Jakarta – Kursi pelatih Timnas Indonesia mulai terasa seperti berada di atas “bara” setelah perjalanan Garuda di Piala AFF 2026 berakhir lebih cepat. John Herdman kini menghadapi sorotan menyusul kegagalan Indonesia menembus semifinal, sementara agenda regional berikutnya disebut-sebut dapat menjadi panggung penting untuk mengukur keberhasilan pelatih asal Inggris tersebut bersama skuad Merah Putih.
Indonesia mengawali Piala AFF 2026 dengan hasil meyakinkan. Garuda menang telak 5-1 atas Kamboja dan kemudian menundukkan Timor Leste 3-0. Dua kemenangan tersebut sempat membuka harapan Indonesia melaju jauh dalam turnamen. Namun, situasi berbalik setelah skuad Herdman kalah 0-3 dari Vietnam di Stadion Pakansari. Pada pertandingan penentu melawan Singapura, Indonesia yang membutuhkan kemenangan justru hanya bermain imbang 1-1 sehingga gagal mengamankan tiket ke semifinal.
Rangkaian hasil tersebut membuat Herdman menjadi salah satu pihak yang mendapatkan perhatian besar. Sebagai pelatih kepala, ia memegang tanggung jawab dalam menentukan strategi, komposisi pemain, dan pendekatan permainan. Kegagalan pada turnamen kawasan ASEAN kemudian memunculkan spekulasi mengenai masa depannya bersama Timnas Indonesia.
Radar Cirebon menilai ajang yang mereka sebut sebagai FIFA ASEAN Cup 2026 dapat menjadi kesempatan berikutnya bagi Herdman untuk membuktikan kualitasnya. Dalam laporan itu, kompetisi disebut dijadwalkan berlangsung pada 21 September hingga 6 Oktober 2026, dengan Indonesia dikabarkan menjadi tuan rumah Divisi Premier dan berada satu grup bersama Malaysia.
Turnamen tersebut juga dipandang penting karena Indonesia berpotensi kembali berhadapan dengan kekuatan utama Asia Tenggara. Vietnam dan Thailand menjadi dua tim yang disebut dapat menjadi lawan berat apabila Garuda mampu melangkah hingga babak akhir. Kondisi itu membuat pertandingan regional berikutnya berpotensi menjadi ujian bagi Herdman setelah hasil mengecewakan di Piala AFF.
Meski demikian, anggapan bahwa Herdman pasti diberhentikan apabila kembali gagal masih merupakan spekulasi, bukan keputusan resmi PSSI. Sumber yang menjadi dasar pemberitaan menyebut pemecatan sebagai kemungkinan jika performa buruk berlanjut. Belum terdapat pernyataan resmi PSSI dalam laporan tersebut yang memastikan adanya ultimatum bahwa nasib Herdman akan ditentukan hanya berdasarkan satu turnamen.
Herdman sendiri masih disebut terikat kontrak dengan Timnas Indonesia hingga 2028. Dengan demikian, perubahan di kursi pelatih tentu akan berkaitan dengan kontrak yang sedang berjalan apabila PSSI suatu saat mengambil keputusan berbeda. Radar Cirebon menyebut federasi secara teoritis dapat mengakhiri kerja sama lebih cepat dengan konsekuensi terhadap sisa kontrak, tetapi laporan tersebut tidak mengutip keputusan resmi PSSI mengenai langkah tersebut.
Tekanan terhadap Herdman tidak terlepas dari ekspektasi besar yang mengikuti Timnas Indonesia. Kemenangan telak atas Kamboja dan Timor Leste menunjukkan Garuda mampu tampil dominan menghadapi lawan tertentu. Namun, kekalahan dari Vietnam serta hasil seri dalam laga hidup-mati kontra Singapura memperlihatkan bahwa konsistensi masih menjadi persoalan yang harus dibenahi.
Hasil di Piala AFF juga memberikan pekerjaan rumah dari sisi taktik. Herdman perlu menemukan formula yang membuat Indonesia tidak hanya efektif menghadapi tim yang berada di bawah tekanan, tetapi juga mampu merespons lawan kuat dan situasi pertandingan yang mewajibkan kemenangan. Hal tersebut akan menjadi salah satu tolok ukur perkembangan Garuda pada pertandingan internasional berikutnya.
Sorotan terhadap Herdman juga perlu ditempatkan secara proporsional. Satu turnamen memang dapat menjadi indikator performa, tetapi keputusan mengenai posisi pelatih pada akhirnya berada di tangan PSSI. Hingga Rabu (12/8/2026), pemberitaan mengenai kemungkinan pemecatan Herdman masih berupa proyeksi terkait konsekuensi apabila hasil buruk berulang, bukan pengumuman resmi bahwa PSSI telah menetapkan ultimatum tertentu.
Selain itu, penelusuran pada kanal resmi FIFA belum menemukan konfirmasi yang mendukung seluruh detail mengenai kompetisi bernama “FIFA ASEAN Cup 2026” sebagaimana disebut dalam laporan Radar Cirebon. Karena itu, detail format, status turnamen, hingga jadwal yang beredar perlu tetap diperlakukan sebagai informasi yang memerlukan konfirmasi lebih lanjut dari FIFA, AFF, atau PSSI.
Bagi Herdman, tantangannya kini jelas: membangun kembali kepercayaan setelah Garuda tersingkir dari Piala AFF 2026. Hasil pertandingan berikutnya berpotensi memperbesar atau meredakan tekanan terhadap dirinya. Namun, selama belum ada keputusan resmi dari PSSI, masa depan pelatih Timnas Indonesia tersebut belum dapat dipastikan hanya berdasarkan spekulasi mengenai hasil satu kompetisi.
