syahrani KM 5,4, Sangatta Prima, Kecamatan Sangatta Utara, Minggu (16/8/2026). Kegiatan yang diikuti sekitar 50 peserta itu digelar sehari menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Pelatihan diikuti para bilal atau muraqqi di sejumlah masjid di Kutai Timur. Selain menjadi bagian dari kegiatan menyambut HUT RI ke-81 pada [17 Agustus 2026], agenda tersebut diarahkan untuk menyelaraskan pemahaman mengenai tata pelaksanaan tugas muraqqi agar koordinasi antara bilal dan khatib berjalan lebih tertib dan tidak menimbulkan kesalahpahaman saat khutbah Jumat berlangsung.
Ketua Panitia, Teguh Setiawan, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut diharapkan memberikan manfaat bagi seluruh peserta, terutama dalam meningkatkan pemahaman mengenai peran muraqqi di masjid. Panitia juga menghadirkan narasumber untuk memberikan penjelasan secara lebih terarah mengenai tata pelaksanaan yang dapat diterapkan di berbagai masjid.
“Mudah-mudahan kegiatan ini membawa keberkahan kepada kita semua,” ujar Teguh dalam sambutannya, Minggu (16/8/2026).
Menurutnya, pelatihan menjadi penting karena praktik pelaksanaan tugas bilal atau muraqqi di sejumlah tempat memiliki kebiasaan yang berbeda. Perbedaan latar belakang, tradisi, maupun pemahaman tersebut pada dasarnya tidak selalu menjadi persoalan, namun BKMM memandang diperlukan penyamaan tata pelaksanaan agar hubungan antara bilal dan khatib lebih terkoordinasi.
Ketua BKMM Kutai Timur, Muhyiddin Musthofa, mengatakan kegiatan tersebut sekaligus merupakan bentuk rasa syukur masyarakat dalam menyambut kemerdekaan Indonesia. Menurut dia, generasi saat ini dapat mengisi kemerdekaan melalui aktivitas positif, termasuk meningkatkan kualitas pelayanan dan pengelolaan kegiatan keagamaan di masjid.
“Ini adalah bentuk perjuangan kita, bentuk rasa syukur kita. Kita tidak perlu lagi berperang melawan penjajah, tapi hari ini kita mensyukuri kemerdekaan itu, salah satunya dengan melakukan agenda atau acara-acara yang positif,” kata Muhyiddin.
Ia menjelaskan, gagasan pelatihan muncul setelah ditemukan sejumlah kejadian ketika koordinasi antara khatib dan bilal dalam pelaksanaan salat Jumat belum berjalan selaras. Ada kondisi ketika khatib sudah bersiap memulai khutbah, sementara bilal masih melanjutkan bacaan. Sebaliknya, pernah pula bilal lebih dahulu memulai bagian tugasnya ketika khatib belum memberikan salam pembuka.
“Maka dari itu kami beserta teman-teman dan seluruh khatib yang tergabung dalam BKMM berpikir bagaimana kalau kita mengadakan pelatihan muraqqi untuk menyamakan persepsi supaya tidak terjadi miskomunikasi,” ujarnya.
Muhyiddin menegaskan perbedaan tersebut bukan semata-mata menyangkut sah atau tidaknya khutbah, melainkan lebih kepada ketertiban dan keserasian pelaksanaan ibadah. Dengan pelatihan, para bilal diharapkan memahami momentum yang tepat untuk menjalankan setiap bagian tugas sehingga tidak terjadi gerakan atau bacaan yang saling mendahului antara muraqqi dan khatib.
Saat ini, BKMM Kutai Timur juga mengoordinasikan jadwal khatib pada puluhan masjid. Koordinasi tersebut dinilai penting untuk membantu pengurus masjid memperoleh khatib setiap Jumat sekaligus mengantisipasi kekosongan petugas akibat perubahan jadwal, kesibukan, maupun komunikasi yang terlambat.
Muhyiddin menuturkan, pernah terjadi sebuah masjid tidak mendapatkan khatib pada hari Jumat karena miskomunikasi dalam penjadwalan. Pengalaman semacam itu menjadi salah satu alasan BKMM mendorong pengurus masjid memperkuat komunikasi dan koordinasi dengan organisasi tersebut.
“Harapannya nanti ke depan para pengurus masjid bisa berkoordinasi,” kata Muhyiddin.
Selain pelatihan muraqqi, BKMM Kutai Timur juga merencanakan agenda pelatihan manajemen masjid yang menyasar para pengurus. Materinya akan mencakup pengelolaan keuangan, manajemen jamaah hingga strategi menjadikan masjid sebagai tempat yang ramah bagi anak dan nyaman bagi masyarakat.
Muhyiddin mengatakan masjid tidak hanya perlu ramai oleh jamaah, tetapi juga mampu menjadi ruang yang menghadirkan ketenangan dan memiliki pengelolaan yang baik. Anak-anak, menurut dia, juga perlu diarahkan agar dapat ikut memakmurkan masjid tanpa mengganggu kekhusyukan jamaah lainnya.
Pembina BKMM Kutai Timur, Dr. K.H. Sobirin Bagus, M.M., turut mengapresiasi kerja sama para pengurus masjid yang tetap berjalan bersama BKMM dalam mengatur kebutuhan khatib dan penyelenggaraan salat Jumat. Ia menekankan pentingnya komunikasi aktif antara pengurus masjid dengan khatib yang mendapatkan jadwal bertugas.
“Mengingatkan itu satu, supaya kita merasa semangat akan berangkat. Yang kedua memastikan bahwa di sana tidak ada dobel petugas,” ujar Sobirin.
Sobirin menyampaikan apresiasi kepada para pengurus masjid yang selama ini tetap berjalan bersama BKMM dalam mengatur kebutuhan khatib dan penyelenggaraan salat Jumat. Menurutnya, kekompakan tersebut perlu terus dipelihara karena pengaturan jadwal khatib membutuhkan ketelitian sekaligus komunikasi yang aktif.
“Mengingatkan itu satu, supaya kita merasa semangat akan berangkat. Yang kedua memastikan bahwa di sana tidak ada dobel petugas,” ujar Sobirin.
Ia menilai pengingat dari pengurus masjid kepada khatib tidak seharusnya dipandang sebagai hal sepele. Konfirmasi jadwal justru dapat memberikan kepastian bagi khatib bahwa dirinya benar-benar ditunggu untuk menjalankan tugas, sekaligus menghindari kemungkinan terjadinya dua petugas yang hadir dalam satu jadwal.
Sobirin menceritakan pengalamannya ketika mendapatkan tugas khutbah di salah satu masjid. Karena tidak mendapat pengingat dari pengurus, ia sempat merasa ragu apakah jadwal tersebut masih berlaku atau sudah digantikan petugas lain. Keraguan baru hilang setelah ia tiba di masjid dan melihat namanya masih tercantum pada papan jadwal khatib.
Pengalaman serupa, menurutnya, pernah terjadi ketika ia datang ke sebuah masjid untuk melaksanakan tugas khutbah, tetapi ternyata sudah ada khatib lain yang hadir dan ditugaskan. Kondisi seperti itu menunjukkan bahwa komunikasi antara pengurus dan petugas perlu diperkuat agar tidak muncul jadwal ganda.
Bagi Sobirin, koordinasi tidak hanya berkaitan dengan kenyamanan khatib. Lebih penting lagi, komunikasi yang baik menjadi bagian dari upaya memastikan ibadah Jumat dapat berlangsung sesuai rencana dan tidak terganggu akibat kekosongan maupun tumpang tindih petugas.
Sobirin juga mengingatkan besarnya tanggung jawab organisasi dalam membantu masjid memenuhi kebutuhan khatib. Puluhan masjid selama ini berkoordinasi dengan BKMM terkait jadwal khutbah Jumat sehingga kesiapan para khatib perlu terus dipastikan.
“Artinya, setiap hari Jumat, kami harus memastikan khatib itu stand by dan siap hadir untuk menunaikan tugasnya sebagai khatib. Oleh karena itu mohon kerja samanya, karena kesibukannya kadang-kadang kita ini lupa,” Tutup Sobirin.
